Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Menjawab Ocehan Siska


__ADS_3

Empat bulan kemudian....


Raya menikmati drama sambil mengemil makanan ringan. Ia begitu santai menonton siaran tersebut. Sampai tidak menghiraukan ibu mertuanya yang bolak balik mandir.


"Raya, kau nampak kacamata Mama?"


"Tidak, Ma."


"Tadi Mama letak di sini!" menunjuk meja ruang santai.


"Aku tidak tahu, Ma." Raya tetap fokus menonton drama favoritnya.


"Dari tadi kau di sini, masa tidak tahu!" Siska terus mengomel.


"Mungkin di kamar, Ma. Bisa jadi di meja makan," Raya menebak.


Siska pun meninggalkan ruang santai dan mencari kacamata miliknya. Raya mengarahkan pandangannya mengikuti langkah mertuanya.


"Apa ketemu, Ma?" Raya bertanya sedikit mengeraskan suaranya.


"Sudah," teriak Siska dari arah ruang makan.


Raya menarik senyum simpul lalu ia melanjutkan aktivitas mengemil.


"Mama, mau keluar ke restoran. Kau, jangan tidur saja!" Siska menghampiri menantunya.


"Mama, lihatlah aku sedang apa," Raya memaksakan tersenyum.


"Iya, kau jangan tidur saja setelah ini. Bekerjalah, kasihan Rey," sindirnya.


"Sebelum hamil, aku juga bekerja sebagai pemimpin perusahaan. Apa salah jika menuruti keinginan suamiku?" Raya menatap mertuanya.


Siska menghela nafasnya, "Susah bicara denganmu!" Ia pun berlalu.

__ADS_1


-


-


Tiga jam kemudian, Siska kembali lagi melihat menantunya masih betah duduk manis di depan televisi. "Apa kau tidak ada pekerjaan dari tadi di situ saja?" omelnya.


"Ma, lihatlah!" Raya mengarahkan matanya pada baju yang ia pakai.


Siska mengikuti gerakan mata menantunya. "Kau mau bilang kalau sudah ganti pakaian, begitu?"


"Ya, aku baru saja di sini. Tak lama kemudian Mama pulang," jawabnya.


"Alasan saja!"


"Ma, bukankah kau menginginkan cucu?"


"Iya, tapi bukan dari menantu seperti dirimu!"


Lagi-lagi Siska dibuat kesal oleh menantunya.


...----------------...


Dengan membawa paper bag warna warni berisi pakaian dan tas, Raya berjalan santai didampingi asistennya.


"Kau dari mana saja?" tanya Siska ketus.


"Letakkan ini semua di meja sana!" perintah Raya pada asistennya menunjuk ke arah meja ruang televisi.


"Baik, Nona!" asistennya pun menuruti perintah Raya.


"Kau habis belanja, ya?" tanya Siska lagi.


"Iya, Ma. Ini buat Mama!" menyodorkan satu kantong paper bag yang Raya pegang pada Siska.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu pun membukanya. "Wah, kalung!" pujinya. "Pasti ini murahan?" sindirnya.


"Terserah Mama saja, sini kalau murahan!" Raya meminta lagi.


Bukannya dikembalikan, Siska malah memeluk paper bag dengan erat.


Malas berdebat dengan mertuanya, Raya pun pergi ke kamarnya.


-


Sore harinya, Raya berjalan-jalan sekitar halaman rumah suaminya. Siska juga duduk memperhatikan menantunya itu, mencari celah untuk menyindirnya.


Selesai berkeliling, ia duduk bersama mertuanya menikmati secangkir teh.


"Kenapa semakin hari kau semakin jelek?" Siska mulai menyindir.


"Apa Mama pernah hamil? Oh atau jangan-jangan Rey bukan anak kandung, ya?" Raya meletakkan cangkir teh.


"Apa maksud ucapanmu itu?" menatap kesal. "Rey anak kandungku!" ucapnya tegas.


"Apa Mama waktu hamil terlihat cantik?"


"Kata suamiku, tetap cantik."


"Rey juga padaku bilang, aku makin cantik ketika hamil." Raya berkata dengan bangga.


Lagi-lagi, Siska kalah dengan menantunya yang bisa menjawab sindirannya. Dengan hati jengkel, ia beranjak berdiri namun tiba-tiba kakinya terasa sakit dan ia terjatuh.


Raya bergegas berdiri bukan untuk menolong tapi melihatnya saja.


"Kau, kenapa berdiri saja? Cepat tolong Mama!" pinta Siska.


"Perutku sudah besar, Ma. Aku tak bisa menolong dirimu. Maaf!" Raya pun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2