
Sore itu juga Ardian pulang dari rumah sakit, Claudia datang untuk menjemput suaminya walaupun ada Raya yang sudah menemaninya.
Di waktu dan tempat yang sama, Siska pun bersiap akan meninggalkan rumah sakit. Di persimpangan lorong rumah sakit ia bertemu dengan wanita yang sangat ia benci dari masa sekolah. Ya, dia bertemu dengan ibunya Clarissa yang sudah merusak rumah tangga kedua orang tuanya padahal ia hanya salah paham saja.
"Mimpi apa aku semalam bertemu dengan wanita perebut suami orang," Siska menyindir.
"Mama, ayo kita pulang!" ajak Rey pelan.
Ardian menggenggam tangan istrinya itu agar sabar, ia mengetahuinya semuanya.
"Mama pun malas lama-lama bertemu dengannya," ucap Siska terus mengomel dan berjalan.
"Maafkan Mama saya, Tante!" ucap Rey.
Claudia mengangguk pelan.
"Rey, cepat sini. Jangan dekati mereka!" teriak Siska.
"Sekali lagi maaf Paman, Tante. Saya permisi!" Rey melangkah cepat menghampiri mamanya.
"Kalian saling mengenal?" tanya Raya.
"Iya," jawab Claudia pelan.
"Apa benar yang dikatakan mamanya Rey?" tanya Raya.
"Apa kamu mengenalnya, Raya?" tanya Ardian.
"Aku mengenalnya, dia bekerja di Arta Fashion dan sepupunya Devan," jawab Raya. "Tapi, kenapa wanita itu menyebut Bibi perebut suami orang?" tanyanya lagi.
"Hanya salah paham saja," jawab Ardian. "Ayo, kita pulang. Papa rindu dengan Rara dan Riri," lanjutnya.
-
Sebelum kembali ke rumah putranya, Siska meminta Rey singgah di restoran terdekat. Ia ingin makan makanan favoritnya, walaupun mereka memiliki usaha kuliner di kota B dan D. Sesampainya di sana papa Rey sudah tiba.
Makanan pun dihidangkan, di meja makan. Namun, mata Siska tertuju pada Clarissa dan Devan yang baru saja turun dari mobil dan masuk ke dalam toko mainan yang ada di depan restoran.
"Bukankah itu Devan?" tanya Siska.
Rey dan Papanya mengarahkan pandangannya mengikuti tatapan Siska, Rey menepuk jidatnya ia berharap mamanya tidak berulah lagi.
"Apa mereka memiliki hubungan?" tanya Siska lagi.
"Biarkan saja mereka punya hubungan, kenapa Mama yang repot," ujar Papa Rey.
"Wanita itu tak pantas menjadi bagian keluarga besar Daniel," ucap Siska. Karena Opa Devan dan Oma Rey adalah saudara kandung.
"Sudahlah, Ma. Lupakan dendam Mama itu," ucap Papa Rey.
"Tidak bisa, karena ibunya aku jadi terpisah dengan ayahku," tutur Siska.
"Ma, yang lakukan ibunya kenapa harus menyalahkan Clarissa?" tanya Rey.
__ADS_1
"Tapi dia darah daging dari wanita jahat itu!" jawab Siska.
"Sudahlah, Ma. Mau lanjutin makan atau tidak?" tanya Papa Rey mulai kesal.
Siska pun melanjutkan makannya, ia tersenyum menyeringai melihat pasangan muda mudi yang baru saja keluar dari toko mainan.
Sementara itu, Clarissa dan Devan melesatkan mobilnya ke arah sebuah restoran cepat saji. Mereka menghadiri acara ulang tahun anak dari salah satu penggemar Clarissa.
Mereka membawakan mainan anak laki-laki sebagai kado ulang tahun. Sesampainya di sana, Devan memilih menunggu di mobil. Namun, kedua temannya Clarissa sudah menunggu sang artis di depan restoran.
Clarissa turun menggunakan kacamata hitam, dengan pakaian yang ada penutup kepalanya. Tak lupa beberapa penjaga keamanan restoran mengawalnya masuk.
Penggemar Clarissa begitu senang dan bahagia, artis idolanya menghadiri ulang tahun putranya. Beberapa tamu undangan yang hadir, sangat antusias dengan kehadiran sang artis. Mereka beramai-ramai minta foto.
"Kak Clarissa, minta foto dong!"
"Kakak cantik sekali!"
Beberapa teriakan pujian terlontar dari mulut para penggemarnya dengan sabar ia melayani sesi foto. Tak sampai setengah jam, ia pamit pulang kepada penggemar yang punya acara.
"Kak Clarissa, terima kasih sudah hadir!" ucapnya senang.
"Sama-sama," Clarissa tersenyum, ia pun berlalu.
-
Di dalam mobil, ia membuka kacamata hitamnya dan menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang.
"Pulang saja, besok pagi aku ada pemotretan di Arta Fashion," jawab Clarissa.
Devan menghidupkan mesin mobil dan berlalu meninggalkan restoran.
...----------------...
Pukul 8 pagi, Clarissa dan tim berangkat ke Arta Fashion. Sebelum melakukan pemotretan, karyawan Devan menjelaskan konsepnya lagi. Ia di rias, kali ini ada penambahan model anak laki-laki dan perempuan sebagai pendampingnya.
Pemotretan hari ini, Devan tak menemaninya karena ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Tepat pukul 12 siang, semua selesai. Seperti biasa, Clarissa dan Devan akan menikmati makan siang bersama.
Selesai makan siang, Clarissa kembali ke Arta Fashion menemani kekasihnya di ruangannya. "Apa tidak masalah aku menunggumu di sini?"
"Tidak, sebentar lagi ku juga akan pulang. Aku akan menemanimu ke stasiun televisi itu!" tawar Devan.
"Van, kenapa perasaanku tidak enak 'ya?"
"Kenapa kau sakit?"
"Tidak."
"Kalau sakit, aku antar pulang," ucap Devan.
"Tidak usah, aku menunggumu saja. Lanjutkan pekerjaanmu," ujar Clarissa.
Devan melanjutkan pekerjaannya dan Clarissa duduk di sofa tamu sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
Hilman yang sedang bekerja juga, tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya Oma Fera. Ia pun beranjak dari kursinya dan menyapa mantan atasannya itu.
"Ada Devan di ruangannya?" tanya Oma Fera.
"Ada, Nyonya."
Oma Fera segera masuk ke ruangan cucunya tanpa mengetuk pintu. Ia melihat Clarissa berada di ruangan yang sama dengan cucunya.
Devan dan Clarissa berdiri melihat kedatangan Oma Fera secara tiba-tiba. "Oma, ada apa ke sini?" tanya Devan menghampirinya.
Oma Fera terlihat menahan amarah, ia berjalan ke arah Clarissa yang tampak ketakutan.
Plaakk....Tamparan keras mengenai pipi sang artis.
"Apa yang Oma lakukan?" Devan menahan tangan Fera yang hendak menampar lagi, ia mendekap tubuh tua itu agar tak melakukannya lagi.
"Itu pantas untuknya!" ucap Fera dengan lantang.
"Apa salahku?" tanya Clarissa lirih memegang pipinya.
"Salahnya kau berani mendekati cucuku," jawab Fera. "Cucuku memberikan honor mahal kepadamu bukan untuk mendekatinya, apa lagi aku yang sudah mempercayaimu kembali bergabung di sini," tatapan marah ia tunjukkan pada Clarissa.
"Oma, bukan dia yang mendekatiku. Tapi aku sendiri yang mendekatinya," ucap Devan.
"Kau yang mendekatinya?" tanya Fera.
"Iya, Oma." Devan menundukkan kepalanya.
"Kau sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta padanya!" Fera menunjuk wajah Clarissa.
"Aku terpaksa melakukan itu, Oma. Agar Clarissa mau kembali ke Arta Fashion," jawab Devan.
"Apa terpaksa?" batin Clarissa bertanya.
"Jadi, kau hanya pura-pura menyukainya?" tanya Oma Fera pada cucunya.
"Iya, Oma!"
Mendengar itu tubuh Clarissa bergetar dan matanya berkaca-kaca melihat sosok kekasihnya, selama ini Devan mencintainya tidak tulus.
"Hanya dengan cara itu agar dia bisa kembali ke Arta Fashion," ucap Devan.
Clarissa yang masih memegang pipinya, ingin marah tapi ia benar-benar kecewa. Ia mengambil tasnya di atas meja kemudian berlalu tanpa mengucapkan apa-apa.
"Maafkan aku, Clarissa!" batinnya. Ia menatap perih tubuh wanita yang ia cintai itu pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa tinggalkan like dan komen..
Dukungan kalian semangatku untuk melanjutkan cerita ini...
Terima Kasih...🌹
__ADS_1