Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.3


__ADS_3

Kabar duka cita datang dari keluarga besar Artama. Dua bulan pasca Clarissa melahirkan, Oma Fera pergi untuk selama-lamanya.


Devan terus menangis, di samping pusara wanita yang selama ini merawat dirinya dari kecil. Clarissa yang berada disebelahnya mendekap erat tubuh suaminya. Sembari menghapus air matanya yang menetes.


"Oma, aku menyayangimu!" ucap Devan lirih.


"Rissa, kami turut berduka cita." Tina mewakili teman yang lainnya berbicara. "Kau dan Devan, semoga tabah menghadapinya," lanjutnya.


"Terima kasih," Clarissa berkata dengan lirih.


Raisa yang berada di pelukan Raya, terus menangis dan memanggil nama Oma Fera.


Sementara Claudia menggendong cucunya yang bayi dari Clarissa dengan mata berkaca-kaca.


Satu persatu pelayat meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Oma Fera. Devan masih belum beranjak dari tempatnya jongkok, ia terus tertunduk lemas.


"Sayang, ayo kita pulang!" bujuk Clarissa.


"Aku mau menemani, Oma!" ucapnya terisak.


"Sayang, Oma sudah tenang sekarang. Dia tidak sakit lagi, kau harus ikhlas melepasnya."


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Rissa." Berkata dengan suara gemetar.


"Ada aku dan anak-anak, lihatlah kami. Apa kau tidak mencintai kami?" Clarissa menangkup wajah suaminya dan menatapnya sendu.


Devan memeluk tubuh istrinya dan menangis di dadanya.

__ADS_1


Clarissa membelai rambut Devan dengan berlinang air mata. "Kau jangan terus terpuruk seperti ini, aku dan anak-anak butuh dirimu!"


Devan mendongakkan kepalanya, lalu menghapus air matanya. Kemudian ia beranjak berdiri, sejenak menatap pusara orang terkasihnya. "Oma, titip salam ku pada kedua orang tuaku!"


Clarissa merangkul lengan suaminya, berjalan pelan meninggalkan pemakaman.


Sesampainya di rumah, beberapa keluarga dan saudara belum pulang untuk sementara mereka menginap sampai beberapa hari.


Devan terdiam dan melamun di ranjang kamar. Tatapannya begitu kosong.


Clarissa menghampiri suaminya dan membawakan makanan untuknya. "Dari tadi pagi kau belum makan," Ia mengangkat sendok mengarahkannya ke mulut Devan.


"Aku tidak berselera," ucapnya lirih.


"Makanlah sedikit," bujuk Clarissa.


"Hai, sayang!" Devan mengecup pucuk kepala putrinya.


"Papa, jangan menangis lagi. Raisa jadi ikutan sedih," ujarnya dengan wajah polosnya.


Devan membelai rambut putrinya. "Papa tidak akan sedih lagi," ia tersenyum.


"Iya, sayang. Papa kamu tidak akan sedih lagi," sahut Clarissa. "Kamu sudah makan, Nak?" tanya lembut pada Raisa.


"Aku mau makan bersama Papa," jawabnya.


"Kalau begitu, Mama akan suapi kalian berdua," Clarissa mengarahkan sendok ke mulut putrinya.

__ADS_1


Raisa membuka mulutnya dan mengunyah makanannya, begitu juga dengan Devan.


Clarissa tersenyum melihat putrinya dan suaminya, saling bercanda sejenak melupakan kesedihan.


...****************...


Seminggu setelah kepergian Oma Fera, keluarga yang lainnya mulai kembali ke rumah mereka masing-masing.


Kini tinggal, Claudia dan Ardian yang masih menemani Devan dengan keluarga kecilnya. Tiga hari yang lalu orang tua Clarissa sempat kembali ke Kota B namun kembali lagi ke Kota A hanya untuk menemani anak, menantu dan cucunya.


"Oma, Opa, Raisa punya teman laki-laki orangnya tampan sekali," ocehnya.


"Masih kecil sudah bicara tentang anak laki-laki," Claudia tersenyum menatap cucunya.


"Kamu itu sekolah saja dulu yang benar, biar bisa bantu Papa di kantor," nasehat Clarissa.


"Benarkah itu, Pa? Nanti kalau Raisa besar bisa bantu Papa kerja?" tanyanya menunjukkan wajah lucunya.


"Iya, sayang," jawab Devan tersenyum.


"Opa, kalau Raisa sudah besar masih bolehkan main-main di wahana bermain?" Kali ini tatapannya ke arah Ardian.


"Iya, Raisa. Kamu boleh main sepuasnya di wahana bermain tempat Opa," jawabnya.


"Makasih, Opa!" ucap Raisa tersenyum senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen 😊


__ADS_2