
Eza yang sudah bersiap-siap melakukan pemotretan bertanya pada fotografer mengenai model wanita yang akan dipasangkan kepadanya. Sebelumnya pihak Arta Fashion sudah memberitahunya tapi ia belum mengetahui namanya. Karena mereka merahasiakannya.
"Apa model wanitanya masih lama?" tanya Eza.
"Sebentar lagi, Tuan. Nona Raisa sedang berias," jawabnya.
"Coba kau ulang sekali lagi, siapa model pendampingku?"
"Nona Raisa, Tuan. Jarang sekali ada perusahaan yang pemimpinnya terjun langsung menjadi modelnya," jelas fotografer.
"Astaga, kenapa harus bersamanya?"
Lima menit kemudian, Raisa muncul bersama papanya. Ia berdiri di samping Eza, fotografer memberi arahan kepada pasangan itu.
Devan duduk di kursi khusus, melihat penampilan putrinya di depan kamera. Eza yang biasanya cuek dan ketus berusaha bersikap manis karena pemilik Arta Fashion sekaligus Papa Raisa sedang memperhatikannya.
Fotografer mulai memberikan aba-aba kepada kedua model, Eza dan Raisa saling pandang dan tersenyum.
Kedua tangan model pria memeluk pinggang model wanita, sementara Raisa mengalungkan tangannya di leher Eza.
Devan yang melihatnya merasa risih karena putrinya begitu dekat. "Bisakah kalian mengganti gaya modelnya?" pintanya dari tempat duduk.
"Papa!" Raisa ingin protes.
"Tuan, pakaian yang digunakan bertema pernikahan jadi harus berpelukan seperti itu," jelas fotografer.
"Aku tidak ingin putriku, dipeluk seperti itu," ujar Devan.
"Baiklah, Tuan. Kita ganti posisi, Nona Raisa berdiri di samping Tuan Eza yang duduk," fotografer menjelaskan arahannya pada Presdir.
"Begitu juga boleh, tapi aku tidak mau putriku disentuh seperti tadi," pintanya.
"Baiklah, Tuan." Fotografer pun kembali melakukan pekerjaannya.
Hampir sejam pemotretan selesai, ada beberapa gaya yang ditampilkan kedua model.
"Terima kasih," ucap Raisa pada Eza selesai foto.
"Hmm."
Raisa berjalan mengangkat gaun yang menjulur, beberapa kru wanita membantunya berjalan menghampiri papanya.
Devan mengulurkan tangannya dan Raisa meraihnya. "Kamu sangat cantik, Nak!"
"Terima kasih, Pa. Bagaimana penampilan Raisa tadi?"
"Sangat bagus, Papa suka," Devan tersenyum hangat.
Eza yang berada di belakang tersenyum melihat keakraban ayah dan anak itu.
-
-
__ADS_1
Selesai makan malam, Clarissa menghampiri putrinya di kamar yang sedang menikmati drama luar negeri melalui laptop.
"Mama!"
"Bagaimana hari pertama menjadi model?" tanya Clarissa.
"Berjalan lancar walau Papa sempat protes," jawab Raisa.
"Pasti Papa protes karena kamu dipeluk pria lain, kan?" tebak Clarissa.
"Mama kenapa tahu?"
"Papa kamu dulu juga begitu saat Mama jadi modelnya," Clarissa tersenyum mengingat kisah cintanya dengan suaminya.
"Harusnya aku bisa berdekatan dengannya," Raisa mengkhayal bermesraan dengan Eza.
Clarissa memukul lengan putrinya, "Jangan bilang kamu menyukai pria itu!"
"Mana mungkin, Ma!" Raisa mengelak.
"Kalau Papa tahu, bisa didepak itu model," ujar Clarissa.
"Mama tenang saja, aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya," Raisa berusaha tidak mengungkapkan perasaannya.
"Besok Mama mau ke kantor, sudah lama tidak ke sana. Sekalian lihat foto-foto kamu dan model pria pilihanmu."
"Kalau Mama melihatnya, pasti tidak akan kecewa," Raisa berkata dengan bangga.
"Kita lihat saja besok!" Clarissa menaikkan kedua alisnya.
Devan menggandeng tangan istrinya yang disebelahnya ada Raisa. Ketiganya memasuki gedung Arta Fashion.
Hilman yang sebentar lagi akan resign, menghampiri ketiganya. "Apa kabar, Nona Rissa?"
"Baik, Hilman. Bagaimana kabarmu dan keluarga?" Clarissa balik bertanya.
"Semua baik, Nona!"
"Syukurlah," ucap Clarissa tersenyum.
-
Mereka bertiga berada di ruang yang sama. Clarissa melihat foto putrinya dengan sang model pria yang diberikan Hilman.
"Bagaimana, Ma? Bagus, kan?" Raisa bertanya antusias.
"Bagus, modelnya sangat tampan!" puji Clarissa tanpa sadar.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Devan pada istrinya.
"Tampan, sayang," jawab Clarissa.
"Aku akan memutuskan kontrak dengannya," ujar Devan.
__ADS_1
"Jangan dong, Pa!" cegah Raisa memanyunkan bibirnya.
Clarissa mengulum senyum melihat wajah cemburu suaminya.
"Mama kamu bilang pria itu tampan, sama saja dia menduakan Papa," omel Devan.
Clarissa menjatuhkan kepalanya di dada suaminya yang duduk tepat disampingnya. "Kau cemburu, ya?"
"Siapa yang cemburu?" Devan berpura-pura cuek.
"Papa tidak benarkan memecat Eza?" tanya Raisa lagi.
"Tidak, Nak. Papa kamu hanya cemburu saja," Clarissa melirik suaminya.
"Foto mana yang bagus untuk cover majalah fashion kita, Ma?" Raisa menatap mamanya.
"Yang ini saja," tunjuk Clarissa pada foto yang di mana putrinya duduk di kursi sedangkan Eza duduk dibawahnya.
"Baiklah, Ma. Kalau Papa?" Raisa mengarahkan pandangannya kepada pria paruh baya itu.
"Terserah kalian saja," jawab Devan.
"Baiklah, Raisa akan memberikan ini pada Paman Hilman," Ia berdiri dari kursi dan keluar ruangan.
Devan masih terlihat cemberut.
"Sayang!" panggil Clarissa.
"Hmm."
"Jangan seperti ini, wajahmu sangat jelek jika begini," Clarissa menggoda suaminya.
"Jadi menurutmu yang tampan pria itu?"
"Astaga, sayang. Eza itu sebaya putri kita lebih pantas dengan dia," jawab Clarissa.
"Jangan sebut nama dia dari bibirmu itu!"
"Baiklah, sayang." Clarissa memeluk tubuh suaminya lagi.
"Raisa tidak boleh dekat dengannya," ujar Devan.
"Ya, pasti akan dekat. Mereka punya pekerjaan yang mengharuskan bersama," tutur Clarissa.
"Tapi aku tidak suka, belum lagi wartawan akan mengejarnya. Bisa jadi itu artis sudah memiliki kekasih," tuduh Devan.
"Kau jangan asal menuduh, bisa saja 'kan putri kita memang menyukainya dan pria itu menjauhinya?"
"Aku bicara tentang beberapa kemungkinan, Rissa."
"Kita serahkan keputusan pada Raisa, jangan urusi hatinya," ujar Clarissa.
"Tapi, aku tetap akan ikut campur untuk pendamping hidupnya," Devan berkata tegas.
__ADS_1
"Terserah kamu saja!" ucap Clarissa pasrah.