
Dua bulan kemudian....
Hari ini adalah hari bersejarah bagi pasangan pengantin baru Eza dan Raisa setelah pengucapan ikrar janji suci.
Devan tampak sedih sekaligus bahagia melepaskan putri kesayangannya menikah. Ia begitu sangat menyayangi Raisa, hingga tak ingin gadis kecil yang kini sudah dewasa itu terluka hatinya. "Jaga dan sayangi dia seperti kami menyayanginya," nasehatnya.
"Ya, Pa. Aku janji menyayangi dia seperti kalian menyayanginya," ucap Eza tegas.
Penjagaan ketat dilakukan di gedung pernikahan, para media hanya boleh meliput di luar. Jika pun Eza ingin menjumpai wartawan harus tanpa Raisa. Karena Devan tak ingin wajah putrinya terekspose.
Para tamu undangan memberikan selamat kepada kedua pengantin yang berbahagia.
Acara berakhir Eza menemui para wartawan yang sudah menunggunya di luar ruang acara. Tak lupa pihak keluarga juga menyiapkan makanan dan minuman untuk pencari berita yang telah sabar menunggu.
"Kenapa sendirian?" tanya salah satu wartawan.
"Saya tak ingin kecantikan istri diketahui publik," jawab Eza tersenyum.
Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh para wartawan, hampir 15 menit sesi tanya jawab berlangsung. Eza pun berpamitan pada pewarta.
-
Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, Eza memasuki kamar pengantin. Tampak Raisa berdiri di depan cermin membuka gaun yang ia kenakan.
Dengan cepat tangan Eza membantu istrinya menurunkan resleting belakang.
"Apa para wartawan sudah pulang?"
__ADS_1
"Kemungkinan sudah," jawabnya. "Mereka ingin bertemu denganmu, tapi ku takut Papa Devan memarahiku jika memperkenalkan dirimu pada media," lanjutnya.
"Papa tidak ingin kehidupan sehari-hari aku di sorot media, karena dia juga merasa risih ketika dikejar-kejar wartawan," ujar Raisa.
"Ya, aku pun tak mau jika wajahmu dilihat orang lain," Eza berbisik lembut di telinga istrinya.
Raisa membalikkan tubuhnya dan tersenyum. "Apa kau tidak mau mandi?"
"Apa kau ingin kita mandi bersama?"
Raisa mengangguk malu-malu.
...----------------...
Alarm ponsel berbunyi membuat Raisa tersentak bangun. Ia melihat ke sampingnya suaminya masih terlelap tidur. Raisa menggoyangkan tubuh Eza agar terbangun.
"Apa kau ingin melihat Papa marah?" tanya Raisa.
Eza dan istrinya bergegas turun dan mandi. Keduanya keluar bersama-sama dari kamar mandi membuka koper dan mengobrak-abrik isi tas.
"Aku akan membereskan ini dulu," ujar Eza melihat pakaian yang mereka kenakan semalam berserakan di lantai.
"Tidak usah, sayang. Nanti saja dibereskan, Papa akan marah kalau kita terlambat," ucap Raisa.
Eza menggandeng tangan istrinya menuju restoran hotel.
"Za, jangan cepat-cepat. Aku kesulitan jalan," ujar Raisa.
__ADS_1
Eza menggendong tubuh istrinya agar lebih cepat sampai tanpa membuat mertuanya murka. Seluruh mata pengunjung melihat keduanya sembari mengulum senyum.
Devan melihat putrinya dari kejauhan digendong Eza bergegas berdiri.
"Za, turunkan aku di sini saja. Aku malu dilihat mereka," bisik Raisa.
Eza akhirnya menurunkan Raisa saat sudah sampai di meja makan.
"Kenapa kau menggendongnya?" tanya Devan tampak khawatir.
"Eh, tidak apa-apa, Pa." Raisa tersenyum.
"Tapi kenapa dia menggendongmu? Apa dia telah berbuat kasar padamu?" cecar Devan lagi.
Clarissa menarik tangan suaminya. "Sayang, duduklah!" bicara lembut.
Devan pun duduk begitu juga dengan anak dan menantunya.
"Sayang, kau seperti tidak pernah melakukannya saja," bisik Clarissa.
Devan mendelikkan matanya kepada istrinya yang tersenyum manis ke arahnya.
"Apa kita bisa mulai sarapannya? Aku sudah sangat lapar," Darren berucap.
"Tentunya, Nak. Ayo kita makan, Mama juga sudah lapar," sahut Clarissa.
"Kami sudah menunggu kalian lima menit, lain kali jangan sampai terlambat," Devan memberi peringatan.
__ADS_1
"Iya, Pa." Jawab kedua pengantin serentak.