Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Meminta Restu Orang Tua


__ADS_3

Ponsel Clarissa berdering tertera nama Devan. Ia pun mengangkatnya dan menjawabnya. "Halo!"


"Kau sedang apa?"


"Baru saja sampai apartemen," jawab Clarissa. "Ada apa?"


"Lusa temani aku ke rumah orang tuamu!"


"Untuk apa?"


"Aku mau melamarmu," jawab Devan.


"Apa!" Clarissa terkejut.


"Kenapa kau terkejut? Apa kau tidak senang?"


"A..aku senang," jawab Clarissa terbata.


"Ingat, kosongkan jadwalmu di hari itu!" pinta Devan.


"Iya!" Clarissa menutup teleponnya. Ia memegang dadanya dan tersenyum.


"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Yuna.


"Apa lusa ada jadwalku?" Clarissa balik bertanya.


"Lusa, masih ada. Besok baru kosong," jawab Yuna.


"Kalau begitu, besok saja aku ke rumah Ibu," ucap Clarissa.


"Kau ingin pulang?" tanya Tina.


"Iya, bersama Devan. Dia akan melamarku," jawab Clarissa.


"Wah, selamat!" Tina memeluk sahabatnya. Yuna juga memberikan selamat.


"Terima kasih," ucap Clarissa.


......................

__ADS_1


Clarissa mengirimkan pesan kepada Devan semalam, jika hari ini jadwalnya kosong dan kekasihnya itu pun menyetujuinya.


Devan menjemput Clarissa di apartemennya, pagi ini mereka langsung ke berangkat ke Kota B tempat tinggal kedua orang tuanya Clarissa.


Sejam kemudian, mereka tiba di rumah mewah kediaman keluarga Ardian. Keduanya turun, Devan menggenggam tangan calon istrinya berjalan memasuki rumah. Tak lupa juga membawakan oleh-oleh untuk kedua orang tua Clarissa.


Ardian dan Claudia menyambut keduanya dengan suka cita.


"Apa kabar, Bu?" sapa Clarissa memeluk ibunya.


"Baik," jawab Claudia.


"Kami membawa oleh-oleh untuk kalian," ucap Clarissa menyodorkan kue khas Kota A.


"Terima kasih, Nak. Lain kali tidak perlu seperti ini, membuat kalian repot saja," ujar Claudia.


"Tidak apa, Bu!" ucap Clarissa.


"Silahkan duduk," Ardian mempersilakan duduk Devan dan Clarissa duduk di sebelah kekasihnya.


"Sepertinya ada hal yang penting yang akan kalian sampaikan," tebak Ardian.


Claudia dan suaminya saling pandang dan tersenyum.


"Paman senang mendengarnya dan setuju saja. Bagaimana dengan kamu?" Ardian menatap istrinya.


"Aku setuju saja, asal Clarissa bahagia," jawab Claudia.


"Oh, ya Bu. Devan ini anak kecil yang kita tolong waktu itu," ucap Clarissa.


"Evan?" tanya Claudia.


"Iya, Tante!" jawab Devan.


Seketika tubuh Claudia limbung, ia memegang kepalanya.


"Ibu kenapa?" tanya Clarissa. Ardian dan Devan mengarahkan pandangannya kepada Claudia.


"Tidak apa-apa," jawabnya berusaha tenang.

__ADS_1


"Kalau sakit istirahat saja," ucap Ardian.


"Siapa nama kedua orang tuamu?" tanya Claudia sambil memegang kepalanya, ia ingin memastikan pria yang akan menjadi menantunya ini putra Vandi atau bukan.


"Nama Papa Vandi Artama dan Mama Marissa Mayer," jawab Devan.


Claudia mendelikkan matanya tak percaya. "Aku harus bagaimana?" batinnya bertanya.


"Bu!" panggil Clarissa.


"Pa, sepertinya Mama tidak enak badan," Claudia menoleh ke arah suaminya.


"Ya, sudah kalau begitu pergilah berisitirahat!" ucap Ardian.


Claudia mengangguk dan ia berjalan ke kamar dengan perasaan cemas.


"Tadi, Ibumu sehat-sehat saja. Kenapa tiba-tiba ia tidak enak badan?" tanya Ardian heran.


"Mungkin Ibu syok mendengar aku dan Devan akan menikah," jawab Clarissa asal.


"Tidak mungkin, Ibumu mendukung hubungan kalian," ucap Ardian.


Pelayan rumah menyampaikan kepada Ardian, jika makan siang telah siap.


Mereka kini berkumpul di ruangan makan, Ardian memanggil istrinya ke dalam kamar. "Ma, ayo kita makan siang!"


"Pa, Mama ingin bicara!"


"Nanti saja, kita bicara setelah Clarissa dan calon suaminya pulang," ujar Ardian dan Claudia menyetujuinya.


Claudia dan suaminya berjalan ke ruangan makan, ia memaksa tersenyum dan tak ingat putrinya dan calon menantunya curiga. Selama makan siang Claudia tak banyak berbicara, ia hanya menjawab jika di tanya.


Makan siang hanya mereka berempat, karena Raya sedang di kantor dan kedua adiknya bersekolah.


Selesai makan siang, Devan dan Clarissa kembali ke Kota A.


"Kenapa Ibumu tiba-tiba menjadi pendiam saat ia mengetahui kalau aku anak laki-laki yang ditolongnya waktu itu?"


"Mungkin Ibu terkejut dapat bertemu kau kembali," jawab Clarissa menebak.

__ADS_1


"Mungkin saja!"


__ADS_2