
Selama rapat berlangsung, Clarissa memilih diam dan tak menatap Devan. Ia merasa malu dengan kejadian malam itu.
Ia selalu membuang wajahnya ketika tanpa sengaja bertemu. Devan menarik sudut bibirnya melihat Clarissa salah tingkah.
Selesai rapat, Clarissa mempercepat langkahnya keluar dari gedung Arta Fashion. Rey yang melihat Clarissa berjalan terburu-buru menghampirinya.
"Tak terasa 'ya, kontrak kerjamu akan berakhir!" ucap Rey.
"Masih dua bulan lagi dan itu cukup lama," ujar Clarissa.
"Rissa, ada yang ingin ku tanyakan padamu?"
"Rey, lain waktu saja kita bicara. Aku akan mengirimkan kau pesan. Sampai jumpa!" Clarissa melangkah cepat menyusul temannya.
-
Ruang Kerja Presdir
Devan duduk di kursi kerjanya, sambil memegang bibirnya ia tersenyum mengingat kejadian malam itu. Clarissa wanita yang cukup berani bagi Devan, dia berani mengatakan cinta dan mencium bibirnya.
"Apa aku mulai menyukainya?" tanyanya dalam hati.
Devan segera menepis perasaan itu, sebelum aku menemukan gadis kecil penolongnya dia tak boleh jatuh cinta apalagi Oma Fera tidak menyukai Clarissa.
Suara ketukan pintu terdengar, Hilman membuka pintu setelah mendapatkan izin dari Devan.
Hilman menyampaikan pesan jika ibunya Nikita ingin berjumpa dengan Devan.
"Katakan padanya aku tidak ingin bertemu dengan siapapun," ucap Devan.
"Baik, Tuan!" Hilman pun pamit.
Hilman menelepon karyawan bagian resepsionis jika Devan tidak ingin bertemu dengan siapapun.
-
"Maaf, Nyonya. Tuan tidak ingin bertemu dengan siapapun hari ini," ucap karyawan Arta Fashion.
"Dia tidak ingin bertemu denganku, ya!" ujar Martha.
Ia malah pergi menuju ruangan Devan.
"Nyonya, tunggu!" karyawan wanita itu mengejarnya. "Anda tidak bisa menemui Presdir," ucapnya menahan langkah Martha.
"Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga!" ucap Martha dengan lantang.
"Nyonya!" karyawan berteriak memanggil wanita paruh baya untuk tidak bertemu dengan Devan.
Martha terus berjalan hingga tiba di meja Hilman. "Di mana Devan? Aku ingin bertemu dengannya!"
"Maaf, Nyonya. Presdir tidak ingin bertemu," jawab Hilman.
Martha menggebrak meja Hilman. "Kau ingin aku membuat keributan di sini!" ancamnya.
"Saya akan berbicara pada Presdir, tunggulah di sini!" ucap Hilman ketus.
Hilman memberi tahu Devan bahwa Martha memaksa bertemu, akhirnya ia menyetujui untuk menemuinya. Martha pun disuruh menunggu di ruang khusus tamu Presdir.
__ADS_1
"Ada apa Tante?" Devan duduk berhadapan dengan Martha yang dibatasi meja.
"Tante ingin kamu membebaskan Nikita," jawab Martha.
"Nikita pantas mendapatkan hukuman atas apa yang ia perbuat. Beruntung aku tidak memintanya juga untuk mengganti rugi," ungkap Devan.
"Devan, asal kau tahu Nikita melakukan ini karena Clarissa. Wanita itu yang telah merebut apa yang seharusnya menjadi miliknya," jelas Martha.
"Memangnya apa yang direbut Clarissa dari Nikita?" tanya Devan menantang.
"Nikita harusnya menjadi model produk iklan Clara Kosmetik, dia malah merebutnya!"
"Clarissa adalah model di Arta Fashion, jika Clara tidak memakainya aku tak masalah. Sepertinya bukan dengan dia saja Nikita bermasalah tetapi dengan artis yang lain," jelas Devan.
"Aku akan membalas kalian!" ancam Martha kemudian ia beranjak berdiri.
"Aku bisa menuntut anda karena telah mengancam," sahut Devan.
Marta berdecak kesal lalu ia pergi.
Devan menarik sudut bibirnya karena berhasil membuat ibunya Nikita tak banyak protes.
...----------------...
Yuna dan Tina sedang mempersiapkan barang-barang kebutuhan Clarissa selama syuting. Sementara itu Clarissa masih tertidur berselimut.
"Tina, bangunkan dia. Sudah jam berapa ini belum bangun juga?" Yuna melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan.
"Ya," Tina ke kamar Clarissa dan membangunkannya. Beberapa kali ia mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Hal itu semakin membuat ia khawatir. "Rissa, bangun!" panggilnya. Ia pun membuka pintu dan melihat Clarissa masih di atas ranjang.
"Aku tidak bisa bekerja hari ini," ucap Clarissa dengan suara lirih.
Tina mencari termometer di laci meja nakas dan mengapitnya di ketiak Clarissa tak lama kemudian ia melepasnya.
"Bagaimana?"
"Ini sangat tinggi hampir 40," jawab Tina. "Kita harus ke dokter sekarang juga!" ucapnya. Ia pun memanggil Yuna.
-
Setibanya di rumah sakit, Clarissa harus melakukan perawatan inap. Padahal ia meminta untuk di rawat di rumah saja, tapi kedua temannya memaksa agar ia di awasi oleh tim medis.
Yuna mengabarkan pada Hilman kalau Clarissa tak bisa melakukan pemotretan karena sakit.
"Aku sudah mengabari Hilman kalau kau tidak bisa datang," ujar Yuna.
"Kau sakit begini bukan karena malu pada Presdir, kan?" tanya Tina. Semalam Clarissa bercerita alasan ia dipanggil Devan ke ruangannya dan di potong honornya kembali.
"Ya, tidaklah. Aku sakit bukan karena dia," ucap Clarissa berkelit.
"Sepertinya kau harus minta rekomendasi obat penghilang rasa malu," usul Tina.
"Memangnya ada?" tanya Clarissa polos.
"Kalau aku jadi kau, mau di bawa ke mana muka ini kalau bertemu dia," ujar Tina menakuti.
"Kau jangan begitulah, aku jadi merasa bersalah!" Clarissa menutup wajahnya dengan tangannya.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan pikirin. Fokus saja dengan kesehatanmu setelah itu cari cara agar tidak malu di depan Presdir," ucap Yuna membuat ia dan Tina tergelak.
Clarissa mengerucutkan bibirnya.
-
Gedung Arta Fashion
"Tuan, Nona Clarissa tidak bisa melakukan pemotretan hari ini," ucap Hilman di ruangan kerja milik Presdir.
"Kenapa?" Devan menoleh ke arah Hilman.
"Nona Clarissa sakit, dia di rawat di rumah sakit. Apa anda tidak menjenguknya?"
"Rumah sakit banyak penyakit, aku tak mau ke sana!" tolak Devan. "Kau transfer saja uang untuknya!" perintahnya.
"Uang, Tuan?" Hilman tak percaya, biasanya kalau menjenguk orang sakit bawa buah atau bunga.
"Iya, biar dia segera sembuh!" ucap Devan santai.
"Berapa saya harus mentransfernya?"
"Sepuluh juta!"
"Baik, Tuan!" Hilman pun pamit dan mentransfer uang ke rekening pribadi Clarissa. Lalu ia menelepon Yuna.
-
"Halo, Hilman!" sapa Yuna saat menerima telepon dari sekretaris pribadi Presdir Arta Fashion.
"Berikan teleponnya kepada Nona Clarissa!" ucap Hilman.
"Baiklah," Yuna menyodorkan ponselnya pada Clarissa. "Hilman ingin bicara padamu!" ucapnya.
Ponsel kini berada di tangan Clarissa," Halo!"
"Nona, saya sudah mentransfer uang ke rekening pribadi anda. Silahkan di cek, itu kiriman dari Tuan Devan," ucap Hilman.
"Apa?" Clarissa menutup mulutnya. "Sampaikan pada Presdir, terima kasih!" ucapnya senang.
"Baik, Nona. Semoga cepat sehat!" Hilman pun menutup teleponnya.
Clarissa mengembalikan ponsel Yuna lalu menyuruh Tina untuk mengambil ponselnya di dalam tas.
Clarissa membuka pesan di ponselnya lalu ia tersenyum senang.
"Kau kenapa?" tanya Yuna.
"Presdir mentransfer ku sejumlah uang!" jawab Clarissa.
"Wah, Presdir memang tahu saja yang kau mau!" ujar Tina.
"Sepertinya aku sudah sehat!" ucap Clarissa menyengir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan jejak ♥️
__ADS_1
Like/ komen/poin dan vote kalian semangat buat aku...
Selamat membaca semoga tidak bosan😁