Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Senyum-senyum Sendiri


__ADS_3

Devan pulang ke rumah, sesampainya di kamar ia membuka ponselnya mencari ide untuk melamar Clarissa.


Hampir sejam ia membuka ponselnya, namun yang di cari tak dapat juga. "Hah, sulit sekali mencari ide!" gerutunya.


Akhirnya, Devan tertidur dengan ponsel yang masih menyala.


Oma Fera yang terbangun dari tidurnya, keluar dari kamarnya. Ia melihat kamar cucunya terbuka sedikit, ia pun mendekatinya dan masuk ke dalamnya.


Oma Fera menyelimuti tubuh Devan dan meletakkan ponselnya di nakas, ia memandangi wajah dan mengelus rambut cucunya dengan senyuman.


Mendapatkan sentuhan, Devan terbangun. "Oma!"


"Oma mengganggu tidurmu, ya?"


"Tidak, Oma. Ada apa?"


"Oma tadi lihat kamarmu terbuka," jawab Fera.


"Aku lupa menutup pintu," ucap Devan yang duduk di ranjang bersebelahan dengan Fera.


"Apa yang membuatmu sampai lupa mengunci pintu?"


"Tidak ada, Oma!"


Fera tersenyum lalu berkata, "Ya sudah, Oma mau kembali tidur!"


"Iya, Oma. Selamat beristirahat!"


......................


Clarissa kembali melakukan pemotretan di Arta Fashion dan Devan setia menemani kekasihnya itu menjalankan pekerjaannya.


Seperti biasa mereka akan menikmati makan siang bersama sebelum Clarissa melanjutkan aktivitasnya.


Clarissa kini berada di dalam mobil bersama dengan Devan dan akan berangkat ke restoran.

__ADS_1


"Van, sepertinya tas ku ketinggalan di ruangan kerjamu," ujar Clarissa hendak membuka kenop.


"Biar aku saja yang mengambilnya," tawar Devan dan wanita itu mengiyakan.


Devan turun dari mobil memasuki kembali gedung Arta Fashion.


Ponsel Devan berbunyi, sebuah notifikasi pesan dari Hilman. Karena penasaran Clarissa melihatnya tanpa membukanya. Tertulis pesan 'Maaf Tuan, saya hanya punya ide lamaran itu saja'. Clarissa yang membacanya sekilas tersenyum.


Devan datang dengan menenteng tas kekasihnya itu. "Ini!" ia menyodorkannya.


"Terima kasih!" ucap Clarissa.


Sepanjang jalan ke restoran Clarissa selalu tersenyum tanpa henti dengan menatap calon suaminya.


"Kenapa?" tanya Devan heran melihat tingkah kekasihnya itu.


Dengan cepat Clarissa menggelengkan kepalanya sambil mengulum senyumnya.


"Kenapa dari tadi senyum-senyum saja?"


"Mencurigakan!" Devan menyipitkan matanya.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


"Cepat katakan, kenapa kau senyum-senyum sendiri?


"Tidak ada, itu hanya perasaanmu saja!"


"Semoga saja kau tidak membohongiku!" harap Devan.


-


-


Malam harinya, Clarissa mengirimkan pesan buat Devan untuk bertemu di sebuah taman tak jauh dari apartemen miliknya.

__ADS_1


Mereka tak pernah berkencan di tempat itu, membuat Devan sedikit merasa curiga dengan kekasihnya itu. Apa lagi sepanjang perjalanan dan makan siang di restoran wanita itu selalu tersenyum.


Sesampainya di sana, ia mengedarkan pandangannya mencari kekasihnya. Clarissa melambaikan tangan kepadanya, wanita itu duduk di kursi taman dengan pemandangan air mancur di depannya. Devan berjalan mendekatinya.


"Kenapa harus bertemu di sini?" Devan melihat sekelilingnya.


"Duduklah!" Clarissa menarik tangan Devan untuk duduk.


"Ada apa?" Devan menatap Clarissa.


"Aku ingin dilamar seperti biasa saja, kau tidak perlu pusing untuk mencari cara bagaimana melamarku dengan cara spesial," jawab Clarissa. "Kau mencintaiku dan menerimaku saja, membuatku bahagia," lanjutnya lagi.


"Dari mana kau tahu tentang lamaran itu?"


"Aku tak sengaja membaca pesan dari Hilman, pasti kau menanyakan ide dari sekretarismu itu!"


"Iya," Devan menggaruk tengkuknya.


"Kau sungguh payah, hal begitu saja harus bertanya!" ucap Clarissa menyindir.


"Aku tidak pernah melakukannya, wajar kalau bertanya," protes pria itu.


"Ya, aku tahu. Apa kau sudah membelikan cincin untukku?"


"Sudah," jawab Devan cepat.


"Syukurlah, kalau begitu."


"Besok aku akan mengajakmu makan malam bersama Oma," ucap Devan.


"Benarkah? Apa dia sudah merestui hubungan kita?"


"Pastinya, kalau tidak mana mungkin aku datang menemui kedua orang tuamu!"


"Benar juga yang kau katakan," Clarissa tersenyum manis.

__ADS_1


"Ayo kita pulang, di sini banyak nyamuk!" Devan menarik tangan kekasihnya itu agar meninggalkan taman.


__ADS_2