Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Hari Yang Ditunggu


__ADS_3

Hari pernikahan itu pun tiba, Clarissa tampak begitu anggun dengan gaun putih lengan panjang. Tampak mahkota berlapis berlian menghiasi kepalanya.


Devan menggunakan tuxedo berwarna hitam dan di dalamnya kemeja berwarna putih. Ia tampak tampan dan wajahnya berseri.


Selesai mengucapkan janji pernikahan, Clarissa dipertemukan dengan suaminya. Devan terus tersenyum melihat istrinya tampak begitu cantik.


Sorotan kamera keluarga dan sahabat tertuju pada keduanya. Wartawan tidak diperbolehkan masuk, mereka dapat mengambil gambar dari layar lebar yang tersedia di luar gedung.


Keluarga, saudara, teman, sahabat dan beberapa rekan kerja kedua pengantin memberikan selamat. Hanya Siska tidak mau menghadirinya karena ia tak ingin bertemu dengan Claudia.


Hiko dan Clara datang mengucapkan selamat, keduanya kepergok saling bergandengan tangan. Kemesraan keduanya menjadi sorotan media, wartawan pun menyerbu keduanya saat keluar dari gedung.


Tak lupa yang paling berperan penting dalam hubungan Devan dan Clarissa adalah Hilman sekretaris pribadi Presdir. Ia datang bersama kekasihnya.


"Selamat atas pernikahannya, Tuan!" Hilman mengatupkan kedua tangannya kepada Devan dan Clarissa.


"Ya," jawab Devan ketus.


"Terima kasih, Hilman!" Clarissa tersenyum kepadanya.


Kekasih Hilman memeluk Clarissa, selama acara resepsi berlangsung Devan menolak untuk berjabat tangan. Para tamu hanya mengatupkan kedua tangannya kepada kedua pengantinnya, kecuali tamu wanita yang boleh memeluk dan berjabat tangan dengan istrinya.


"Tuan, setelah ini aku akan melamar dan menikahi kekasihku. Apa kau tidak berniat untuk menambah bonus untukku?" tanya Hilman.

__ADS_1


"Karena kau berjasa dalam hubungan kami, aku akan menaikkan gajimu sebesar 50 persen," janji Devan.


"Terima kasih, Tuan. Aku senang mendengarnya," Hilman tersenyum senang.


"Cepat turun, masih banyak yang ngantri," ceplos Devan.


Hilman melihat ke belakang lalu tersenyum kepada tamu yang ingin memberikan selamat kepada pengantin, ia dan kekasihnya turun lalu menikmati hidangan.


Sementara itu, Harlan sedang direpotkan oleh tingkah Laura. "Lan, jangan terlalu cepat jalannya!" rengeknya.


"Kau ini, makanya pakai baju yang biasa aja," Harlan memperhatikan gaun hijau Laura dengan bagian dada tidak tertutup yang ekornya menjuntai panjang.


"Aku ingin terlihat cantik di depan wanita itu," Laura mengerucutkan bibirnya.


"Harlan, aku ini calon istrimu jadi jangan kasar padaku," Laura menunjukkan wajah centil.


"Mana tanganmu," Harlan menyediakan lengannya untuk di pegang Laura dan wanita mengulum senyum senang.


Kini keduanya sudah berada di atas pelaminan. Harlan mengucapkan selamat kepada kedua pengantin.


"Jangan coba ganggu milikku!" Devan berucap pelan.


"Kau tenang saja, tapi jika dia tersakiti aku akan mengambilnya darimu," ancam Harlan.

__ADS_1


Laura lantas mencubit lengan Harlan, "Kau bilang apa tadi?" ia menyipitkan matanya.


Harlan menatap tajam Laura yang sudah mempermalukannya.


"Kalian kalau bertengkar jangan di acara penting kami," sindir Devan.


Harlan memegang tangan Laura dengan hati-hati wanita itu turun. Yuna akhirnya mengakui kedekatannya dengan Vino. Mereka tak malu-malu tampil di muka umum.


Oma Fera terlihat tersenyum menyapa para tamu undangan. Walau wajahnya masih terlihat pucat tapi ia begitu senang melihat cucunya begitu bahagia.


Tepat pukul 6 sore acara berakhir. Clarissa melepaskan sepatu heels yang ia kenakan, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Lelah sekali!"


Devan melepaskan tuxedo dan melonggarkan dasinya. Ia membuka kemeja putih yang menutupi tubuhnya.


"Hei, kau mau apa?" tunjuk Clarissa ke arah tubuh suaminya.


"Aku mau mandi," jawabnya santai.


"Kenapa membukanya di depanku?"


"Jadi aku harus membukanya di depan umum," jawab Devan ketus.


Clarissa tersenyum nyengir, "Cepat sana mandi. Biar gantian!"

__ADS_1


Devan mendekati ranjang lalu berbisik, "Bersiaplah!"


__ADS_2