
Devan melirik kantong kertas yang dipegang istrinya. "Dari siapa?" tanyanya.
"Oh, ini dari calon menantu," jawab Clarissa tersenyum.
"Sekarang dia sudah mulai menggodamu, ya!" sindir Devan.
"Pa, Eza hanya menyukai Raisa bukan Mama," celetuk putrinya.
"Maksudnya apa dia memberikan itu?" Devan tak suka.
"Dia ingin berterima kasih padaku karena sudah menolongnya untuk melakukan hatimu," ujar Clarissa tersenyum manja.
"Ciih.... pandai sekali dia mencari muka!"
Clarissa membuka paper bag sebuah bros baju bertabur berlian. "Ya ampun, ini bagus sekali!" pujinya.
"Aku bisa membelikan sepuluh seperti itu!" Devan tak mau kalah.
"Eza memang tuh calon menantu idaman, Mama ingin kamu segera menikah!" ceplos Clarissa.
"Baru diberi segitu sudah memujinya," gerutu Devan.
Clarissa tertawa kecil melihat wajah cemburu suaminya, ia merangkul lengan Devan dan menyenderkan kepalanya. "Kau juga suami idaman, aku mencintaimu!" ia memajukan bibirnya.
"Ma, jangan lupa di kursi belakang ada putri kalian!" sahut Raisa.
"Maaf, sayang. Mama lupa ada kamu dibelakang," ujar Clarissa.
"Aku akan membalas semua perbuatanmu hari ini begitu sampai rumah," geram Devan menatap istrinya.
"Aku menunggunya, sayang!" mencubit pipi suaminya.
"Mama, jangan bermesraan di depanku. Raisa jadi iri!"
"Iya, Mama tidak akan ulangi. Sayang, di rumah saja ya!" goda Clarissa menatap suaminya.
__ADS_1
"Awas saja kau!" desis Devan membuat Clarissa malah tersenyum.
......................
Esok harinya, Devan sengaja memanggil Eza ke ruangannya. "Jangan duduk, berdiri saja!" perintahnya pada modelnya itu.
"Baik, Paman!"
"Kau bilang apa tadi?"
"Maaf, Tuan."
"Berapa lama lagi kontrakmu berakhir?"
"Sebulan lagi."
"Baguslah, aku tidak akan melihat wajahmu lagi."
"Tapi, kita akan bertemu saat menjadi mertua dan menantu," ujar Eza bangga.
"Siapa yang mengatakan kau akan menjadi menantuku? Jangan banyak berharap, ku akan menerimamu sebagai anggota baru di keluargaku."
"Aku ingin bertanya padamu, kenapa kau memberikan hadiah buat istriku?" tanyanya.
"Oh, itu hanya hadiah sederhana saja."
"Tapi, aku tidak suka. Apalagi istriku selalu memujimu, aku juga bisa memberikan apa yang dimintanya," Devan tak mau kalah.
"Maafkan saya. Itu hanya tanda terima kasih saja, tidak lebih."
"Itu terakhir kau memberikan hadiah kepadanya. Dan satu lagi, jangan sampai membuat putriku bersedih!" Devan memberi peringatan.
"Saya janji akan membahagiakan Raisa seperti anda dan Nyonya Clarissa mencintainya," ujar Eza.
"Kau boleh pergi!" usir Devan.
__ADS_1
-
-
-
Eza dan Raisa menikmati makan malam berdua setelah sore harinya berjalan-jalan berkeliling kota.
"Kata Paman Hilman tadi kau dipanggil Papa di ruangannya," Raisa membuka percakapan saat di restoran.
"Ya, tadi dia bertanya tentang hadiah yang ku berikan kemarin kepada Tante Clarissa."
"Oh."
"Papamu pria yang setia, beruntung Tante Clarissa mendapatkannya," ujar Eza.
"Mama yang pertama kali mengejar papa," tutur Raisa.
"Benarkah?"
"Iya, papa itu paling sulit untuk jatuh cinta dan mama adalah wanita satu-satunya yang berhasil merebut hatinya."
"Pantas saja begitu cemburunya dia padaku," ujar Eza.
"Apa kau tidak cemburu jika pria lain memberiku hadiah?"
"Pastinya aku cemburu apalagi jika pria itu tampan dan masih muda."
"Aku juga cemburu kalau kau dekat dengan wanita lain," sambung Raisa.
"Raisa, sebulan lagi kontrakku berakhir. Apa kau akan kembali bekerja di Arta Fashion?"
"Kemungkinan, iya."
"Syukurlah, kalau tidak kembali di kirim ke luar negeri."
__ADS_1
"Kalau kau berbuat ulah, mungkin aku akan meminta Papa mengirimkan ku ke sana."
"Jangan lakukan itu, ku janji tidak akan membuat kau pergi ke luar negeri tanpa diriku," Eza mengecup tangan kekasihnya itu.