Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Menjaga Devan Dari Penggoda


__ADS_3

Roland akhirnya dapat bertemu dengan sepasang pengantin baru itu. Tentunya dengan meminta bantuan Tina.


Ya, dua hari ini ia selalu mengikuti kemana wanita itu pergi. Ia berusaha keras agar Tina dapat membantunya meminta maaf kepada Clarissa. Semua itu ia lakukan agar wanita yang ia sukai tidak terlalu lama membencinya.


Pertemuan mereka hanya bertiga saja, disebuah restoran tak jauh dari kediaman Artama. Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan Roland.


Clarissa berusaha bersikap tenang, karena suami dan kedua sahabatnya yang menyakinkannya kalau Roland telah berubah.


"Terima kasih kalian telah menyempatkan waktunya untuk bertemu denganku," Roland tersenyum hangat di depan suami istri itu.


"Kami tidak memiliki waktu, kau ingin berbicara apa kepada istriku?" tanpa basa-basi Devan bertanya.


"Aku minta maaf telah membuat Clarissa selama ini ketakutan. Aku mengaku salah, Tina juga sudah menjelaskan kepada kalian alasan ku melakukan ini semua," jelas Roland.


"Ya, kami sudah tahu dan aku telah memaafkan dirimu," Clarissa memaksakan tersenyum.


"Terima kasih, Rissa." Roland sedikit menundukkan pandangannya dan menyesal.


Seorang wanita berjalan mendekati meja yang diduduki ketiganya, segelas minuman bersoda tumpah di kemeja Devan membuat pria itu berdiri dan menatap kesal.


"Maafkan saya, Tuan!" Wanita itu ingin menyentuh kemeja Devan dengan tangannya, namun dengan cepat Clarissa mencegahnya.


"Astaga, Nona!" Clarissa mengambil tisu dan membersihkan kemeja suaminya.


Wajah Devan tampak memerah, "Aku menunggumu di mobil!" Ia meninggalkan istri dan Roland.

__ADS_1


"Maafkan saya sekali lagi!" wanita itu menundukkan kepalanya.


"Ya, Pergilah!" perintah Clarissa.


Wanita itu pun meninggalkan keduanya.


"Tidak ada lagi yang dibicarakan, kan?" Clarissa menatap Roland.


"Tidak, Rissa. Terima kasih sudah memaafkan aku," Roland berkata lagi.


"Ya, kalau begitu aku pamit," Clarissa meraih tasnya dan melangkahkan kakinya lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap Roland. "Tina menyukai film horor dan makan seafood, bekerja keraslah untuk membahagiakannya!" Clarissa tersenyum lalu ia menyusul suaminya ke mobil.


Mendengar ucapan itu, Roland mengulum senyumnya dan menggaruk tengkuknya.


Pagi harinya saat sarapan, Oma Fera menyodorkan ponselnya kepada Devan dan Clarissa. "Baca berita itu!" perintahnya.


Devan dan Clarissa saling pandang kemudian tersenyum.


"Kenapa tersenyum?" Oma Fera terlihat bingung.


"Kemarin siang, kami berdua di sana. Berita itu hanya fitnah saja," jelas Devan.


"Iya, Oma. Pria itu teman satu sekolahku," sambung Clarissa.


"Oma, tahu 'kan ada beberapa orang yang tidak menyukai kami. Jadi, berita seperti itu cuekin aja," mohon Devan.

__ADS_1


"Kalian benar, apa lagi Martha dan putrinya sepertinya masih menaruh dendam pada keluarga kita," ungkap Oma.


"Oma, kami berdua bisa menghadapi mereka. Jangan terlalu memikirkan hal ini," Devan menenangkan pikiran Oma Fera.


Setelah sarapan dan mengobrol sedikit dengan Oma Fera, Clarissa dan Devan pamit pergi ke kantor.


Sesampainya di Gedung Arta Fashion, bersamaan Intan juga turun dari mobil. Ia berjalan cepat menghampiri Clarissa dan suaminya.


"Sayang, aku duluan!" pamit Devan, ia melangkah dengan cepat.


Intan yang sudah dekat dengan mereka berusaha ingin mengejar Devan.


Clarissa dengan cepat menarik tangan Intan, "Mau ke mana?"


"Mau ke sana?" tunjuk Intan ke arah Devan.


"Studio foto sebelah sana!" Clarissa menunjuk sebelah kiri ruangan gedung.


"Tapi saya ingin menyampaikan berita tentang anda!" Intan dengan gaya angkuhnya.


"Berita yang mana?" Clarissa menantang Intan.


Intan menunjukkan berita online yang mengatakan kalau Clarissa kepergok berduaan makan di restoran dengan seorang pria.


Hal itu membuat Clarissa tersenyum santai, "Suamiku lebih percaya denganku dari pada berita itu!" ia pun berlalu.

__ADS_1


__ADS_2