
Begitu sampai di rumah, Raisa menangis sesenggukan di pelukan mamanya.
"Ada apa? Kenapa Raisa menangis?" tanya Clarissa.
"Putrimu sudah tidur bersama pria itu!" jawab Devan dengan lantang.
"Apa benar, Nak?" Clarissa bertanya lembut.
"Itu tidak benar, Ma. Pakaian yang ku gunakan masih tetap sama." Mencoba menghapus air matanya.
"Tapi, kalian berdua sudah tinggal serumah dan kamu juga mabuk," Devan semakin emosi.
"Ma, aku hanya minum sedikit. Kebetulan Eza menolongku," jelas Raisa pada Clarissa.
"Pa, jangan seperti ini. Eza hanya berniat membantu putri kita," ujar Clarissa.
"Darimana kamu tahu kalau pria itu hanya membantu? Bagaimana jika dia sudah berani menyentuh putri kita?"
"Aku percaya pada putriku," jawab Clarissa.
"Kalian sama saja, mulai hari ini Papa akan mengusirnya dari Arta Fashion," Devan berkata lantang.
Raisa mendekati Devan memegang tangannya. "Pa, tolong jangan lakukan itu!" mohonnya.
"Jika tidak ingin dia pergi, kamu harus mengundurkan diri jadi model pendamping dan jalankan kantor cabang kita di luar negeri," Devan memberikan pilihan.
"Raisa akan mengundurkan diri dan ke luar negeri," ia menerima tawaran papanya.
"Mama tidak setuju kamu ke luar negeri," Clarissa menolak keinginan suaminya.
"Kalau begitu, pria itu harus pergi. Pilihan ada di tanganmu!" Devan pun berlalu meninggalkan istri dan putrinya.
__ADS_1
......................
Dua hari kemudian Arta Fashion kembali rapat tanpa dihadiri Raisa melainkan perwakilannya saja.
Rapat membahas pergantian model pengganti yang selama ini menggunakan jasa wakil Presdir.
"Kenapa Nona Raisa diganti?" tanya Eza.
"Karena Nona Raisa akan mengurus cabang kita di luar negeri," jawab salah satu staf Arta Fashion.
Eza terdiam mendengar penjelasan karyawan tersebut.
Dan hari ini juga Eza melakukan pemotretan tanpa kehadiran Raisa sebagai model atau wakil Presdir yang biasanya akan memantau dan melihat jalannya proses syuting beserta lainnya.
Selesai pemotretan, Eza pulang. "Kenapa harus dia yang pergi?"
Diparkiran Eza melihat Raisa berjalan mendekati mobilnya. Ia pun bergegas menghampirinya, "Nona!"
Raisa berhenti dan menoleh, ia tersenyum. "Eza!
Raisa tersenyum, "Ini semua demi kebaikan kita. Oh ya, aku mau berterima kasih padamu telah membantuku walau akhirnya kesalahpahaman terjadi."
"Jangan pergi!" pintanya. "Biarkan saja aku yang pergi," lanjutnya.
"Aku pergi mengurus perusahaan di sana, karirmu sedang melesat. Jadi, tetaplah menjadi bagian Arta Fashion walaupun kontrakmu segera berakhir."
"Nona, maafkan aku. Karena ku dirimu harus mengambil keputusan ini," ucapnya.
"Keputusan ini sudah diambil dari jauh hari, jangan menyalahkan dirimu," ujar Raisa tersenyum. "Oh, ya. Aku harus pulang untuk mempersiapkan semuanya," lanjutnya. Raisa menaiki mobilnya dan meninggalkan gedung Arta Fashion.
Eza menatap mobil Raisa dari kejauhan.
__ADS_1
Lita menepuk bahu Eza, "Kau di sini rupanya!"
Eza sekilas menoleh lalu berjalan ke mobilnya.
-
-
Menjelang malam hari, Eza pulang dengan wajah lesu. Kirani sudah menunggunya di depan pintu, menyapanya dengan senyuman.
Namun, Eza memilih tak membalas senyuman itu. Biasanya dia begitu semangat bila bertemu dengan wanita itu sebelum kata perpisahan terucap.
"Eza, aku sudah menunggumu sejam. Kenapa tidak menjawab dan membalas pesanku?"
"Aku sedang sibuk, Rani." Membuka pintu apartemennya.
Kirani ikut masuk ke dalamnya, "Sesibuk apapun dirimu, biasanya selalu mengabariku."
"Rani, aku sudah katakan padamu kalau sedang sibuk. Apa kamu tidak bisa mengerti?" bentaknya.
Mata Kirani tampak berkaca-kaca, "Kamu membentak ku!" dengan bibir bergetar.
"Rani, aku minta maaf. Tapi, bisakah kamu pergi dari sini," pintanya tanpa menatap sembari memijit pelipisnya.
"Kamu sekarang berubah, Za. Apa karena wanita itu?" tuduh Kirani.
"Ini tidak ada hubungannya dengannya!" berusaha berbicara tenang.
"Sejak mengenalnya sikapmu dingin, Za. Kamu sering menjauhiku, apa tidak ada cinta untukku di hatimu?" Air mata Kirani berlinang.
"Kirani, cukup!" hardiknya.
__ADS_1
"Kamu jahat, Za." Kirani pun berlalu dengan hati sedih.
Eza hanya melihat kekasihnya itu pergi tanpa mengejarnya. Ia lalu menjatuhkan kepalanya di bantal, mengepalkan tangan kanannya dan memukulnya pelan di keningnya.