Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Mengaku Salah


__ADS_3

Raya mendatangi kediaman Artama, ia ingin berbicara kepada saudara sambungnya itu. Keduanya duduk di taman belakang sambil menikmati teh di sore hari.


"Kenapa kau memperpanjang kontrak dengan wanita itu?"


"Penjualan produk Arta Fashion cukup meningkat walau tidak sehebat diriku yang menjadi modelnya," jawab Clarissa bangga.


"Tapi wanita itu mencoba merayu para suami kita," Raya masih kesal dengan Intan.


"Aku tahu, Raya. Tapi kami harus profesional juga, dia cukup berbakat dan menarik pelanggan," jelas Clarissa.


"Bagaimana jika dia berulah lagi?"


"Kami sudah mengajukan syarat kepadanya, sepertinya ia sangat membutuhkan kontrak ini," Clarissa menyesap tehnya. "Silahkan diminum!" mempersilakan Raya.


Raya mengambil secangkir teh lalu meminumnya, "Wanita itu memang tidak punya rasa malu!" meletakkan cangkir.


"Kita lihat saja dalam waktu enam bulan ke depan, jika ia membuat masalah. Aku akan memutuskan kontrak tanpa seizinnya," ujar Clarissa.


...----------------...


Beberapa hari kemudian....


Intan begitu semangat mendatangi Arta Fashion, ia berjanji akan bersikap profesional. Karirnya akan hancur jika ia berani melakukan kesalahan.


Beruntung sikapnya menggoda suami orang tidak tercium media. Jika itu terjadi, alhasil masa depan di dunia hiburan hancur berantakan.


Kini ia dan manajernya berada di ruangan rapat. Kali ini Clarissa yang akan memimpin. Devan sepenuhnya menyerahkan keputusannya kepada istrinya.


"Apa kau sudah membaca kontraknya?" Clarissa bertanya pada Intan.

__ADS_1


"Sudah, Nona!" jawabnya.


"Pemotretan akan dilakukan esok hari," ujar Clarissa sambil melihat jam di ponselnya.


"Iya, Nona!" Intan tersenyum senang.


"Apa dia masih lama, Hilman?" Clarissa menatap sekretaris Presdir.


"Manajernya tadi mengirimkan pesan kalau mereka sudah berada di pintu masuk parkiran," jawabnya.


"Ya, sudah." Clarissa kembali mengarahkan pandangannya kepada para peserta rapat.


"Maaf, Nona. Memangnya siapa pasangan saya?" tanya Intan.


"Kau belum tahu?" tanya balik.


"Dia Dion Bastian yang akan menjadi pasanganmu," jelas Clarissa.


"Kenapa harus dia Nona?" tanya Intan lagi.


"Di sini yang berhak memilih model itu saya," jawab Clarissa.


"Tapi, Nona...."


"Selamat pagi!" sapa Dion mengetuk pintu. Setelah mendapatkan izin, pria itu dan manajernya duduk bergabung dengan yang lainnya. "Maaf, saya terlambat!" Ia menundukkan sedikit kepalanya dihadapan Clarissa.


"Ini pertama dan terakhir kau terlambat!" Clarissa memberikan peringatan pada Dion.


"Baik, Nona!"

__ADS_1


Clarissa memulai rapatnya, Intan hanya bisa tersenyum kecut saat tahu pasangan di iklan adalah Dion. Pria yang ingin ia hindari.


"Saya harap kalian berdua bisa bersikap profesional dan bekerja sama dengan baik," pinta Clarissa.


"Baik, Nona!" ucap Dion dan Intan bersamaan.


Clarissa tersenyum kepada dua modelnya. "Sampai jumpa besok pagi!" ia pun berlalu.


Dion melemparkan senyuman ke arah Intan, namun wanita itu segera membuang wajahnya.


Intan bergegas meninggalkan ruangan.


......................


Raya datang berkunjung ke Arta Fashion, selain ingin bertemu dengan Clarissa. Mereka ingin melakukan kerja sama.


Ia mempercepat langkahnya saat melihat Intan yang baru saja memasuki gedung. "Kau masih punya wajah di sini, ya!" sindirnya.


"Maksud anda apa, Nona Raya?" Intan menatap wanita di sampingnya.


"Setelah berani menggoda suami Clarissa dan suamiku, kau berani datang mengemis pekerjaan di Arta Fashion lagi," jawab Raya.


"Hei, Nona. Saya mengaku salah, tapi bisa tidak mulutnya dijaga," cetus Intan.


"Aku tidak salah dengar," sindir Raya. "Harusnya kau yang jaga sikap, agar tidak di tendang lagi dari sini!" Raya tersenyum mengejek kemudian berlalu.


Intan mendengus kesal.


Dion yang tadi mendengar percakapan dua wanita itu, mendekati Intan yang tampak kesal. "Ternyata kau di kontrak Arta Fashion karena mengemis, kasihan sekali!"

__ADS_1


__ADS_2