Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Saling Cuek


__ADS_3

Clarissa melangkah dengan cepat meninggalkan gedung, pria yang selama ia anggap mencintainya dengan tulus ternyata pura-pura. Ia sama sekali tak mengejar dirinya atau memohon maaf, membuat hatinya semakin sakit.


Sesampainya di apartemen, ia memeluk Tina dan menumpahkan tangisannya di bahu sahabatnya itu. "Kau kenapa?"


Yuna yang melihat Clarissa tiba-tiba pulang dan menangis mendekatinya, "Apa yang terjadi?"


"Devan tak sebaik yang ku kira!" Clarissa menangis sesenggukan.


"Dia selingkuh?" tanya Tina.


Clarissa menggelengkan kepalanya.


"Jadi, apa yang dilakukan pria itu?" Yuna penasaran.


"Dia mendekatiku, agar mau kembali ke Arta Fashion," jawab Clarissa terisak.


"Aku tak menyangka, Presdir seperti itu!" Yuna geleng-geleng kepala.


"Aku sudah yakin, kalau Presdir tidak pernah tulus mencintaimu," tutur Tina.


"Aku benci dia!" Clarissa mengelap air matanya dengan tisu.


"Tenanglah, Rissa. Kau tak pantas menangisi pria yang mempermainkan hatimu," ujar Tina.


"Ya, setelah kontrak ini berakhir. Kau tidak boleh menerima pekerjaan dari Arta Fashion lagi," ucap Yuna.


...----------------...


Seminggu kemudian


Tak ada pesan atau telepon dari Devan, semakin Clarissa yakin kalau pria itu memang benar mempermainkan dirinya.


Tujuh hari lagi peluncuran produk dan iklan akan ditayangkan di stasiun televisi, Clarissa meminta pengisi acara tersebut selain dia itu harus ada penyanyi idolanya.


Ia meminta Yuna bicara kepada Hilman untuk menuruti keinginannya, kalau tidak ia takkan mau menghadiri acara peluncuran produk.


Hilman menemui Devan di ruangannya, "Selamat siang, Tuan!"


"Ada apa?"

__ADS_1


"Nona Clarissa meminta pengisi acara peluncuran produk baru kita penyanyi Mawar Lestari," ucap Hilman.


"Turuti saja keinginannya," ujar Devan.


"Tapi, Tuan..."


"Lakukan saja!" titah Devan.


"Baik, Tuan!" Hilman pun pamit.


Hilman menelepon Yuna dan mengatakan kalau Devan menyetujui permintaan Clarissa.


-


Apartemen Clarissa


"Presdir menyetujui acara peluncuran produk, akan tampil Mawar Lestari," Yuna menarik kursi dan bergabung dengan kedua temannya di meja makan.


"Kenapa secepat itu dia menyetujuinya?" tanya Clarissa.


Yuna menaikkan kedua bahunya.


"Apa Presdir akan menghadiri acara tersebut?" tanya Tina sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Tapi ini acara besar, edisi terbaru sekaligus produk baru di bulan ini," tutur Yuna.


"Ya, biasanya Arta Fashion akan mengeluarkan pakaian dan sandal tapi tahun ini mereka mengeluarkan tas," jelas Tina.


"Aku tak peduli dia mau datang atau tidak, yang penting bagiku segera menyelesaikan kontrak kerja sama dengan mereka," ungkap Clarissa yang sudah terlanjur sakit hati.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Devan baru saja pulang dari tempat gym. Ia berjalan menuju kamarnya, Oma Fera menghampirinya yang hendak membuka pintu kamar.


"Kau dari mana saja?"


"Tempat gym," jawabnya singkat.


"Akhir-akhir ini kau selalu menghindari Oma," ucap Fera.


"Mungkin itu perasaan Oma saja," ujar Devan.

__ADS_1


"Van, Oma tahu dirimu. Tidak biasanya kau seperti ini!"


"Oma, aku mau istirahat!" Devan membuka gagang pintu.


......................


Keesokan harinya...


"Van, kau tidak sarapan?" Fera berteriak memanggil cucunya yang akan menaiki mobilnya.


"Tidak, Oma!" Devan masuk ke dalam mobil dan melesat ke perusahaannya.


Sesampainya di sana, ia berpapasan dengan Clarissa yang juga baru turun dari mobil. Sejenak keduanya bertemu pandang, namun Clarissa segera membuang wajahnya dan memakai kacamata hitamnya. Ia berjalan ke dalam gedung, untuk melakukan rapat dengan tim Arta Fashion.


Pertemuan kali ini membahas tentang acara yang akan berlangsung beberapa hari lagi, Devan juga menghadiri rapat tersebut. Namun, ia memilih diam tak mau banyak berbicara semuanya ia serahkan pada bawahannya.


Selesai rapat, Devan segera pergi ke ruangan kerjanya Hal itu membuat Clarissa semakin kesal dan kecewa. Ia pun melangkah keluar, namun Rey datang menyapanya. "Rissa!" panggilnya.


"Ada apa, Rey?"


"Bagaimana kondisi Paman?"


"Paman? Maksud kau, papanya Raya?" Clarissa balik bertanya.


"Iya, bagaimana kabarnya?"


"Kau menanyakan kabar Paman Ardian atau putrinya?" lagi-lagi Clarissa balik bertanya.


"Keduanya," jawab Rey.


"Terakhir aku menelepon ibuku dua hari yang lalu, dia mengatakan kalau kondisi Paman sudah membaik," jelas Clarissa.


"Oh, syukurlah!" ucap Rey. "Aku lihat kau sekarang jarang bersama Devan," lanjutnya.


"Rey, aku ada pemotretan lagi," Clarissa berusaha tidak terlalu lama berbicara dengan sepupunya Devan.


"Baiklah, Rissa. Hati-hati di jalan," ucap Rey. Clarissa bergegas pergi meninggalkan gedung.


Rey menatap punggung Clarissa dari kejauhan sampai tubuh itu menghilang. Ia membalikkan badannya dan melihat Devan berdiri tegak dengan memasuki kedua tangannya di saku celana.

__ADS_1


"Aku hanya bertanya tentang keadaan Paman saja," ucap Rey sedikit gugup, ia takut Devan salah paham.


"Kembalilah bekerja!" ucapnya dingin.


__ADS_2