
Karena di apartemen merasa kesepian Tina akhirnya menelepon Roland, ia mengajak pria itu untuk menonton film horor di bioskop.
Dengan senang hati, Roland menyanggupinya. Tepat pukul 5 sore ia menjemput calon kekasihnya itu. Penuh semangat ia melesat menuju apartemen Clarissa.
Sesampainya di sana, wanita yang ia sukai sudah menunggunya dengan ekspresi wajah masih jutek.
"Kita berangkat sekarang!" ajak Tina melangkah lebih dulu dan mempercepatnya. Roland terpaksa berlari kecil untuk menyeimbangkan posisinya.
Roland membuka pintu untuk Tina dan mempersilakannya masuk. Lalu dirinya duduk di kursi pengemudi. Mobil yang ia tumpangi melaju ke Mall Cahaya.
"Aku sudah membeli tiketnya," Roland menunjukkan dua kertas.
"Kenapa cepat sekali? Padahal baru sejam yang lalu aku meneleponmu," Tina mengernyitkan keningnya.
"Kebetulan ada temanku yang bekerja di Mall itu jadi aku pesan untuk membelikannya. Dan secara sukarela dia mengantarnya ke rumah ku.
"Baik sekali temanmu itu," puji Tina mengalihkan pandangannya.
"Ya, karena aku baik juga!" ucap Roland bangga.
Tina menarik ujung bibirnya dan menatap sekilas pria yang ada di sampingnya.
-
__ADS_1
-
Selesai menikmati tontonan di bioskop, Tina dan Roland pergi ke restoran seafood yang bersebelahan dengan Mall Cahaya.
Tak sampai setengah jam, makanan yang mereka pesan dihidangkan di meja. Dengan wajah sumringah, Tina mulai menyantapnya.
Roland juga ikut menyantap sesekali ia menatap Tina yang sangat fokus dengan makanannya. Ia mengulum senyumnya melihat wanita ia sukai, mau makan berdua dengan dirinya.
Lagi menikmati hidangan dan mengobrol santai sesekali bercanda. Nikita datang menghampiri keduanya. "Wah, sekarang akur!" sindirnya melirik Tina.
Yang di sindir menghentikan makannya, Tina mengambil tisu dan mengelap bibirnya. "Apa kau mengundang dia juga?" matanya menatap Roland.
Pria itu menggeleng cepat.
"Ciih, aku tak mau makan denganmu. Tapi jika bersama Roland, aku bersedia!" Nikita tersenyum manis menatap pria yang terlihat cuek dan tetap fokus menikmati udang.
"Sepertinya aku harus pergi, dia mau makan bersamamu!" Tina mengarahkan pandangannya kepada Roland.
"Ya, kau memang harus pergi!" Nikita menyindirnya lagi.
Roland menyeruput jus jeruknya, lalu mengambil tisu mengelap tangannya dan bibirnya. "Aku sudah selesai makan. Mari ku antar kau pulang!" menatap Tina lalu memundurkan kursinya dan berdiri.
"Kenapa kau pulang?" tanya Nikita pada Roland.
__ADS_1
"Karena dia tak mau menemani ku makan, jadi lebih baik kami pulang saja," jawab Roland.
"Roland, kenapa kau jadi seperti ini?" Rengek Nikita manja.
Tina mengerutkan keningnya dan memiringkan bibirnya.
"Memang aku biasanya seperti apa?" Roland menaikkan alisnya.
"Kau masih mau mengobrol dengan ku, menemani aku ke mana saja," ungkap Nikita.
"Itu dulu, sebelum aku tahu dirimu yang licik. Aku tidak mau wanita yang aku cintai terlalu lama membenciku," Roland melirik Tina.
"Jadi, kau masih ingin mengejarnya!" Nikita menatap kesal.
"Ya, karena aku sangat mencintainya!" Roland menekankan kata-katanya, ia pun bersiap pergi.
Nikita menahan langkah Roland dengan menarik lengannya. "Aku menyukaimu, Roland!"
Jleb...
"Yuna sepertinya sudah kembali, aku harus pulang!" Tina berpamitan, ia tak mau melihat suasana yang membuatnya sakit hati. Ia berjalan meninggalkan keduanya.
Roland menurunkan genggaman tangan Nikita. "Maaf, aku tak bisa. Jadilah, wanita yang baik. Pasti kau menemukan kebahagiaanmu!" ia mengejar langkah Tina.
__ADS_1
Nikita berdecak kesal, menatap punggung Roland. "Bertahun-tahun aku berusaha menjauhkan dirimu dari wanita itu dan membuat Tina membencimu. Kenapa kau malah semakin mencintainya?"