Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Pembuat Onar


__ADS_3

Setelah dari Dokter, Devan dan Clarissa pulang ke rumah. Oma yang tidak sabar mempercepat langkah mendekati cucunya yang baru saja turun dari mobil.


"Bagaimana? Apa kata dokter? Clarissa hamil?" cecar Fera.


Devan tersenyum lalu merangkul pundak istrinya. "Iya, Oma. Clarissa hamil!"


"Syukurlah!" Oma memeluk cucu menantunya lalu mendaratkan kecupan di ubun-ubun kepala. "Bahagia selalu buat kalian!" ia tersenyum.


"Terima kasih, Oma!" Clarissa membalas dengan senyuman.


"Selama hamil, kau tidak boleh bekerja lagi!" larang Oma.


"Oma, Rissa tetap harus bekerja. Ada beberapa kerjaan yang melibatkan istriku ini," ujar Devan.


"Kau ini bagaimana? Istri sedang hamil tapi malah disuruh kerja," protes Oma Fera.


"Oma, aku akan hati-hati. Pekerjaan ini juga tidak terlalu berat," Clarissa menjelaskan.


"Ya, sudah. Setelah beberapa pekerjaan selesai, segera mengambil cuti!" perintah Oma Fera.


"Siap, Oma!" ucap Devan dan Clarissa serentak.


...----------------...

__ADS_1


Seminggu beristirahat di rumah, Clarissa kembali lagi ke Arta Fashion. Devan melarang istrinya menggunakan pakaian yang terlalu ketat dan sepatu heels.


Perjalanan ke kantor, kecepatan kendaraan diturunkan. Biasanya dari rumah ke perusahaan membutuhkan waktu 30 menit kini harus 45 menit.


Sesampainya di kantor, Devan terus menggenggam tangan istrinya. Hilman yang sedari tadi sudah menunggu atasannya di pintu masuk gedung berjalan di belakangnya.


"Aku ingin foto-foto yang kita ambil seminggu yang lalu," pinta Clarissa pada sekretaris suaminya itu.


"Baik, Nona. Nanti saya akan kirimkan!" ujar Hilman.


"Apa hari ini ada pemotretan lagi?" tanyanya lagi.


"Ada, Nona."


"Nanti aku akan ke studio!"


Clarissa kini sudah berada di studio. Kedua model juga sudah bersiap, melakukan pekerjaan mereka. Tiba-tiba Hilman mengatakan jika terjadi keributan di lantai bawah.


Clarissa bergegas turun, begitu orang-orang yang ada di studio foto. Menggunakan lift tanpa didampingi suaminya, ia menemui pembuat onar.


"Akhirnya aku bertemu dengan istri Devan Artama, apa kabar Clarissa?" wanita itu tersenyum menyeringai.


"Ada urusan apa kau ke sini?" Clarissa bersikap tenang.

__ADS_1


"Aku ke sini ingin memberikan pelajaran buat model seperti dia!" tunjuknya ke arah Intan yang berada di belakang Clarissa.


"Jika kau memiliki masalah dengannya, selesaikan di luar gedung!"


"Aku tidak bisa menemuinya di luar, jadi cuma di sini ku bisa bertemu dengannya!" wanita berbicara keras.


"Silahkan keluar, Intan masih ada urusan pekerjaan. Kalian bisa bicara baik-baik di luar sana," jelas Clarissa.


Wanita itu bukannya pergi, ia malah mendorong Clarissa beruntung Dion yang ada dibelakangnya menahan tubuh istrinya Presdir.


"Siapa yang menyuruhmu menyentuh istriku?" suara bariton membuat seluruh mata beralih padanya.


"Presdir!" Dion melepaskan tangannya dari kedua lengan Clarissa.


Hilman yang tahu apa yang dilakukan atasannya itu segera memberikan tisu dan benar saja Devan mengelap lengan istrinya yang disentuh Dion.


Pandangan mata Devan menatap tajam ke arah wanita yang berani mendorong istrinya. "Siapa yang mengizinkan wanita ini masuk ke sini?" ia bersuara lantang.


"Kami pikir dia sekedar tamu biasa , Tuan!" jawab penjaga keamanan gugup.


"Jika dia berani menginjakkan kakinya di sini segera usir!" perintahnya dengan nada dingin.


"Baik, Tuan!" Penjaga keamanan menarik tubuh wanita itu untuk keluar.

__ADS_1


"Devan Artama, sebegitu cintanya dirimu pada dia putri dari seorang pembohong!" teriaknya.


"Apa hukuman yang kau dapatkan beberapa bulan yang lalu tidak membuatmu jera, Nikita Bryan?" Devan menaikan alisnya.


__ADS_2