
Siska masih kesal karena tidak diizinkan bertemu dengan Clarissa dan putrinya. Begitu sampai rumah, ia bergegas turun lalu membanting pintu mobil secara kasar.
Raya melihat kelakuan mama mertuanya hanya mengulum senyum. Sementara suaminya dan papa mertuanya, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Mama sungguh dipermalukan oleh mereka!" Siska berbicara dengan nada tinggi dan marah.
"Makanya kalau punya mulut dijaga, Ma!" nasehat Papa.
"Mama bicara kenyataan, Pa. Bukan sekedar gosip!" Siska tak mau kalah.
Tak mau mendengarkan cacian dan omelan Mama mertuanya, Siska memilih masuk ke kamar.
...----------------...
Beberapa bulan kemudian....
Nikita mengetuk pintu apartemen Roland. Ia tersenyum hangat saat pria yang disukainya membuka pintu. "Hai, apa kabar?"
"Kau?" Roland terlihat gugup.
"Sayang, siapa?" teriak dari dalam apartemen.
"Nikita!" jawab Roland.
Tina yang berada di dalam bergegas berlari ke arah pintu melihat tamu yang berkunjung di rumah Roland. "Mau apa kau ke sini?"
"Aku ke sini untuk bertemu dengan Roland," jawab Nikita santai.
"Aku tidak mengizinkan kau bertemu dengannya!" Tina berbicara dengan tegas.
"Memangnya kau siapa?" tanya Nikita.
"Aku istrinya!"
__ADS_1
Nikita tertawa kecil, "Kalau begitu selamat buat kalian!" mengulurkan tangannya.
Tina dan Roland saling menatap.
"Kenapa?" Nikita menatap sepasang suami istri itu. "Kalian tidak percaya kalau aku berubah?" tanyanya.
"Kami tidak percaya!" jawab Tina menarik sudut bibirnya.
"Terserah kalian saja," ujar Nikita. "Aku ke sini mau kasih kado untuk kalian!" Ia memberikan paper bag.
Roland meraihnya, "Terima kasih!"
"Sudah sana pulang!" usir Tina. "Ngapain ke sini lagi?" menatap tak suka.
"Iya, aku akan pulang!" Nikita tersenyum pada Roland.
"Dia sudah jadi suamiku, cepat pulang sana!" sindir Tina.
"Roland, aku pulang 'ya!" pamit Nikita.
"Kau cemburu?"
"Ya iyalah, aku cemburu. Istri mana yang rela, ada wanita lain menyukai suaminya. Memangnya kau mau kalau aku di sukai pria lain?"
"Ya, tidaklah," jawab Roland. "Jangan marah-marah lagi, lebih baik kita main di kamar!" Ia menaikan kedua alisnya.
"Ini masih sore, sebentar lagi Yuna dan Vino akan kemari!"
-
-
Sementara itu, Raya yang sedang menikmati makan malam tiba-tiba memegang perutnya.
__ADS_1
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Rey tampak khawatir.
"Sepertinya aku akan melahirkan, Rey. Sakit sekali!" teriaknya.
"Kau mau melahirkan!" Siska berdiri. "Cepat Rey, bawa ke rumah sakit!" perintahnya.
"I..iya, Ma!" Rey menuntun istrinya ke dalam mobil.
Siska memerintahkan asisten rumah tangganya untuk membawakan perlengkapan bayi ke dalam mobil. Ia pun bergegas menyusul anak dan menantunya ke rumah sakit bersama suaminya.
Hampir dua jam di ruang bersalin, akhirnya Raya melahirkan bayi laki-laki. Siska yang mendengar suara tangisan bayi tersenyum senang.
Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap. Siska dan suaminya bisa menjenguk Raya dan putranya. "Cucuku, gantengnya persis kayak papanya," puji Siska.
"Iya dong, Ma."
"Aku ngantuk, Rey." Kata Raya pada suaminya.
"Hei, jangan tidur!" larang Siska.
"Kenapa, Ma?" tanya Raya
"Cucuku sudah kau beri ASI?" balik tanya.
"Sudah, Ma. Tapi aku sangat lelah sekali," jawab Raya.
"Tidurlah biar aku yang jaga bayi kita," ucap Rey lembut.
"Rey, jangan manjakan istrimu!" omel Siska.
"Biarkanlah Raya istirahat sebentar, dia juga butuh tenaga untuk merawat cucu kita," ujar Papa.
"Biar kita saja yang mengurusnya," Siska berkata asal.
__ADS_1
"Ma, sudah deh jangan berulah lagi!" mohon Rey.
"Lebih baik kita pulang saja, Ma. Daripada buat menantu kita stress," ujar Papa.