Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Mencari Restu Orang Tua Rey


__ADS_3

Clarissa membalikkan badannya menoleh ke arah yang memanggilnya. Devan menatap tak suka Harlan yang mendekati wanitanya.


"Rissa, aku minta maaf atas perlakuan Laura kepadamu!" Harlan merasa bersalah dengan kejadian tadi walau bukan dia pelakunya.


"Aku juga akan melakukan hal yang sama seperti Laura lakukan jika pria yang ia sukai dekat dengan wanita lain," Clarissa bicara sambil melirik Devan.


"Tidak ada wanita lain di hatiku selain dirimu," Devan berbisik di telinga Clarissa.


"Rissa, sebagai permintaan maaf. Aku akan memberikan paket liburan untukmu," tawar Harlan.


"Oh, tidak perlu. Arta Fashion sudah memberikannya paket liburan mewah selama sepekan," sahut Devan.


"Hah!"


"Apa itu benar, Rissa?" Harlan belum yakin.


Clarissa tersenyum nyengir, "Ya itu benar."


"Benarkan yang aku katakan," Devan tersenyum menang.


"Arta Fashion memberikan paket ke Dubai dan Istanbul, bukan hanya aku saja tapi Yuna dan Tina ikut. Kedua orang tuaku dan Raya juga," jelas Clarissa tersenyum sambil menatap Devan.


"Kenapa dia berkata seperti itu?" Devan bertanya dalam hati.


"Ya sudah kalau kamu memang mendapatkan fasilitas seperti itu dari Arta Fashion, sekali lagi aku minta maaf," Harlan menundukkan pandangannya.


"Aku pamit pulang," Clarissa meninggalkan Harlan di susul Devan di belakangnya.


"Clarissa!" Devan mensejajarkan tubuhnya berjalan ke arah parkiran.


"Ada apa?" tanyanya ketus.


"Sejak kapan aku memberikan fasilitas seperti itu?"


"Dan sejak kapan kau belajar berbohong?" Clarissa menghentikan langkahnya dan menatap wajah Devan.


"Aku terpaksa biar dia tak mencari kesempatan mendekatimu."

__ADS_1


"Kau harus memenuhi ucapanmu tadi," tagih Clarissa.


"Ucapan yang mana?"


"Paket liburan mewah, kau harus memenuhinya. Kalau tidak aku akan pergi dengan Harlan saja," ancam Clarissa.


"Aku akan memenuhinya, tapi kau harus berjanji mau menikah denganku!" mohon Devan.


"Aku tidak janji," Clarissa melanjutkan langkahnya.


"Hei, tolong jangan siksa aku seperti ini," Devan mengejar langkah Clarissa.


Clarissa mengulum senyumnya sambil berjalan ke parkiran.


"Aku akan mengantarmu pulang," Devan menawarkan diri.


"Aku tidak mau."


"Kenapa?"


"Malah itu yang aku inginkan," Devan menarik tangan Clarissa dan membuka pintu mobil. "Silahkan masuk, Tuan Putri!" Devan menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Terima kasih, pengawal ku!" Clarissa menunjukkan wajah imutnya.


......................


Siang ini Raya datang berkunjung ke rumah orang tua Rey. Kali pertama ia di bawa pria itu menemui calon mertuanya.


Raya dan Rey menjalin kasih hampir empat bulan sebelum Devan memutuskan membatalkan pernikahannya dengan Clarissa.


Raya duduk di ruang tamu di dampingi Rey. Kedua orang tuanya muncul dihadapannya.


"Jadi wanita ini calon istrimu, Rey?" Siska menatap sinis Raya.


"Iya, Ma."


"Mama tak setuju kamu dengannya," Siska berkata tanpa basa-basi.

__ADS_1


Raya menatap Rey lalu melihat wajah Siska.


"Ibu tirinya Claudia, aku tak suka dengan wanita itu," jelas Siska.


"Ma, ini tak ada hubungannya dengan Tante Claudia biarkan itu jadi masalah Mama dengannya," tutur Rey.


"Ma, jangan libatkan dendam masa lalu dirimu dengan kebahagiaan anak kita," ujar Papa Rey.


"Papa tidak tahu, Claudia itu..."


"Cukup, Ma!" Papa Rey memotong ucapan istrinya.


Siska berdiri dari sofa tamu, "Aku tetap tidak setuju, putraku menjalin hubungan keluarga dengan Claudia!"


"Aku akan tetap menikahi Raya meski Mama tak merestui kami," Rey berkata tegas.


"Sekarang kau jadi melawan karena wanita ini," Siska menunjuk wajah Raya.


Raya yang ditunjuk merasa terhina, rasanya ia ingin menerkam calon ibu mertuanya.


"Aku akan mencari tahu apa alasan Mama membenci Tante Claudia," ujar Rey.


"Mama sudah menjelaskan kepadamu," Siska berbicara lantang.


"Sepertinya Tante tidak tahu seperti apa sikap Mama Claudia, aku rasa dia tak seburuk pikiran orang-orang diluaran sana yang termakan hasutan dari orang yang tak bertanggung jawab," Raya akhirnya bicara.


"Kau!" Siska menatap kesal karena Raya berani melawannya.


"Tante mungkin hanya salah paham saja," ujar Raya.


"Benar, Ma," sahut Papa Rey.


Siska mendengus kesal lalu pergi.


"Maafkan sikap Mama Rey, Raya!" ucap Papa.


"Tidak apa, Paman!" Raya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2