Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Dion dan Intan


__ADS_3

Hilman datang ke ruang Presdir, ia berdiri dihadapan atasannya itu dengan raut wajah ketakutan. Karena saat ia mengajukan cuti untuk menikah, Devan terlihat marah dan tak senang.


"Tadi pagi kau mengajukan surat cuti, kan?" tanya Devan.


"Ya, Tuan." Menundukkan kepalanya.


"Berapa lama kau minta?" tanyanya lagi.


"Dua minggu saja, Tuan."


"Apa cukup?" Devan bertanya lagi.


"Cukup, Tuan."


"Bagaimana kalau aku tambah menjadi satu bulan? Apa kau mau?" tawar Devan.


Clarissa dari meja kerjanya hanya mengulum senyum mendengar percakapan antara dua pria itu.


"Hah, anda tidak salah? Saya cukup dua minggu saja cutinya," ujar Hilman.


"Aku akan memberikan cuti satu bulan dan surat ini!" Devan menyodorkan kertas di dalam amplop putih.


"Ini apa, Tuan?" Hilman memegang amplop tersebut.


"Bacalah!" perintah Devan.


Hilman membaca surat itu kemudian ia tersenyum. "Ini benar untuk saya, Tuan?"


Devan mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih, Tuan!" Hilman memeluk Devan.


Seketika rahang Devan mengeras, lalu mendorong tubuh sekretarisnya itu.


"Maaf, Tuan!" menundukkan kepalanya. "Saya terlalu senang," ujarnya.


"Pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran!" usir Devan.


"Baik, Tuan." Hilman bergegas keluar ruangan.


Melihat suaminya dipeluk Hilman, Clarissa tergelak.


Devan mendekati meja istrinya. "Kau puas mentertawakan aku?"


Clarissa terdiam tapi suara tertawa masih terdengar dari mulutnya yang terkunci.


"Kau mulai mencari masalah denganku, ya!" Devan menarik hidung istrinya.


"Sayang sakit!" Clarissa memukul tangan suaminya.


"Ini akibatnya karena mengejekku," Devan memegang tangannya.


Clarissa memanyunkan bibirnya.


"Apa kau tidak lapar?" Devan menatap istrinya.


"Ya."


"Bagaimana kalau kita makan di rumah saja?"


"Ya, kita di rumah saja. Aku kangen dengan Raisa," ujar Clarissa.


"Ayo kita pulang!" ajak Devan.


-


-


Intan kembali dipasangkan dengan Dion dalam satu iklan pewangi pakaian. Setelah syuting berakhir, pria itu meminta bantuan Ayu untuk mempertemukan dirinya dengan Intan dan wanita itu menyanggupi keinginan Dion.


Sebuah kafe, Intan duduk seorang diri. Dion pun datang sendirian. Ia duduk persis dihadapan mantan kekasihnya itu.


"Kenapa kau ada di sini?" Intan tampak heran.


"Ini kafe bukan dipesan khusus olehmu, kan?"


"Ya, memang bukan. Tapi, aku sedang menunggu seseorang. Bisakah kau pindah?"


"Ku lihat di sini tidak ada orangnya. Apa salahnya jika aku duduk menemanimu?"


"Iya, tapi nanti orang yang akan menemui aku duduk di mana?"


"Di sana bisa, di situ juga bisa!" Dion menunjuk kanan dan kiri Intan.


"Kau memang sangat menyebalkan!" Intan mendengus kesal. "Lebih baik aku saja yang pindah tempat!" Ia berdiri dari kursinya.


Dengan cepat Dion menahan tangannya. "Mau ke mana?"


"Aku mau mencari tempat duduk yang tidak ada dirimu," jawab Intan.


"Duduklah, jangan pindah!" pinta Dion.


Intan kembali duduk dengan wajah cemberut.


"Kau sangat cantik!" puji Dion sembari tersenyum.


Intan tak menghiraukan ucapan Dion, ia memilih fokus dengan ponselnya.


"Kau di sini menunggu siapa?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu!"


"Apa dia seorang pria?"


"Aku bilang bukan urusanmu!" jawab Intan tegas.


Dion tertawa melihat ekspresi wajah Intan.


"Apa ada yang lucu?" Intan menatap tak suka.


"Ya, dirimu!"


"Oh, ya aku ke sini ingin bertemu dengan seorang wanita yang cantik," ungkap Dion.


"Aku tidak bertanya," ucap Intan ketus.


"Kau tidak cemburu?" tanya Dion.


"Aku cemburu? Ciih, percaya diri sekali dirimu!" membuang wajahnya.


"Benarkah kau tidak cemburu?" tanya Dion sekali lagi. "Selain cantik, dia terkenal tapi sombong dan ketus juga," lanjutnya menjelaskan.


"Lebih baik aku pulang saja, sepertinya dia tidak datang," gumam Intan kemudian ia bangkit dari kursinya.


"Kau mau ke mana?" tanya Dion lagi.


"Aku mau pulang," jawabnya.


"Aku belum selesai bicara denganmu," ujar Dion.


"Tapi, aku tidak ingin bicara denganmu," Intan menolaknya.


"Kau harus bicara padaku, karena kita sudah berjanji!"


"Janji? Jadi, kau orang yang ingin bertemu denganku membahas bisnis?"


"Ya, cuma itu caranya agar aku bisa bicara denganmu!" Dion berdiri.


"Ayu memang keterlaluan membohongiku!" geram Intan.


"Jangan memarahinya, aku yang meminta padanya," pinta Dion.


Intan kembali duduk dan menatap Dion.


"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman diantara kita," ungkap Dion.


"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi, kita tak ada hubungan apa-apa lagi," Intan mengulangi kata-katanya.


"Aku dan wanita yang kau temui di kamarku, kami tidak memiliki hubungan apa-apa," jelas Dion.


"Terus kenapa dia ada di kamarmu?"


"Tapi, dia berkata padaku kalau kau adalah kekasihnya."


"Intan, percaya padaku. Aku dan dia memang akan dijodohkan tapi ku menolaknya karena ada kamu!"


"Sekarang kita tidak bersama lagi, kau bisa menerima dia!"


"Intan, aku mencintaimu!"


Intan menatap Dion tak percaya.


"Aku sangat mencintaimu, Intan. Ku mohon berikan kesempatan lagi untukku!" pintanya.


Intan meraih tasnya dan memilih pergi tanpa membalas ucapan. Dion mengejarnya sampai ke mobil.


Mobil Intan berlalu meninggalkan kafe.


-


Dion kembali ke apartemennya dengan keadaan lesu.


"Bagaimana berhasil?"


"Tidak, dia sepertinya masih marah."


"Kau harus berusaha lebih keras lagi," Manajernya menyemangatinya.


"Apa kau ada ide lagi?" tanyanya.


Manajer menggelengkan kepalanya.


"Aku benar-benar tidak tahu lagi, bagaimana memikat hatinya?" Dion menghela nafas pasrah.


"Aku ada ide!" jawab Manajernya.


"Apa itu?" Dion begitu penasaran.


Manajer berbisik di telinganya.


Dion menatap manajer setelah membisikkan sesuatu. "Apa kau yakin ini berhasil?" tanyanya.


"Coba saja!"


......................


Dion sudah menjelaskan maksud dan tujuannya kepada Ayu, wanita itu pun mengatur rencana selanjutnya.


"Aku akan pergi sebentar keluar, kau tidak apa 'kan ku tinggal?"

__ADS_1


"Tumben sekali bertanya, biasanya kau pergi saja!" sindir Intan.


"Biar kau tidak mencari aku!"


"Sudah sana pergi, cepat kembali!" pintanya.


"Ya," Ayu pun pergi.


Lima menit kemudian bel berbunyi, Intan berjalan membuka pintu. "Cari siapa?"


"Saya di suruh Nona Ayu untuk membersihkan apartemen ini," jawabnya.


"Aku akan menghubungi Ayu," Intan membuka ponselnya lalu menelepon manajernya itu.


Tak sampai semenit Intan menutup teleponnya.


"Bagaimana, Nona?"


"Ya, sudah. Silahkan masuk!" Intan berjalan lebih dahulu, ia lalu memberikan tugas apa saja yang harus dikerjakan.


Pria itu mulai mengerjakan tugasnya, pertama ia mengelap televisi setelah itu ia duduk dan menikmati cemilan yang tersedia di meja.


Intan yang baru saja keluar, menatap heran dan marah. "Kenapa kau makan makananku?"


"Saya capek, Nona."


"Kau dibayar bukan untuk duduk santai lalu menikmati makanan," omel Intan.


"Sebentar lagi, saya akan kembali bekerja," pria itu tetap memegang toples.


Intan meraih toplesnya, "Cepat selesaikan pekerjaanmu!"


"Kau sangat cerewet sekali, Nona!"


Intan tersenyum tipis, "Aku memang sangat cerewet. Selesaikan pekerjaanmu setelah itu pergi dari sini!"


Pria itu bangkit dari tempat duduknya lalu ia mengelap meja dan menyapu lantai, sementara itu Intan menikmati makan siangnya di ruang dapur.


Setelah membersihkan ruang santai, pria itu pergi ke dapur. Ia menarik kursi dan duduk di depan Intan.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di sini?"


"Aku lapar, Nona." Pria itu menampilkan senyumnya.


"Kenapa senyum dan suaranya hampir mirip Dion?"


Pria itu meraih piring Intan dan memakan mienya.


"Hei, kenapa kau makan mie ku?" Intan menatap geram.


"Mienya sangat enak, pintar juga Nona memasaknya," pujinya.


Intan memundurkan kursinya, ia pergi meninggalkan dapur. Lalu ia mencoba menelepon Ayu tapi tak ada jawaban dari manajernya itu.


Setelah makan mie, pria itu mencuci piring yang ada di wastafel. Ia pun kembali mengikuti Intan.


"Lebih baik kau pulang saja!" usirnya.


"Kerjaan saya belum selesai, Nona."


Intan mendorong tubuh pria itu keluar. "Aku akan mentransfer upahmu!"


"Saya tidak ingin gaji, Nona!" tolaknya.


"Jadi kau mau apa, hah!" Intan mulai tersulut emosi.


"Saya mau anda!"


"Kau sudah gila, aku tidak mau denganmu!" Intan berusaha mendorong tubuh kekar itu. Namun, tubuhnya malah didekap. "Hei, kau mau apa?" teriaknya.


"Diamlah!" pria itu menutup mulut Intan.


Intan berusaha melepaskan dirinya, namun usahanya sia-sia.


Pria itu membuka topi, kacamata serta kumis palsunya membuat Intan mendelikkan matanya.


Sekuat tenaga Intan mendorong tubuh pria yang mengaku petugas kebersihan. "Brengsek!"


"Maaf!" Dion berkata dengan nada sendu.


"Pergi dari sini!" usirnya dengan lantang.


Dion malah meraih tubuh Intan dengan beringas ia melahap bibir ranum sang artis hingga membuat wanita itu sulit bernafas.


Dengan sekuat tenaga, Intan memberontak. Ia sampai menggigit bibir Dion agar bisa lepas. Ia mengelap bibirnya dengan telapak tangannya. "Aku benci kau!" tampak matanya berkaca-kaca.


"Maaf!"


"Jauhi aku dan jangan pernah kembali!" teriaknya.


Dion menggelengkan kepalanya, "Aku tidak akan pernah pergi darimu!"


"Kau, egois. Aku berhak bahagia meski bukan bersamamu!"


"Apa alasanmu tidak memberikan kesempatan padaku?"


"Karena aku tidak mencintaimu lagi!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karyaku yang lainnya..


__ADS_2