Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Gadis Kecil


__ADS_3

Pagi ini Clarissa mengadakan konferensi pers di sebuah restoran tak jauh dari apartemennya. Ia akan memberikan klarifikasi tentang kabar yang menyebutkan dirinya dan Arta Fashion terlibat masalah pribadi hingga pemutusan kontrak secara sepihak.


"Apa benar kalau Arta Fashion memutuskan kontrak dengan anda?" tanya wartawan.


"Itu tidak benar," jawab Clarissa.


"Ke mana saja anda selama ini?"


"Saya sedang liburan di kota kelahiran dan kebetulan ada juga pekerjaan di sana," jelasnya.


"Apa benar anda memiliki hubungan dengan Presdir Arta Fashion?"


Clarissa mengulum senyum. "Tidak, kami hanya sebatas teman saja!"


"Video di kafe itu menjelaskan kalau anda memiliki hubungan?"


"Itu kebetulan kami bertemu di sana," jawab Clarissa.


"Beredar foto jika anda dan Tuan Devan berpelukan di Danau Pelangi?"


"Hmmm, pertanyaannya sudah 'ya. Saya harus kembali bekerja, terima kasih waktunya!" Clarissa berdiri dan mengatupkan kedua tangannya sambil tersenyum kepada awak media.


"Nona Clarissa, apa benar hubungan anda dengan Tuan Devan?" Para awak media tetap bertanya walau sesi wawancara telah usai.


"Teman-teman media, cukup 'ya klarifikasi hari ini!" ucap Yuna.


Di bantu beberapa pengawal dan penjaga keamanan menaiki mobil, Clarissa dan kedua temannya meninggalkan restoran.


-


-


Malam harinya di kediaman Keluarga Artama..


Devan yang melihat berita di televisi menarik sudut bibirnya. Ia cukup puas mendengar penjelasan Clarissa di media.


"Apa benar kemarin kau pergi ke Danau Pelangi?" Oma Fera ikut duduk bersama dengan cucunya menonton televisi.


"Iya, Oma. Aku ke sana untuk membujuknya," jawab Devan.

__ADS_1


"Apa benar kalian memiliki hubungan?" tanya Oma Fera menatap wajah cucunya itu.


"Kenapa pertanyaan Oma sama dengan para wartawan?" Devan balik bertanya.


"Foto kalian berpelukan di Danau itu tersebar di semua media," ucap Oma Fera.


"Itu tidak sengaja Oma, dia membantu ku berdiri. Saat itu aku merasa pusing ketika memasuki wilayah danau," ujar Devan.


"Kau tidak ingat dengan tempat itu?" tanya Oma Fera.


Devan menggelengkan kepalanya pelan.


"Itu tempat orang tuamu menemukanmu setelah tiga hari menghilang," ucap Oma Fera.


"Maksud Oma, aku diculik?"


"Ya, pria itu teman Papamu," jawab Fera.


"Apa alasan dia menculik ku?"


"Dia terlilit utang dan memeras Papamu untuk memberikan uang tebusan," jelas Fera.


"Van, kamu kenapa?" Oma Fera tampak panik.


"Kepalaku sakit sekali, Oma!" Ia meringis menahan sakit.


Oma Fera memanggil pelayannya untuk memapah tubuh Devan ke kamar.


"Jangan dipaksa untuk mengingatnya!" Fera menasehati cucunya yang terbaring lemah di ranjang.


Devan mengangguk pelan. "Oma, apa penculik itu ada hubungannya dengan gadis kecil itu?" tanyanya dengan suara lemah.


"Gadis kecil?"


"Iya, Oma. Aku sering memimpikan dia!"


"Kau masih menyimpan kalung itu?" Oma duduk di sisi ranjang.


"Ya, Oma."

__ADS_1


"Apa kau mengingat wajah gadis itu?" tanya Fera.


"Tidak, Oma. Wajahnya tidak terlalu jelas, tapi Ibunya menarik dirinya menjauh dari ku," jawab Devan.


"Enam belas tahun yang lalu, seorang wanita muda memberi tahu kepada petugas keamanan rumah orang tuamu bahwa ia melihat dirimu berada di Danau Pelangi," Fera mulai menjelaskan. "Setelah mendapatkan kabar, wanita muda itu menghilang. Kedua orang tuamu mencarinya ke sana. Benar saja kau ditemukan dipinggir danau dalam keadaan pingsan dengan tangan memegang kalung," lanjutnya menjelaskan.


"Apa Oma tahu siapa penculiknya?" Devan bangun dan duduk berhadapan dengan Oma Fera.


"Oma tidak tahu namanya tapi ia memiliki seorang putri," jawab Fera.


"Apa Oma masih mengingat wajahnya?" tanya Devan.


Oma Fera mengangguk mengiyakan.


"Apa gadis kecil itu putrinya?" Devan penasaran.


"Oma tidak tahu," jawabnya.


"Apa pria itu masih hidup, Oma?" tanya Devan.


"Oma tidak tahu, pria itu tinggal di kota yang sama dengan Mamamu. Karena iba padanya kedua orang tuamu melepaskannya dan memaafkannya," jawab Fera. "Apa kau tidak mengingat sedikit pun tentang wajah pria itu?" tanyanya pada Devan.


"Mungkin saja jika ku melihat fotonya, aku mengenalnya," Devan berusaha mengingat kejadian itu.


"Jangan dipaksa, Devan!"


"Iya, Oma."


"Bagaimana jika gadis kecil itu putrinya?" tanya Devan.


"Apa kau masih ingin menikahinya?" Oma Fera balik bertanya.


"Sepertinya tidak, Oma!"


"Oma juga tidak setuju, kau dengan gadis itu jika memang dia putrinya," ucap Fera.


Setelah mengobrol panjang dengan Oma Fera, ia mulai merasakan ngantuk. Mimpi buruk itu kembali muncul. Gadis kecil itu menarik dirinya yang hampir tenggelam, dia berteriak memanggil ibunya untuk menolong anak laki-laki itu.


Tak lama kemudian ia terbangun dengan nafas memburu dan berkeringat. Ia membuka laci nakas dan membuka kotak kecil berisi kalung dengan inisial nama.

__ADS_1


"Aku berharap semoga kau bukan putri dari pria itu!" batinnya berharap.


__ADS_2