Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Pengakuan Martha


__ADS_3

Martha mendatangi Gedung Arta Fashion seorang diri, ia ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini tidak diketahui Devan.


"Aku ingin bertemu dengan Devan Artama,''ucapnya kepada Hilman.


"Apa sudah memiliki janji?" tanya Hilman ketus.


"Belum, tapi ini sangat penting," jawab Martha menekankan kata-katanya.


"Saya akan menemuinya, mohon menunggu!"


Martha menunggu di kursi tamu, masih satu lantai dengan ruang kerja Devan.


Hilman memasuki ruang kerja Presdir. "Tuan, Nyonya Martha ingin menemui anda!"


"Mau apa dia?"


"Ada hal penting yang ingin ia sampaikan," jawab Hilman.


"Aku akan menemuinya sepuluh menit lagi," ucap Devan.


"Baik Tuan, saya akan menyampaikannya!" pamit Hilman.


Sesuai janji, Devan menemui Martha di ruang khusus tamu Presdir.


"Mau apa lagi Tante ke sini?" Devan tampak tak suka.


"Tante ingin menyampaikan sesuatu mungkin kau juga baru tahu," jawab Martha.


"Cepat katakan saja," ucap Devan tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Apa kau tahu siapa orang yang telah menculik dirimu beberapa tahun yang lalu?"


Devan menoleh cepat ke arah Martha. Ia terkejut jika selain keluarganya ada orang lain yang mengetahui kejadian masa lalunya.


"Kau pasti akan terkejut, jika tahu siapa pelakunya?" Martha tersenyum jahat.


"Dari mana Tante kejadian itu?" Devan menyipitkan matanya.


"Tentunya Tante tahu karena kami tinggal di satu kota yang sama."


"Siapa pelakunya?"


"Ayah dari calon istrimu," jawabnya dengan puas.


Devan menarik sudut bibirnya, "Tidak mungkin!"


"Pria itu teman Papamu, jadi Tante mengenalnya."


"Tentunya tidak, Devan."


"Aku tahu jika anda adalah mantan kekasih dari Vandi Artama."


Deg...


Martha menepis keterkejutannya lalu tersenyum. "Ya, kami memang memiliki hubungan tapi Tante sadar jika Papamu telah dijodohkan."


"Baguslah," ucap Devan.


"Tapi, tentang pria itu Tante berkata jujur jika pria yang menculikmu itu ayah kandung Clarissa. Jadi, pikirkan kembali," Martha tampak puas dengan pengakuannya.

__ADS_1


"Aku berterima kasih kepada Tante, telah memberi tahu. Jika tak ada lagi yang dibicarakan, silahkan keluar!" sindir Devan.


"Semoga saja kau bisa melihat siapa keluarga calon istrimu itu," Martha tersenyum dan keluar ruangan.


Setelah Martha pergi, Devan menyandarkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya terasa lemas ketika tahu siapa pelakunya. "Pasti Tante Martha berbohong," gumamnya.


Devan teringat kata-kata Tante Siska jika Ibunya Nikita tahu siapa saja temannya papanya.


"Aku harus menanyakan ini kepada Clarissa," ucapnya lirih namun ia kembali menggeleng. "Tidak, pasti Clarissa akan marah," gumamnya. "Aku harus cari tahu sendiri, seperti apa wajah dari ayah kandung Clarissa," batinnya.


Seharian ini Devan selalu memikirkan pernyataan dari Martha. Sampai pesan dan telepon dari Clarissa ia acuhkan. "Apa hal ini aku sampaikan kepada Oma?" tanyanya dalam hati.


......................


Keesokan paginya, Devan beraktivitas seperti biasa. Ia mengurungkan niatnya untuk memberi tahu apa yang dikatakan Martha.


Hari ini juga setelah pemotretan, Devan dan Clarissa berencana akan pergi ke toko percetakan undangan pernikahan.


"Van, aku lihat dari tadi melamun saja. Ada yang kau pikirkan?" Clarissa bertanya saat mereka di dalam mobil dan hendak menuju ke tempat tujuan.


"Tidak ada," jawab Devan.


"Benar tidak ada kau pikirkan? Kata orang-orang sih' jika mau menikah sedikit stress," tutur Clarissa.


"Aku benar-benar tidak apa-apa."


"Syukurlah kalau begitu."


Mobil melesat cukup sedang, selama perjalanan Devan terlihat diam. Saat makan siang bersama di restoran favorit pun pria itu tampak cuek dan dingin.

__ADS_1


"Van, aku mau ke toilet dulu 'ya!" pamit Clarissa.


Devan melihat tas Clarissa di atas meja, "Apa aku harus memeriksa tasnya untuk mencari petunjuk?"


__ADS_2