Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Pria Menakutkan Masa Lalu


__ADS_3

Devan meraih tangan istrinya dan menarik kursi yang ada di sampingnya lalu mendorong dengan pelan istrinya agar duduk. "Tadi dia menghampiriku, mau mengajak makan siang bersama," berkata jujur.


"Kau tidak menerima tawarannya, kan?"


"Aku hanya mau menerima tawaran seperti itu cuma


dari dirimu saja," Devan memegang wajah Clarissa dengan tangan kanannya.


"Aku percaya dengan dirimu," Clarissa menampilkan senyumnya.


"Terima kasih," Devan mengulas senyum. "Apa pekerjaanmu hari ini sudah selesai?"


"Nanti sore di Mall Cahaya jumpa penggemar."


"Aku temani, mau?" Devan menawarkan.


Clarissa dengan cepat mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, aku sudah lapar. Apa kau hari ini membawakan makanan untukku?"


"Aku tidak memasak, kita makan di luar saja!"


"Baiklah," Devan beranjak berdiri disusul Clarissa.


Sepanjang menuju mobil, Intan mengoceh dalam hati. Ia tak bisa mendekati Devan Artama.


"Pasti tidak berhasil mendekatinya, kan?" sindir manajer Intan sesampainya sang model di dalam mobil.


"Suatu hari dia pasti ku dapatkan," jawabnya bangga.


"Intan, sampai kapan kau akan mengejarnya?"


"Aku tidak akan berhenti, walau dia menolakku."

__ADS_1


"Lebih baik hentikan kegilaan dirimu, dari pada kau menyesal dan karirmu hancur," Manajer Intan mengingatkan.


......................


Siang ini Clarissa menikmati makan siang bersama suami dan kedua temannya. Baru saja duduk ia izin pada ketiganya untuk ke toilet.


Selesai dari toilet, Clarissa tak sengaja menyenggol seorang pria. "Maaf!" sedikit menunduk kepalanya.


"Clarissa Ayumi!" sapa pria itu tersenyum.


Yang di sapa mendongakkan kepalanya, Clarissa pun membalas dengan tersenyum.


"Kau masih cantik seperti dulu, ya!"


"Maaf, siapa ya?" Clarissa bertanya tetap dengan ramah.


"Kau tidak mengingat ku," Pria itu tersenyum menyeringai.


"Maaf saya tidak ingat."


Secepat mungkin Clarissa memundurkan kakinya selangkah.


"Apa kau sudah ingat?" Pria itu tersenyum jahat.


Clarissa bergegas pergi meninggalkan pria itu. Wajahnya tampak pucat, di meja makan ia menenggak air putih terburu-buru sampai habis membuat suami dan kedua temannya menatap heran.


"Rissa, apa yang terjadi?" Devan memberikan tisu kepada istrinya.


"Aku tidak apa-apa," jawab Clarissa dengan gemetar.


"Kalau sakit kita pulang saja," tawar Tina.


"Tidak, aku baik-baik saja. Kita lanjut makan lagi," ujar Clarissa.

__ADS_1


Pria yang ditemui Clarissa, duduk di meja tak jauh darinya.


Selesai makan, Clarissa mengajak suaminya bergegas pergi dari restoran.


Sesampainya di mobil, Devan kembali bertanya, "Kau kenapa?"


"Van, aku takut!" Wajah Clarissa berubah, ia mulai menangis.


"Takut kenapa?" tanya Devan.


Bukannya menjawab, Clarissa malah diam.


"Rissa!" panggil Devan.


"Kita pulang sekarang!"


"Rissa, kau belum jawab pertanyaan ku. Kenapa takut?" desak Devan.


"Tidak apa, Van."


"Rissa!" Devan meninggikan suaranya. "Kenapa takut? Apa ada seseorang yang menyakitimu?" cecarnya.


"Nanti dia akan menyakiti Devan, aku tak boleh memberi tahu ini," dalam hati Clarissa.


"Rissa!" panggil Devan sekali lagi.


"Kita pulang sekarang," ajak Clarissa berusaha tersenyum.


Devan melajukan kendaraannya menuju rumah, di dalam perjalanan pandangan istrinya tertuju pada jalanan saja. Hal itu membuat dirinya curiga. "Apa yang terjadi padanya?"


Sesampainya di rumah, Clarissa berjalan lebih dulu dari pada suaminya. Ia ke kamar mandi, di dalam ia terduduk di lantai mendekap lututnya.


Devan mengetuk pintu, "Kau tidak apa-apa 'kan?" pertanyaan yang sama saat di restoran sampai di rumah.

__ADS_1


Clarissa keluar kamar mandi, "Aku hanya kebelet buang air!" Ia tak ingin suaminya semakin curiga.


__ADS_2