Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Clarissa Cemburu


__ADS_3

Hari ini Clarissa bekerja di Arta Fashion, ia mulai mengurangi jadwal pekerjaan di dunia hiburan karena permintaan sang suami.


Keduanya berjalan ke ruangan yang khusus di buat untuk mereka berdua. Lagi-lagi juga atas keinginan Devan Artama.


Intan berjalan ke menghampiri keduanya, "Tuan!"


Keduanya menoleh ke arah Intan dan hanya Clarissa yang tersenyum.


"Saya ingin memberikan ini kepada Tuan Devan!" Intan menyodorkan kantong kertas berisi makanan.


Clarissa meraihnya dan tersenyum, ia mengedarkan pandangannya. "Hilman!" panggilnya.


"Sayang aku duluan, ya!" pamit Devan pada istrinya ke ruangannya.


"Ya," Clarissa menjawab tersenyum hangat.


"Ada apa, Nona?" Hilman mendekat.


"Apa kau sudah sarapan?" Clarissa menatap sekretaris suaminya.


"Sudah, Nona!" jawabnya.


"Ini ada makanan, berikan kepada petugas keamanan jika mereka tidak mau. Kau bisa memberikannya kepada kucing," Clarissa menyodorkan makanan pemberian Intan.


"Nona, saya sudah capek memasak makanan untuk Presdir. Kenapa diberikan kepada orang lain?" Intan protes karena makanannya bukan diberikan kepada Devan.


"Suamiku tidak butuh makanan buatan dirimu," Clarissa menekankan kata-katanya. "Aku bisa memasak untuknya, kalau pun aku tak sempat ada koki yang khusus kami bayar untuk memasaknya!" lanjutnya lagi.


"Tapi saya membuatnya sebagai ucapan terima kasih karena Presdir mengajak saya bergabung di Arta Fashion," Intan memberikan alasan.


Clarissa tertawa kecil, "Kau tidak ingin menggodanya 'kan?"

__ADS_1


Jleb...


"Aku ingatkan padamu, kau di sini bukan koki suamiku. Kau bekerja untuk Arta Fashion bukan untuk suamiku!" Berbicara dengan tegas. "Jadi, bersikap profesional. Jika kau tidak ingin karirmu hancur!" lanjutnya.


Intan mengeraskan rahangnya, ia menatap kesal wajah istri Presdir.


"Pergilah!" Clarissa menatap tajam dan dingin.


Intan membalikkan badannya dan berjalan ke arah studio dengan hati yang kecewa.


Clarissa berjalan ke ruang miliknya dan suaminya. Wajahnya tampak ditekuk dan masam. Ia duduk di kursi kerjanya.


"Kenapa wajahmu cemberut?" Devan mendekati istrinya yang manyun.


"Intan sepertinya menyukaimu," jawab Clarissa ketus.


"Biarkan saja dia menyukaiku," Devan berkata dengan santai.


Devan tertawa kecil mendengar pertanyaan suaminya. "Apa kau sedang cemburu?"


"Iya, aku cemburu. Ada wanita lain yang menyukai suamiku!"


"Dia berhak menyukai siapa pun, kenapa kau harus marah?"


Clarissa berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang menghadap suaminya. "Jadi kau ingin merespon perasaannya?"


"Apa suamimu ini tampak seperti pria murahan?" Devan menatap wajah istrinya yang kesal.


Clarissa menggelengkan kepalanya.


"Kau saja butuh waktu lama untuk menaklukkan hatiku," Devan menoel hidung istrinya.

__ADS_1


"Dan akhirnya kau luluh juga!" celetuk Clarissa. "Bagaimana jika dia berusaha mati-matian mengejarmu dan kau luluh juga?"


Devan terkekeh mendengar pertanyaan Clarissa.


"Kenapa tertawa? Dia terang-terangan memasak makanan khusus untukmu, padahal aku sebagai istrimu bekerja di sini juga. Bagaimana kalau aku tidak bersama dirimu? Pasti dia berani mendekatimu," Clarissa mengoceh.


"Jadi, aku harus bagaimana?" Menatap wajah istrinya sambil tersenyum.


"Cari penggantinya!"


"Kau tahu 'kan, sulit mencari model pengganti."


"Tapi dia berani menggodamu," Clarissa memanyunkan bibirnya.


Devan memeluk erat tubuh istrinya lalu mengecup pucuk kepalanya. "Hanya kau yang ada di hatiku, aku tidak akan melanggar janji suci pernikahan kita!"


"Bagaimana kalau dia berani seperti itu lagi?" Clarissa mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Percuma saja ada pengawal ku setiap hari ini di sini!" Devan tertawa kecil.


"Belum tentu kita selalu bersama di sini. Anak-anak nanti siapa yang mengurus?"


"Kau tenang saja, kontrak berakhir. Dia juga tidak akan lagi di Arta Fashion."


"Baik Intan atau wanita mana pun, kau jangan pernah tergoda 'ya?"


"Iya, aku janji."


"Mereka tidak tahu kalau aku sulit sekali mengejar cinta si tampan ini," Clarissa tersenyum manis.


Devan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu, istriku!"

__ADS_1


__ADS_2