Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Demi Perusahaan


__ADS_3

Devan sengaja mengikuti mobil Clarissa seorang diri. Ia penasaran ke mana wanita itu pergi.


Butuh waktu setengah jam, untuk sampai di danau tersebut. Clarissa tahu bahwa Devan mengikutinya.


"Nona, sepertinya mobil di belakang mengikuti kita," ucap salah satu pengawal.


"Biarkan saja dia mengikuti kita," ujar Clarissa. Sopir dan kedua pengawalnya mengiyakan.


Clarissa turun dan berjalan seorang diri menghampiri danau. Kebetulan bukan hari libur jadi tidak ada pengunjung yang datang.


Ia duduk seorang diri menatap danau yang membuatnya tenang sebelum ia ke kembali untuk bekerja.


Devan menghentikan mobilnya tidak terlalu jauh dari kendaraan Clarissa. Sejenak ia merasakan sakit kepala, ia seperti mengingat tempat yang dikunjunginya. Ia memegang kepalanya dan turun, ia berjalan menghampiri sang artis.


"Tuan, mau ke mana?" salah satu pengawal pria mencegatnya.


"Saya mau ke sana!" tunjuknya ke arah danau.


Pengawal tersebut memperhatikan seluruh tubuh Devan.


"Dia pria yang keluar dari kamar Nona Clarissa," bisik pengawal wanita di telinga temannya.


"Anda ke sana mau apa?" tanya pengawal pria.


"Ini adalah tempat umum," jawab Devan.


"Apa anda pria yang menginap satu hotel dengan Nona Clarissa?" tanya pengawal wanita.


"Iya," jawabnya. "Saya ingin bertemu dengan wanita itu!" ucapnya lagi.


"Mari ikut dengan saya," ucap pengawal pria dan Devan mengikuti perintahnya. "Nona, pria ini ingin bertemu dengan anda!" ucap pengawal pada Clarissa.


"Tinggalkan kami berdua!" titah Clarissa membuang wajahnya.


Kini tinggallah Devan dan Clarissa yang saling diam. Seketika Devan mengingat sesuatu, ia memegang kepalanya dan gemetaran.


Clarissa yang sedang duduk menoleh ke arahnya, ia pun berdiri menghampiri Devan dan menuntunnya ke bangku. "Anda tidak apa-apa?" tanyanya.


"Kepalaku sakit sekali!" jawab Devan.


"Kalau sakit lebih baik di hotel saja," omel Clarissa. "Aku akan menelepon Hilman," lanjutnya lagi.


Devan memegang tangan Clarissa, "Jangan!"


Clarissa melihat tangan kanannya yang di pegang Devan. "Anda tidak alergi menyentuh tanganku!"


Devan segera melepaskan tangannya. "Maaf!"


"Ayo, kita kembali ke hotel!" ajak Clarissa.


"Aku seperti mengenal tempat ini," ucap Devan.


"Anda pernah ke sini?"


"Aku merasa pernah ke sini tapi aku lupa," jawabnya. "Kau sering ke sini?" tanyanya.


"Aku dan kedua orang tuaku sering ke sini," jawab Clarissa. "Sekarang tidak lagi, karena Ibu sudah menikah lagi dan Ayah telah meninggal enam tahun yang lalu," lanjutnya.


"Kata Oma, Ibuku tinggal di kota ini," ucap Devan sambil memegang keningnya.


"Lebih baik kita kembali ke hotel," Clarissa melihat Devan meringis kesakitan.


"Aku mau di sini saja," ujar Devan.


"Anda tidak baik-baik saja," ucap Clarissa. "Mari ku bantu, mobil anda biar pengawal aku yang membawanya," lanjutnya.

__ADS_1


Devan berdiri lalu memberikan kunci mobilnya, tubuhnya semakin lemah hingga ia terjatuh di dekapan Clarissa.


Pengawal yang melihat Clarissa kesusahan membawa seorang pria berlari menghampirinya. "Biar saya saja yang membantunya, Nona!" ucap pengawal pria.


"Biar saya saja, kamu bawa mobilnya dia saja," Clarissa menyerahkan kunci mobil milik Devan.


"Baik, Nona!"


Clarissa menuntun Devan yang semakin berkeringat ke dalam mobil. "Ternyata anda berat juga!" keluhnya mengalungkan tangan kanan Devan di lehernya.


-


Hotel Langit


Devan kini di dalam kamar hotel, dari turun mobil sampai ke kamarnya Clarissa yang memapahnya. Ia menolak orang lain yang menuntunnya.


Clarissa merebahkan tubuh Devan ke atas ranjang. "Huh, menyusahkan saja!" gerutunya. Ia membuka sepatu pria itu dan menyelimutinya. "Tidurlah, aku akan memanggil Hilman untuk menjagamu!" ucapnya.


Saat hendak pergi, Devan menarik tangan Clarissa. "Jangan pergi!" ucapnya lemah.


"Anda perlu apa biar ku sampaikan pada Hilman?" tanya Clarissa.


"Tetaplah di sini!" pintanya.


"Baiklah," Clarissa melepaskan tangan Devan lalu menuju ke sofa dan menyandarkan tubuhnya.


-


-


Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, Devan terbangun dari tidurnya ia mengulum senyumnya melihat Clarissa tertidur dengan menopang dagu di sofa.


"Clarissa!" Devan turun dari ranjang dan berjalan mendekatinya.


"Kau tidak kembali ke kamarmu?" tanya Devan.


"Ya, aku akan kembali ke kamar."


"Clarissa!" panggil Devan lagi saat wanita itu hendak membuka kenop pintu.


"Ya." Clarissa membalikkan badannya.


"Maukah kau kembali ke Arta Fashion?" tanya Devan.


"Besok aku akan kembali tapi tidak ke Arta Fashion," jawab Clarissa.


"Maaf!" Devan menatap Clarissa.


Clarissa menyunggingkan senyumnya lalu berjalan mendekati Devan. "Ternyata anda bisa juga minta maaf!" ucapnya.


"Ini aku lakukan juga demi perusahaan," ujar Devan.


"Kalau begitu aku menolaknya," Clarissa membalikkan tubuhnya.


Devan menarik lengan tangan Clarissa membuat wajah keduanya semakin dekat memandang. "Apa kau lupa, aku masih menyimpan rekaman CCTV," ucapnya dingin.


Clarissa berusaha melepaskan genggaman tangan Devan.


"Mau kembali lagi atau tidak?"


"Media semua sudah tahu kalau aku tidak bekerja sama lagi dengan Arta Fashion," jawab Clarissa.


"Kau tinggal klarifikasi saja, mudah bukan?"


"Kau benar-benar licik!" geram Clarissa.

__ADS_1


"Ya, aku akan berbuat apapun untuk Arta Fashion," ucap Devan.


"Baiklah, tapi harus ada syaratnya!" pinta Clarissa.


"Apa syaratnya?"


"Lepaskan aku dulu!" jawab Clarissa.


Devan melepaskan genggamannya. "Cepat katakan!"


"Aku tidak mau honorku dipotong dan anda harus memberikan ku tiga kali lipat," jelas Clarissa.


Devan mengulum senyumnya. "Baiklah!"


"Ada satu lagi?" Clarissa menampilkan senyum yang menawan.


"Apa?"


"Anda harus menjadi kekasihku," jawab Clarissa tanpa rasa malu.


"Aku tidak mau!" tolak Devan.


"Kalau begitu, aku juga tidak mau kembali ke Arta Fashion," Clarissa melipat tangannya menatap pria yang masih berpikir. "Bagaimana?" tanyanya.


"Kau benar-benar licik!" Devan menatap kesal.


"Kita sama-sama licik, Tuan Devan Artama!" Clarissa menekankan kata-katanya.


"Baiklah aku setuju!" ucap Devan.


Clarissa mengulurkan tangannya pada Devan. "Anda tak mau menyambut tanganku!"


Devan melipat tangannya dan membuang wajahnya.


"Hei, dari tadi tangan kita sudah bersentuhan dan kulitmu juga tidak memerah," ucap Clarissa. Devan enggan menyambutnya. "Hei, ayo cepat. Ini juga demi kerja sama kita," ucapnya lagi.


Akhirnya Devan menyambut tangan Clarissa membuat wanita itu tersenyum.


"Aku lapar, temani aku mencari makanan!" ajaknya.


"Aku tidak mau," tolak Devan.


"Hei, kita ini sudah menjadi kekasih. Apa salahnya menemani ku makan?"


"Aku akan menemanimu, bersiaplah!" ucap Devan.


Clarissa tersenyum bahagia. "Aku mau mandi dan aku akan tunjukkan tempat makanan yang enak di dekat sini!"


Devan mengulum senyumnya menatap punggung Clarissa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan like, komen, poin dan vote...


Aku akan usahakan update tiap hari, semoga tidak bosan menunggu...


Sambil menunggu kalian bisa membaca karya ku yang lainnya..


-Salah Jatuh Cinta (end)


-Dijodohkan dengan Musuh (end)


-Melupakan Sang Mantan (end)


Selamat Membaca 🌹

__ADS_1


__ADS_2