Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.10-Eza Patah Hati


__ADS_3

Suara bel berbunyi, Eza buru-buru membukanya. Wanita yang sangat ia cintai berdiri di depannya sembari tersenyum hangat. Ya, ini kejutan di pagi hari setelah 6 bulan mereka tidak bertemu.


"Kirani!" Eza meraih tubuhnya.


"Maafkan aku, Za."


"Aku benar-benar merindukanmu," ujarnya.


"Aku juga, Za."


"Ayo, kita cari makanan di luar saja!" Eza keluar dari apartemennya tak lupa menguncinya. Lalu ia meraih tangan Kirani dan menggenggamnya erat.


Sesampainya di restoran tempat langganan mereka, Eza memesan makanan kesukaannya. Kirani hanya diam, ia hanya tersenyum tipis tidak seceria seperti biasanya.


"Kamu sakit, sayang?" Eza mengenggam tangan wanitanya.


Kirani menggelengkan kepalanya.


"Kenapa diam saja?" tanyanya.


"Aku ingin bicara padamu."


"Bicaranya nanti saja, lebih baik kita sarapan dahulu," ujar Eza.


Pelayan menghidangkan makanan yang Eza pesan.


"Ayo, sayang di makan!" Eza tersenyum.


Kirani mulai menikmati makanannya perlahan.


"Sejak kamu pergi, aku benar-benar tak tahu harus apa. Hidupku seperti runtuh," ujar Eza.


Kirani hanya tersenyum tipis. "Apa kau sangat mencintaiku?"


"Rani, berkali-kali ku katakan kalau diriku mencintaimu!"


"Maafkan aku, Za. Kamu harus mencari pengganti diriku," pinta Kirani.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak mau mencari penggantimu," tolak Eza.


"Aku akan menikah, Za."


Eza menghentikan makannya lalu menatap Kirani. "Jangan bercanda, Rani!"


"Aku serius, Za. Bulan depan aku akan menikah dengan pilihan kedua orang tuaku," jelas Kirani.


Wajah Eza yang tadinya ceria seketika berubah. Rasa kecewa, marah dan kesal menjadi satu. "Jadi ini alasanmu pergi!"


Kirani menganggukan kepalanya.


"Rani, kenapa kamu tidak menolaknya? Kita sudah dekat selama dua tahun, jika kamu mau aku akan melamarmu saat ini."


"Sudah terlambat, Za."


"Harusnya kamu bilang jika akan di jodohkan, aku akan datang pada orang tuamu."


"Maafkan aku, Za. Ku harus pergi!" Kirani berdiri lalu ia pergi meninggalkan Eza yang berusaha menahan tangisnya.


-


Di dalam mobil Eza menjambak rambutnya lalu meremas wajahnya, hari ini hatinya benar-benar hancur. Kirani datang bukan untuk kembali melainkan untuk mengakhiri hubungan mereka.


Dengan langkah gontai, Eza berjalan ke apartemennya. Lita yang sedari tadi menelepon dan menunggunya bergegas menghampiri artisnya.


"Kau dari mana saja, Za?"


Eza tetap diam dan malah menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Eza, kau kenapa?" tanya Lita lagi.


"Kirani tadi datang," jawab Eza lirih.


"Mau apa dia datang?"


"Dia datang untuk memberitahuku, bulan depan akan menikah," jawabnya lesu.


Lita menghela nafas. "Kirani memang bukan jodohmu!"


"Rasanya sakit sekali, Kak!" Mata Eza berkaca-kaca.


"Kakak tahu, mau bagaimana lagi? Kirani memang memilih pria itu daripada kau."

__ADS_1


"Jika dari awal dia katakan akan dijodohkan, aku siap melamar dan menikahinya," ujar Eza.


"Za, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Dia segera menikah, tak mungkin kau menggagalkannya. Bagaimana jika media tahu? Bukan hanya karirmu yang hancur tapi nama baik perusahaan Arta Fashion juga," jelas Lita.


"Rasanya hari ini aku malas untuk bekerja," keluhnya.


"Hei, kau jangan begitu. Hari ini kita akan berangkat ke luar kota, tepatnya di wahana permainan Raya di kota B," ujar Lita.


-


-


-


Wahana Permainan Raya


"Menurut info yang aku ketahui, tempat ini milik kakeknya Nona Raisa," ujar Lita sesampainya di tempat tujuan.


"Itu bukan urusan ku, Kak!"


"Bukankah dia sangat kaya," puji Lita.


"Kak, kapan mulai syutingnya?" tanyanya tanpa menghiraukan pujian manajernya.


"Nona Raisa belum datang, sabarlah!"


Jam terus berputar, namun Raisa belum muncul juga. Eza mulai merasa kesal dia sudah menunggu tiga jam.


Akhirnya Raisa berlari-lari menghampiri sutradara. "Maafkan saya!"


"Tidak apa, Nona. Kami memakluminya!"


"Saya tidak mau melanjutkan syuting ini," Eza tiba-tiba membatalkan pekerjaannya.


"Eza, apa maksudmu?" tanya Lita.


"Kita di sini sudah menunggu tiga jam hanya menunggu wanita ini," Eza menunjuk wajah Raisa.


"Tuan, Nona Raisa terlambat karena mobil yang kami tumpangi mogok," jelas karyawan Raisa.


"Aku tidak peduli, kalian bisa menelepon atau menumpang mobil lain. Kenapa harus menunggu sampai mobil selesai diperbaiki?" omel Eza.


"Tuan, kami..."


"Bersikaplah profesional, Nona. Walaupun anda pemimpin di perusahaan ini," Eza kemudian berlalu.


"Jadi, ini bagaimana?" tanya sutradara.


"Syuting kita tunda esok hari, kalian beristirahatlah. Penginapan kalian akan aku tanggung," ujar Raisa ia lalu mengejar Eza.


-


Raisa sampai terbatuk-batuk mengejar Eza. "Tunggu!" teriaknya.


Eza membalikkan badannya melihat Raisa yang tampak berjongkok. "Ada apa?"


Raisa lantas berdiri kemudian menghampiri Eza. "Aku minta maaf karena terlambat. Tapi bisakah kau memikirkan perasaan para kru."


"Kenapa yang harus memikirkannya? Ini semua salahmu, siapa suruh terlambat? Pekerjaan aku bukan cuma ini saja," omel Eza.


"Sepertinya kau memiliki masalah sehingga aku yang menjadi alasannya," tebak Raisa.


"Itu bukan urusanmu, Nona!" Eza melanjutkan langkahnya.


"Hei, kau mau ke mana?" Raisa berlari mengejar.


"Bukan urusanmu, Nona!" jawabnya.


Raisa terus mengikuti langkah Eza berjalan ke atas bukit yang tidak jauh dari lokasi wahana permainan.


"Kenapa kau mengikuti, Nona?"


"Aku takut kau menyasar," jawab Raisa asal.


"Kau pikir aku anak kecil yang tidak tahu jalan pulang," ujar Eza terus berjalan.


"Ya tidak juga," ujar Raisa.


Kini mereka sudah berada di atas bukit dan melihat keindahan ciptaan sang pemilik alam.


"Indahnya," puji Raisa tersenyum.

__ADS_1


Eza melihat wanita yang ada di sampingnya, angin bertiup membuat helaian rambut Raisa menutup wajah mulusnya. "Apa kau pernah jatuh cinta?"


"Pernah!" jawab Raisa.


"Jika patah hati?" Eza kembali menatap ke depan.


"Belum!"


"Kenapa kau belum pernah patah hati?"


"Karena aku belum berdiri dan masih jatuh," jawab Raisa asal.


Eza tertawa kecil mendengar jawaban Raisa. "Itu artinya kau belum pernah mengungkapkan perasaanmu!"


"Memang belum, karena dia juga tidak tahu kalau aku mencintainya," ujar Raisa.


"Apa kau tidak merasa sakit memendam perasaan itu?"


"Tidak, aku malah bahagia mencintainya," Raisa menatap ke samping melihat wajah Eza. "Apa kau sedang patah hati?" tanyanya.


"Ya, pagi ini aku kembali dipatahkan."


"Ini membuatmu jadi uring-uringan?"


"Mungkin."


"Apa yang membuatmu patah hati?" Raisa penasaran.


"Wanita yang sama. Dia datang akan menikah dengan pria lain."


"Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan," ujar Raisa.


"Kau bilang tidak pernah merasakan patah hati?"


"Hari ini aku merasakannya, orang yang ku cintai sedang patah hati."


"Maksudnya?" Eza mengarahkan pandangannya kepada Raisa.


"Tidak ada, aku harus kembali ke hotel," Raisa membalikkan badannya baru beberapa langkah kaki kanannya merasa kram. "Auww!" ia sedikit menunduk tangannya memegang kakinya.


Eza yang mendengar suara teriakan berbalik dan mendekati Raisa. "Kenapa?"


"Kakiku sakit," jawabnya.


Eza lantas jongkok dan memegang kaki Raisa mencoba memijitnya.


"Cukup, Za!" pinta Raisa meringis kesakitan.


Tanpa perintah, Eza menggendong Raisa turun dari atas bukit.


"Aku bisa berjalan, Za!" ujar Raisa dalam gendongan pria itu.


"Tapi, itu hanya membuat sakit kakimu semakin parah," jelas Eza.


Beberapa orang kru dan karyawan yang belum kembali ke hotel menghampiri keduanya termasuk Lita.


"Kenapa dengan Nona Raisa?" tanyanya.


"Kakinya sakit," jawab Eza. Ia membawa Raisa ke dalam mobil pribadi wakil Presdir.


"Terima kasih," ucapnya pada Eza. "Tolong, bawa aku ke rumah Opa Ardian saja," pintanya pada sopir.


"Aku akan menemanimu," Eza menawarkan diri.


Raisa mengangguk mengiyakan.


Mobil pun meninggalkan wahana permainan dan melesat ke rumah kedua orang tua Clarissa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sambil Menunggu Update, Kalian Bisa Mampir dan Baca Karyaku Yang Lainnya...


-Salah Jatuh Cinta


-Melupakan Sang Mantan


-Dijodohkan Dengan Musuh


-Calon Istriku Musuhku


-Penculik Hati

__ADS_1


-Marsha, milik Bara


__ADS_2