Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Aku Harus Tetap Semangat


__ADS_3

Setelah menutup teleponnya, Clarissa menarik nafas perlahan lalu membuangnya. Itu ia lakukan berulang-ulang.


Ia menghapus air matanya dan mencoba tersenyum. "Aku harus kuat, aku pasti bisa melewatinya, aku harus tetap semangat!" ucap Clarissa mengepalkan tangannya.


Ia kembali menghidupkan mesin mobil dan melajukan kendaraannya setenang mungkin agar kejadian tadi tak terulang lagi.


Sejam kemudian, Clarissa tiba di sebuah restoran tempat ia dan calon rekan bisnisnya bertemu. Sebelum turun, ia melihat wajahnya di cermin dan memperbaiki riasannya. Memakai minyak wangi dan menyisir rambutnya, ia harus tampil sempurna walau hatinya sedang tidak baik-baik.


Yuna menghampiri mobil Clarissa dan mengelilinginya. Saat temannya itu turun dari mobil, ia pun mencecar beberapa pertanyaan. "Kenapa seperti ini? Apa kau habis menabrak orang?"


"Aku hanya menabrak pembatas jalan saja," jawabnya. "Apa Nona Melani sudah datang?" lanjutnya bertanya.


"Sudah, dia sedang menunggumu di dalam," ucap Yuna.


Clarissa bergegas menemui perwakilan perusahaan minuman isotonik tersebut disusul manajernya.


"Maaf menunggu," ucap Clarissa berjabat tangan dan tersenyum.


"Tidak apa, Nona!"


Clarissa duduk di samping Tina. "Langsung saja, ya!" ucap sang artis.


"Begini Nona, kami menawarkan kerja sama dan syuting akan di lakukan seminggu lagi di Jepang. Rencananya kemungkinan kita akan di sana selama dua pekan," jelas Melani. "Apa anda mau menerimanya?" lanjutnya.


"Sepertinya, Clarissa tidak...."


"Saya bisa!" ucap Clarissa memotong Yuna.


Kedua teman mengalihkan pandangannya kepada wanita berusia 24 tahun.


"Baiklah kalau begitu, kita akan bicarakan kembali di kantor. Masalah honor kami sudah tahu dari manajer Yuna," ucap Melani. "Kalau begitu, saya permisi!" pamitnya dan kembali berjabat tangan dengan Clarissa dan kedua temannya.

__ADS_1


Melani pergi, Yuna dan Tina kembali menatap Clarissa.


"Kau tidak salah? Sebulan lagi kau akan menikah?" tanya Yuna.


"Tidak," jawab Clarissa lalu mengambil tas dan kunci mobilnya.


"Rissa, kau harus pikirkan kesehatanmu!" ujar Tina.


"Aku mau pulang!" Clarissa berjalan ke arah parkiran.


Yuna dan Tina saling pandang.


"Kenapa dengannya?" tanya Tina.


"Kita tanya saja di rumah," jawab Yuna.


-


"Rissa, kau kenapa?" tanya Tina.


"Sikapmu hari ini sangat aneh," ucap Yuna.


"Apa kau ada masalah?" tanya Tina lagi.


Clarissa membuang tasnya di atas ranjang dan ia duduk di sisinya sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu kepalanya menunduk terdengar suara isakan.


Tina dan Yuna mengerutkan keningnya. Lalu mendekati Clarissa.


"Rissa, apa yang terjadi?" Yuna membelai rambut sahabatnya itu.


Clarissa mengangkat kepalanya dengan berlinang air mata lantas memeluk Yuna.

__ADS_1


"Rissa, ceritakan kepada kami!" ucap Tina.


"Devan membatalkan pernikahan," ujar Clarissa.


"Apa!" kedua temannya terkejut.


"Dia membenciku karena aku putri dari pria yang menculiknya waktu itu," tutur Clarissa.


"Maksudmu, ayah kandungmu yang menculik Devan beberapa tahun yang lalu?" tanya Yuna.


Clarissa mengangguk pelan.


Keduanya temannya menutup mulut tak menyangka.


"Jadi, dia menyerah begitu saja?" tanya Yuna.


"Berarti dia itu pria pengecut!" ucap Tina.


"Ya, benar. Dia tidak tulus mencintaimu!" sahut Yuna.


"Kau tidak bersalah di sini, seharusnya dia bisa membedakan mana yang baik dan benar," Tina tampak kecewa.


"Apa kau sudah memberi tahu Ibumu?" tanya Yuna.


"Aku belum memberitahunya, mungkin nanti ku akan meneleponnya," jawab Clarissa.


Yuna menghela nafasnya, "Kau harus kuat dan sabar!"


"Suatu saat kau akan menemukan pria yang sayang tanpa melihat masa lalu dirimu!" Tina memberikan semangat temannya.


"Terima kasih, kalian memang sahabatku!" ucap Clarissa dan ketiganya saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2