Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Devan ke dapur?


__ADS_3

Oma Fera sudah duduk di meja makan, bersiap akan sarapan pagi. Namun, hanya dia dan Clarissa yang berkumpul. "Di mana Devan?"


"Lagi di dapur, Oma. Masak nasi goreng," jawab Clarissa.


"Devan ke dapur? Sejak kapan?" Fera mengernyitkan keningnya.


"Pagi buta tadi Tuan Devan ke dapur memasak udang goreng untuk Nona Clarissa," sahut pelayan yang membantu majikannya di dapur.


"Bukankah kau alergi udang?" tanya Oma.


"Lagi pengen saja, Oma."


"Pagi semua!" sapa Devan membawa mangkok kaca sedang berisi nasi goreng. "Aku masak sarapan buat kalian!" ia meletakkan wadah makanan di atas meja.


"Kau yang memasaknya?" Oma tidak yakin.


"Tetap di bantu, Oma. Mana bisa Devan membuat semuanya," ia membuka apron, masker dan sarung tangan lalu memberikannya kepada pelayannya kemudian duduk di samping istrinya. "Ini semua permintaanmu!" bisiknya di telinga Clarissa.


"Terima kasih, sayang!" Clarissa tersenyum senang. Ia menyuap nasi ke dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya, Rissa?" Oma masih tidak yakin.


"Enak, Oma!" Clarissa mengacungkan dua jempol tangannya.


Oma mencicipi masakan cucunya tak lama kemudian ia terbatuk dan meraih gelas air putih lalu meminumnya.


"Apa tidak enak, Oma?" tanya Devan.


"Coba kau rasa sendiri," perintah Oma.


Devan mulai mencicipinya kemudian ia meraih minuman lalu menoleh ke arah istrinya yang begitu lahap memakannya. "Kau yakin itu enak?"


"Memang enak, besok masakin lagi 'ya!" pintanya sambil menunjukkan wajah polosnya.

__ADS_1


"Aku tidak mau, ini tak enak!" Devan menjauhi piringnya.


"Ini sangat enak, sayang!" Clarissa masih mengunyah.


"Jangan memujiku berlebihan seperti ini! Kau sangat aneh!" gerutu Devan.


"Apa kalian sudah periksa ke dokter?" tanya Oma Fera.


"Maksud Oma, istriku ini gila!" ujar Devan.


Clarissa lantas memukul lengan suaminya dan memanyunkan bibirnya.


"Bukan begitu, Devan. Oma curiga jika Clarissa hamil," tebak Fera.


"Apa ciri-ciri wanita hamil seperti itu?" tanya Devan.


"Tidak semua 'sih," jawab Oma Fera.


"Bagaimana kalau hasilnya tidak sesuai?" Clarissa menghentikan makannya.


"Apa bulan ini kau sudah kedatangan tamu?" Oma Fera menatap cucu menantunya.


"Tamu siapa yang datang?" tanya Devan polos.


"Tamu Clarissa, lah!" jawab Oma Fera.


"Kau jumpa dengan pria lain di belakangku?" Devan menyipitkan matanya ke arah istrinya.


"Bukan begitu, Devan!" sahut Oma Fera. "Setiap wanita pasti kedatangan tamu yang hampir tiap bulan menghampirinya," jelasnya.


"Apa Oma juga begitu?" tanya Devan.


"Ketika masih muda, pasti tamu itu datang. Sekarang sudah tua, dia tidak mau datang lagi," jawab Oma Fera menjelaskan membuat Yuki yang ada disampingnya begitu juga dengan Clarissa mengulum senyum.

__ADS_1


"Tamu itu jahat, maunya sama yang muda saja!" gerutu Devan.


Oma Fera dan Clarissa menepuk jidat bersamaan.


"Bersiaplah, kita akan ke Dokter memeriksa dirimu!"


"Kau tidak sarapan?" tanya Clarissa.


"Tidak, aku mau makan yang lainnya," jawab Devan.


"Tapi ini sangat enak," ujar Clarissa.


"Kau saja yang makan, aku dan Oma biar pelayan yang membuatnya!"


"Benarkah?" Clarissa tampak kesenangan.


"Ya."


-


Clarissa dan Devan kini sudah berada di ruang dokter kandungan.


"Selamat, Tuan. Istri anda sedang hamil, usia kandungannya saat ini berjalan empat minggu. Selama kehamilan, jangan sampai Nona Clarissa stress, lelah dan capek."


"Saya tidak pernah membuat dia stress," Devan tak suka dengan pernyataan sang dokter.


"Iya, saya tahu. Pastikan istri anda selalu bahagia," lanjut Dokter menjelaskan.


"Istri saya selalu bahagia, Dok!" Devan mencium tangan Clarissa.


"Ya bagus kalau begitu. Sekali lagi, selamat buat kalian berdua!" Dokter mengakhiri pembicaraan.


"Sama-sama, Dok!" Clarissa berjabat tangan dengan dokter wanita itu sementara itu Devan memilih mengatupkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


__ADS_2