Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.12-Disuruh Menjauh


__ADS_3

Raisa masih dalam keadaan lemah mengantar Eza ke mobil yang akan membawanya ke apartemennya.


"Terima kasih sudah mengantarku, maafkan ucapan papaku tadi," ujar Raisa.


"Sama-sama, setiap ayah pasti khawatir dengan anaknya." Eza tersenyum.


"Ya ampun, manis sekali!"


"Saya pamit pulang, Nona!" Eza masuk ke dalam mobil dan berlalu.


"Jadi, dia yang kamu sukai!" tebak Clarissa.


Raisa membalikkan tubuhnya, "Mama buat kaget saja!"


"Itu alasanmu, rela menjadi model pendamping?" pancing Clarissa.


Raisa dengan malu-malu, mengangguk mengiyakan.


"Semoga saja dia pilihanmu yang tepat, tapi Mama sarankan bersiaplah patah hati apabila dia tak membalas perasaanmu," nasehat Clarissa.


"Mama, bukan dukung anak. Malah suruh bersiap patah hati," gerutu Raisa.


"Sayang, untuk apa kamu lelah mengejar seseorang tapi dia tidak membalas cintamu," ujar Clarissa.


"Namanya juga usaha, Ma."


"Jika Papa kamu tahu, tamat riwayat pemuda itu," Clarissa pun berlalu.


Raisa menarik sudut bibirnya. "Aku akan berjuang mendapatkan hatinya seperti yang Mama dahulu lakukan," janjinya dalam hati.


......................


Gedung Arta Fashion


"Papa ingin lihat kontrak model pria itu," pinta Devan pada putrinya.


"Bukankah Papa sudah setuju? Kenapa harus dilihat lagi?"

__ADS_1


"Papa ingin tahu, berapa lama kontrak dia di sini!"


"Pa.."


"Raisa, cepat berikan kepada Papa!"


"Iya, Pa." Raisa menyerahkan berkas berisi kontrak.


Devan membuka dan membaca isi kontrak, lalu menatap putrinya yang duduk berhadapan dengannya.


"Kenapa kamu memberikannya kontrak lima belas bulan? Bukankah Papa hanya memberi paling lama satu tahun?"


"Ya, karena itu Pa..."


"Kamu menyukainya?" tebak Devan.


Raisa menundukkan kepalanya.


"Raisa, jawab pertanyaan Papa?" tanya Devan.


"Maafkan Raisa, Pa." Ia menaikkan kepalanya menatap papanya.


"Raisa tidak memiliki alasannya," jawabnya.


"Apa dia tahu?"


Raisa menggelengkan kepalanya.


"Papa tidak menyetujui kamu menyukainya," ucap Devan tegas.


"Kenapa, Pa? Raisa berhak menyukai siapa saja," ujarnya.


"Jauhi dia atau Papa akan memutuskan kontrak dengannya!" ancam Devan.


Mata Raisa tampak berkaca-kaca, ia berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan kerjanya.


Eza yang baru saja turun dari mobil, matanya tak sengaja melihat Raisa berjalan dengan cepat sembari menghapus air mata. "Dia kenapa?"

__ADS_1


Sementara Devan, menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memijit pelipisnya.


-


Raisa menangis di kursi taman tak jauh dari gedung Arta Fashion. "Apa aku tak boleh jatuh cinta?"


"Kenapa menangis?" seorang pria duduk di samping Raisa.


"Kenapa kau di sini? Bukankah ini jam kantor?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa di sini? Seorang diri menangis, apa lagi patah hati?"


"Entahlah, aku belum mengungkapkannya tapi tidak mendapatkan restu," jawab Raisa menghapus air matanya dengan jemari.


"Pasti Paman Devan," tebaknya.


"Ya, kau benar."


"Memangnya siapa pria yang sudah merebut hatimu?" pria itu penasaran.


"Kau ingin tahu saja," jawab Raisa.


"Ya, aku harus tahu biar ku katakan padanya jika papanya Raisa sulit sekali ditaklukkan!"


Raisa tertawa mendengar perkataan sepupunya itu.


"Kau sangat cantik bila tersenyum," pujinya.


"Jangan merayuku, kita ini sepupu!" ujar Raisa.


"Memangnya kenapa?"


"Seperti tidak ada wanita lain saja," celetuk Raisa.


"Baiklah, aku akan mencari wanita lain. Kalau begitu, bagaimana kita mengobrol di kafe saja? Di sini tidak ada minuman dan makanan," jelasnya.


"Ya, sudah!" Raisa berdiri.

__ADS_1


"Kau tidak dicariin Paman Devan, kan?"


"Tidak akan, Papa tahu bagaimana cara menenangkan diriku," jawabnya. Devan tidak akan menghubungi anak-anaknya apalagi telah memarahinya, karena ketika sudah lelah kedua anaknya akan pulang.


__ADS_2