Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Demi Perusahaan (2)


__ADS_3

Hilman menatap heran saat melihat atasannya itu berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita yang tak lain adalah bintang produk di Arta Fashion.


"Tuan, anda mau ke mana?" tanya Hilman saat berpapasan dengan dirinya di lobi hotel.


"Kami ingin mencari makanan di luar," sahut Clarissa yang terus menggenggam tangan Devan.


"Oh ya, kalau begitu lanjutkan Nona!" ucap Hilman.


"Ayo!" Clarissa menarik tangan Devan dengan wajah sumringah.


"Akhirnya mereka mengaku juga," batin Hilman.


"Bisa tidak kau melepas tanganmu!" ucap Devan saat berada di luar hotel.


Clarissa pun melepaskan genggamannya lalu tersenyum. "Kita jalan saja, ya. Tempatnya tidak terlalu jauh," ucapnya.


"Terserah kau saja!" Devan terlihat ketus.


Clarissa berjalan lebih cepat meninggalkan Devan yang jalan seperti keong. Ia melihat ke arah belakang lalu kembali mendekatinya. "Bisa tidak lebih cepat jalannya, aku sudah lapar!"


"Makan di hotel lebih cepat, tak perlu capek dan lebih terjamin kebersihannya," ujar Devan.


"Iya, aku tahu. Tapi makanan ini juga tak kalah lezat dan enak," jelas Clarissa.


"Aku tidak mau memakannya," ucap Devan.


"Terserah kau mau makan atau tidak!"


-


Kini Clarissa sudah berada di warung yang menjual ayam bakar dengan sambal yang membuat ketagihan. Ia memesan dua porsi beserta dengan teh tanpa gula.


"Hei, di makan ini enak sekali!" Clarissa menggigit paha ayam dengan lahap.


"Aku tidak mau!" Devan hanya memandangi makanan itu.


"Ya, sudah kalau tidak mau. Biar aku yang makan," Clarissa menarik piring dari hadapan Devan ia pun menyantapnya.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Clarissa menautkan jemarinya di tangan Devan. "Udaranya sangat dingin sekali!" Clarissa tersenyum manis membuat pria itu mendiamkannya.


"Lusa kau harus datang ke Arta Fashion untuk menanda tangani kontrak," ucap Devan.


"Ya, aku akan datang asal kau memenuhi syarat yang ku minta," ujarnya.


"Itu tidak masalah yang penting kau kembali," ucap Devan.


...----------------...


Pagi ini mereka akan kembali ke kota A. Kedua teman Clarissa sudah datang menjemputnya, mereka menunggu di lobi hotel.


Tatapannya mereka tertuju pada dua sosok manusia yang berada di belakang Hilman dan sopir kantor Arta Fashion. Devan dan Clarissa berjalan berduaan saling bergandengan.


"Apa aku salah lihat, Yuna?" tanya Tina terlihat heran dan terkejut.


"Kau tidak salah, itu memang mereka berdua!" jawab Yuna.


"Hai!" sapa Clarissa memeluk kedua sahabatnya.


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Yuna.

__ADS_1


"Aku akan kembali ke Arta Fashion," jawab Clarissa.


"Bagaimana bisa?" tanya Tina.


"Nanti aku akan jelaskan!" jawabnya lagi. "Aku akan satu mobil dengan Presdir, kalian bawa saja barang-barang ku," ucapnya menunjuk koper miliknya.


-


-


Sesampainya di apartemen, Clarissa lalu dicecar dengan berbagai pertanyaan. "Bagaimana bisa kau berubah pikiran? Apa yang telah pria itu lakukan? Apa dia menjanjikan sesuatu padamu?" tanya Yuna.


"Tenanglah dulu!" jawab Clarissa.


"Bagaimana bisa kami tenang, kau dan dia gandengan tangan? sambung Tina sambil menunjukkan kedua tangannya yang ia genggam.


"Aku menerima kembali karena dia mengancamku dengan kasus mobil itu," jawab Clarissa.


"Terus kenapa kau begitu bahagia sekali saat dekat dengannya?" tanya Yuna.


"Itu memang aku yang minta sebagai syarat," jawab Clarissa tersenyum.


"Aku tak habis pikir, sebegitu suka dirimu dengan pria aneh seperti Presdir itu!" ujar Tina.


"Dia juga tidak akan memotong honor dan malah menambah tiga kali lipat," jelas Clarissa lagi.


"Kau sungguh pintar, Rissa!" ucap Yuna mengacungkan jempol tangan kanannya.


"Dia melakukan itu demi perusahaan dan aku demi cinta," Clarissa menopang dagunya di atas meja makan sambil tersenyum.


-


Sementara itu, Devan memerintahkan Hilman untuk membuat kontrak kerja dengan Clarissa sesuai dengan permintaan wanita itu.


"Tuan, saya boleh tanya sesuatu?" Hilman berucap dengan hati-hati.


"Apa?"


"Apa anda memiliki hubungan dengan Nona Clarissa?" tanya Hilman.


Devan menatap tajam sekretarisnya itu.


"Maaf, Tuan. Baiklah saya akan membuatnya!" Hilman pun pamit pulang.


...----------------...


Clarissa dan kedua temannya mendatangi Arta Fashion. Seluruh karyawan heran melihat kedatangan mereka. Hilman sudah mempersiapkan kontrak baru.


Kini di dalam ruangan kerja Devan hanya ada Clarissa. "Silahkan baca dan tanda tangani kontrak itu!"


"Baiklah," Clarissa membaca kontrak tersebut dan mengulum senyumnya.


"Siang ini juga kita melakukan pemotretan," ucap Devan. "Besok pagi kau harus menggelar konferensi pers untuk meredam gosip yang beredar," lanjutnya lagi.


"Apa aku harus umumkan hubungan kita?" tanya Clarissa.


"Tidak," jawabnya dengan cepat.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku tidak mau menambah berita yang aneh," jelasnya.


"Baiklah, yang penting kau sudah menjadi kekasihku!" Clarissa tersenyum manis.


"Jangan tunjukkan senyummu itu!" Devan membuang wajahnya.


"Apa begitu manis senyum ku ini?"tanya Clarissa dengan bangga.


"Sangat menjijikkan!" jawab Devan.


Bukannya marah, Clarissa malah tersenyum ia pun menanda tangani kontrak tersebut dengan semangat. "Aku sudah selesai tanda tangan, aku harus bersiap untuk melakukan pemotretan ini," ucapnya. Sebelumnya Hilman juga sudah menjelaskannya pada Yuna, kalau siang ini juga pekerjaan akan dimulai. "Jangan lupa datang ke studio melihat kekasihmu ini!" ucapnya tersenyum. Ia pun meninggalkan ruangan Devan.


Tepat sehabis makan siang, Clarissa melakukan pemotretan. Beberapa pakaian akan ia gunakan. Devan menepati janjinya dengan memperhatikan wanita itu dari kursinya.


Sesekali ia tersenyum melihat Clarissa melakukan gaya yang membuat kru dan orang-orang sekitarnya tertawa.


Sementara itu di lain sudut gedung Arta Fashion. "Nona, wanita itu kembali lagi ke sini dan menjadi model produknya!" ucapnya lewat panggilan telepon.


"Saya akan memberikan informasi selanjutnya kepada anda yang penting Nona tidak mengingkari janji," lanjutnya lagi. Ia pun menutup teleponnya dan tersenyum menyeringai.


"Aku pun juga tidak menyukai Clarissa, Nona!" gumamnya.


-


Selesai melakukan pemotretan, Clarissa memasuki ruangan Presdir tanpa seizin Hilman. Ia mendekati Devan yang sedang menerima panggilan telepon.


"Ada apa?" tanya Devan setelah menutup ponselnya.


"Aku cuma mau bilang, aku pamit pulang!"


"Oh," ucapnya singkat.


"Cuma begitu saja?" tanya Clarissa.


"Lalu aku harus apa?"


"Kita 'kan sepasang kekasih, kau tidak ingin mengantarkan ku pulang," jawab Clarissa.


"Clarissa, aku terpaksa menjadi kekasihmu karena syarat yang kau berikan," tutur Devan.


"Cobalah membuka hati untukku!" Clarissa menatap dengan genit.


"Tidak, hubungan kita cuma karena bisnis saja," ucap Devan.


"Ya, ku yakin pasti sesuatu saat kau akan mencintaiku!" Clarissa dengan percaya diri mengatakan itu. "Kalau begitu, sampai jumpa!" ia melambaikan tangannya dan tersenyum lalu keluar ruangan.


"Aku tidak bisa jatuh cinta padamu karena ku mencintai gadis kecil itu," gumam Devan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan like, komen, poin dan vote..


Selamat Membaca..


Selamat Berakhir Pekan..


Semoga Hari Kalian Menyenangkan..


Terima kasih ..

__ADS_1


🌹♥️


__ADS_2