
Seminggu setelah dari kota B, Tina mendatangi tempat kerja kekasihnya. Ia mencari pria itu dengan bertanya kepada teman-temannya, dari kemarin Roland sulit dihubungi.
"Lan, ada yang mencarimu," salah satu temannya memberitahunya.
Roland mengakhiri obrolannya dengan tim casting. "Siapa?" tanyanya.
"Wanita yang pernah ke sini menemanimu kerja."
"Baiklah, aku akan menemuinya. Terima kasih, ya!" Roland sudah tahu wanita yang mencarinya.
"Sama-sama," teman Roland pun berlalu.
Pria itu menghampiri kekasihnya di lobi stasiun televisi. "Tina, ada apa kemari?" menampilkan senyum senang.
"Aku perlu bicara padamu."
"Sepertinya penting?"
"Sangat penting," jawab Tina ketus.
"Kita bicara di sana saja!" Roland menunjuk sebuah taman.
Keduanya berjalan lalu duduk di bangku yang tersedia di pinggiran taman.
"Mau bicara apa?" Roland penasaran.
Tina membuka ponselnya lalu menunjukkannya pada Roland. "Apa kau kenal foto ini?"
Roland melihatnya lalu dengan cepat menatap Tina. "Ini salah paham!"
"Salah paham, bagaimana?" tanya Tina. "Kau memeluknya, kalian seperti akrab!" mata mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku akan menceritakan yang sebenarnya," jelas Roland.
"Tidak perlu!"
"Kau boleh mengambil keputusan, tapi dengarkan dahulu penjelasan ku!" Roland berusaha menyakinkan kekasihnya.
Tina memilih diam.
"Nikita mendatangi apartemen ku dua hari yang lalu, dia meminta bantuan ku karena baterai ponselnya mati dan mobilnya mogok. Aku mempersilakan dia masuk dan mengisi baterai ponselnya. Dia datang tidak seorang diri, ada manajer dan asistennya. Foto kami berpelukan itu tidak sengaja."
"Tidak sengaja, bagaimana?" Tina menatap tajam.
"Dia yang lebih dahulu memelukku."
"Lalu kau meresponnya?"
"Kejadian itu sangat cepat, Tina. Tak sampai 5 detik," jawab Roland.
Tina lantas berdiri, "Aku tidak percaya dengan ucapanmu!"
"Kau dan Nikita pernah bekerja sama untuk menyakiti Clarissa. Bisa saja kalian berdua bertemu untuk merencanakan sesuatu," tudingnya.
"Astaga, Tina. Aku tidak mungkin seperti itu lagi," Roland membela diri. "Dari mana kau dapat foto itu?" tanyanya.
"Dari nomor yang tak dikenal."
"Yang mengirimkan foto itu, ingin hubungan kita berantakan. Kalau kau tidak percaya, mari kita tanya dengan sekuriti apartemen. Dia yang memberikan nomor telepon bengkel mobil terdekat."
"Kau tidak berbohong, kan?" Tina kembali duduk.
"Ya, ampun. Untuk apa aku berbohong, mana mungkin diriku mengkhianati hubungan kita."
__ADS_1
"Tapi, kenapa dia sampai memelukmu?"
"Aku juga tidak tahu."
"Awas saja, kalau jumpa dengannya. Aku akan menghajarnya!" Tina mengepalkan tangannya.
Roland memegang tangan kekasihnya. "Jangan kotori tanganmu untuk melampiaskan amarahmu!'
"Jadi, aku harus menghajar dirimu, biar perasaan ku lega?" Tina menyipitkan matanya.
"Apa kau ingin melihat wajah kekasihmu ini babak belur?"
"Aku tuh kesal dengan foto itu, lain kali kalau dia berusaha mendekatimu. Tendang dia sejauh mungkin," ujar Tina.
"Iya, kau tenang saja. Hatiku dan jiwaku hanya untukmu seorang," Roland menggombal.
"Berlebihan," Tina menarik sudut bibirnya.
"Tapi kau suka, kan?" Ledek Roland membuat wajah kekasihnya itu memerah karena malu.
"Sudahlah, aku mau pulang!" Tina kembali berdiri.
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Roland.
"Belum."
"Pantas saja, kau marah-marah padaku."
"Apa hubungannya?"
"Karena kau lapar jadi pikiranmu tidak tenang. Ayo, kita makan!" Roland berdiri lalu menarik tangan kekasihnya. "Aku tidak mau kekasihku ini terus mengomel, kadar kecantikannya nanti menghilang," sindirnya.
__ADS_1
"Jangan menyindirku!" menunjukkan wajah cemberut.
"Maaf, kalau begitu. Oh, ya, ponselku rusak. Sepulang kerja aku akan segera membelinya. Jadi, kau jangan berpikir yang macam-macam tentangku!" jelas Roland sebelum kekasihnya bertanya.