
Clarissa hendak masuk ke dalam mobil, namun langkahnya terhenti saat namanya dipanggil. Dirinya dan suaminya melihat ke arah suara. Clarissa segera bersembunyi di balik tubuh Devan, membuat suaminya itu heran.
"Aku ingin bicara padamu, Clarissa!" mohon Roland.
"Kau mengenalnya?" Devan bertanya pada istrinya dengan menoleh ke belakang tubuhnya.
Clarissa mengangguk pelan.
"Anda siapa?" Devan menatap pria yang ada didepannya.
"Saya temannya, kami perlu bicara berdua," jawab Roland.
"Tidak bisa, dia istriku. Kalau anda ingin bicara dengannya, saya harus ikut," Devan berkata tegas.
"Baiklah," Roland menyetujuinya.
"Apa kau ingin berbicara padanya?" Devan melirik istrinya.
"Aku takut, Van."
"Apa yang telah anda lakukan pada istriku?" Tatapan mata Devan tampak tajam.
"Aku hanya ingin meluruskan salah paham di antara kami," Roland melihat wajah Clarissa yang tampak ketakutan.
"Dia tak ingin berbicara pada anda," Devan mensejajarkan posisinya dan merangkul pinggang istrinya.
"Clarissa, tolong dengarkan aku!" Roland memohon.
Clarissa membuka pintu mobil dan bergegas masuk begitu juga dengan Devan. Mereka meninggalkan Gedung Arta Fashion.
-
"Siapa dia?" Devan menoleh sekilas istrinya.
"Dia Roland teman sekolah ku." Clarissa memandang jalanan.
"Apa kalian dahulu memiliki hubungan yang belum diselesaikan?"
"Hah!"
"Apa pria itu mantan kekasihmu?" Devan bertanya lagi.
Clarissa menoleh ke arah suaminya. "Bukan, sayang!"
__ADS_1
"Lalu apa yang harus diluruskan?"
"Hah!"
"Rissa, kenapa diam saja? Jangan membuatku penasaran."
Clarissa menjelaskan masalahnya dengan Roland ketika sekolah dan memberi tahu suaminya alasan kemarin dirinya ketakutan.
"Kalau aku tahu, pria itu yang membuatmu takut. Dari tadi aku akan menghajarnya," geram Devan.
"Lebih baik kau tidak menyentuhnya," larang Clarissa.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau tubuhmu memerah. Belum lagi jika kau ikutan babak belur juga, aku juga yang repot mengurus dirimu ditambah omelan dari Oma."
"Bagaimana jika dia menyakitimu? Aku malah tak bisa memaafkan diriku karena membiarkan pria itu menyentuhmu."
"Semoga itu terjadi, terima kasih sudah perhatian padaku," Clarissa tersenyum menyentuh pipi suaminya.
Devan meraih tangan kanan istrinya yang menyentuh pipinya lalu menciumnya, "Aku tak mau sesuatu terjadi padamu!"
"Aku akan berbicara pada Tina tentang pria itu."
"Karena Tina yang mampu menjinakkannya," jawab Clarissa asal.
"Memangnya mereka ada hubungan?"
"Aku juga tidak tahu, tapi jika ada seseorang yang ingin menyakitiku Tina selalu menjadi pelindungku. Termasuk saat kau membatalkan pernikahan kita, dia ingin saja menghajar dirimu!"
Mendengar ucapan Clarissa membuat Devan bergidik ngeri.
...----------------...
Hilman seorang diri menunggu kekasihnya di sebuah restoran. Mereka akan menikmati sarapan pagi bersama.
Intan dan asistennya juga menikmati sarapan di restoran tersebut. Saat hendak duduk matanya tertuju pada sekretaris Presdir Arta Fashion.
"Aku ke sana sebentar," Intan menunjuk ke arah Hilman dan asistennya mengiyakan.
Intan berjalan menghampiri sekretarisnya Devan. Ia tersenyum lalu duduk di hadapannya.
"Nona, anda di sini juga!" Hilman tersenyum ramah.
__ADS_1
"Lagi menunggu siapa?"
"Calon istri saya, Nona."
"Hilman, bisakah kau menolongku?" Menunjukkan wajah memelas.
"Tolong apa, Nona?"
"Apa kau tahu makanan kesukaan Presdir?"
"Tahu, hampir 3 tahun ini saya dengannya," jawab Hilman bangga.
"Kalau begitu apa?" Intan penasaran.
"Buat apa Nona bertanya seperti itu?" Hilman balik bertanya.
"Saya ingin memasak makanan untuknya sebagai ucapan terima kasih," jelas Intan agar Hilman tak curiga.
"Sepertinya tidak perlu, Nona. Karena Presdir sudah memiliki istri, dia hanya mau masakan Nona Clarissa atau pelayan khususnya saja."
Intan meraih tangan Hilman dan menggenggamnya erat, membuat pria itu membelalakkan matanya. "Tolonglah Hilman!" memohon dengan wajah sendu.
"Presdir tak bisa makan sembarangan, Nona!"
Dita, kekasih Hilman melihat tangan calon suaminya digenggam wanita lain mendadak meradang. Ia mengeraskan rahangnya berjalan ke arah keduanya. "Apa kau tidak bisa menunggu ku sebentar saja?"
Pertanyaan itu membuat Hilman berusaha melepaskan genggaman Intan. "Sayang ini tak seperti yang kau lihat," mendadak panik.
"Kalian berdua berpegangan tangan," Dita melirik Intan yang terlihat santai dan tenang setelah melepaskan tangannya.
"Ini salah paham, Dita." Hilman berusaha menyakinkan kekasihnya itu.
"Hei, kau!" Dita menatap garang Intan. "Dasar artis murahan!" makinya.
Intan berdiri dari tempat duduknya, ia tersenyum sinis pada Dita. "Kekasihmu bukan seleraku!"
"Oh, ya! Jadi untuk apa kau mendekati kekasih ku?" Dita memberikan pertanyaan pada Intan membuat wanita itu tak menjawab dan berlalu.
"Sayang, aku bisa jelaskan!" Hilman meraih tangan kekasihnya agar duduk.
"Kau juga!" Menatap tajam Hilman. "Harusnya kau punya harga diri, jangan mau dipegang seenaknya dengannya. Apa karena dia lebih cantik dari ku?" matanya tampak berkaca-kaca.
"Kau paling cantik di mataku!"
__ADS_1