
Keesokan harinya....
Acara lamaran Clarissa berlangsung tertutup, namun media berhasil mendapatkan info tersebut. Beberapa awak media menunggu di luar gedung Arta Fashion untuk mendapatkan penjelasan tentang kabar bahagia itu.
Clarissa yang baru saja keluar dari gedung selesai melakukan pemotretan, terburu-buru masuk ke dalam mobil. Beberapa pengawalan ketat di lakukan, sehingga para pencari berita tak mendapatkan informasi apa-apa.
Tak mendapatkan informasi dari Clarissa, para pencari berita mengejar Devan yang juga keluar dari gedung yang sama. Namun, pria tersebut keluar dari pintu belakang gedung.
"Maaf, ya!" ucap Hilman kepada para awak media saat membantu Devan menaiki mobil.
"Apa benar Clarissa akan menikah dengan Devan Artama?" cecar awak media.
"Saya tak berkepentingan menjawabnya," jawab Hilman.
"Apa benar lamaran dilakukan di Hotel Lala?"
"Sekali lagi, maaf!" Hilman bergegas memasuki gedung dan meninggalkan para awak media.
-
Kediaman keluarga Artama...
"Bagaimana media bisa tahu acara lamaran kalian?" tanya Oma Fera.
"Devan juga tidak tahu."
"Pastikan Clarissa tidak berbicara apapun kepada media," Oma Fera mengingatkan.
"Iya, Oma!"
......................
Pagi ini seluruh media ramai memperbincangkan hubungan Clarissa dan Devan, di tambah berita lamaran yang secara tiba-tiba.
Di lain tempat, seorang wanita paruh baya menatap televisi dengan kesal. "Jadi, dia mau menikah dengan putri Claudia. Jangan harap kalian bisa bahagia!" geramnya.
Sementara itu, Hiko mengeraskan rahangnya membaca berita di sosial media jika Clarissa resmi dilamar Devan Artama. "Harusnya kau yang menjadi milikku bukan pria itu," ucapnya lirih.
Clara yang berada di samping Hiko sambil menikmati sarapan di kafe hanya bisa tertawa.
"Kenapa kau tertawa?" Hiko menatap kesal wanita yang telah menjadi sahabatnya itu sejak sekolah menengah atas.
"Untuk apa kau mengejar wanita yang tak pernah melihatmu?"
__ADS_1
"Aku menyukainya saat pertama kali bertemu."
"Hiko...Hiko...kau pria tampan dan kaya raya, masih banyak selebriti yang cantik dan berprestasi selain Clarissa,"ucap Clara.
"Sulit mengungkapkannya," Hiko mengangkat cangkir kopi dan menyeruputnya.
"Dia sudah menjadi milik orang lain, mungkin saja dia bukan jodohmu."
"Aku terlambat mengenalnya, seharusnya aku yang lebih dulu," ucap Hiko.
"Mau cepat atau terlambat kau bertemu dengannya kalau tidak berjodoh, mau bagaimana lagi?"
"Ya, kau benar."
"Aku 'kan selalu jadi sahabatmu yang mengingatkan kebaikan," ucap Clarissa bangga.
"Ya, kau memang wanita yang berhati mulia. Tapi, kenapa belum ada pria yang melamarmu?" celetuk Hiko bersedekap dada.
"Karena belum ada yang tertarik padaku," jawab Clara asal.
"Benarkah? Kau wanita kaya raya dan cantik, masa 'sih tidak ada yang tertarik."
"Semua kembali lagi tentang jodoh," ucap Clara. "Sekeras apapun usaha kita untuk mendapatkannya kalau tidak berjodoh, bagaimana?" lanjutnya.
"Aku 'kan selalu benar," Clara membanggakan diri. "Asal kau tahu, dari dulu ku menyimpan rasa untukmu,"
batinnya berucap.
......................
Clarissa dan Devan bertemu di toko milik Arta Fashion yang menyediakan khusus gaun pengantin.
Clarissa dibantu kedua temannya dan Raya untuk memilih gaun yang pantas dan cocok untuk ia gunakan sekaligus pakaian seragam untuk para keluarga. Sementara Devan dibantu Rey.
"Ini cantik!" Raya menunjuk gaun berwarna putih dengan belahan dada panjang.
"Selera dirimu, buruk!" sindir Tina.
"Apa yang buruk?" protes Raya.
"Clarissa tidak menyukai pakaian yang menampakkan belahan dadanya," tutur Yuna.
"Bagaimana ini?" Tina menunjuk warna merah muda dengan lengan panjang.
__ADS_1
"Warnanya terlalu norak!" sindir Raya.
"Clarissa menyukai warna merah muda," ucap Tina.
"Aku mengikuti warna favorit Devan saja," Clarissa berjalan mendekati calon suaminya dan menanyakan warna gaun yang cocok untuk dirinya.
"Kalau dia bertanya dengan Devan, untuk apa kita di sini?" ceplos Raya.
"Benar juga yang kau katakan, lebih baik kita duduk saja," ajak Tina. Mereka bertiga pun duduk di sofa tamu bersama dengan Rey.
"Kau ikut juga ke sini?" Raya duduk di samping Rey yang sibuk bermain dengan ponselnya.
"Ya, aku diajak Devan," jawab Rey.
"Untuk apa?"
"Dia ingin aku ke sini untuk membantunya memilih jas yang cocok," jawab Rey lagi.
"Lalu, kenapa kau masih di sini?"
"Dia tak suka dengan pilihanku," Rey menjawab tanpa menatap wanita disampingnya.
"Mereka sama saja, aku di suruh ke sini tapi dia malah memilih sendiri," ucap Raya. "Kau sedang apa?" Ia melirik ponsel Rey.
"Aku hanya bermain game saja."
"Apa tiap hari kerjaanmu begini?"
"Ini kalau lagi bosan saja," jawab Rey.
"Oh," ucap Raya singkat.
Setengah jam kemudian, Clarissa menghampiri kedua temannya dan Raya. "Aku sudah selesai, ayo kita pulang!" ajaknya.
"Kau merepotkan ku saja, nyuruh ke sini tapi malah aku harus menunggumu," protes Raya.
"Apa kalian sudah menentukan warna gaun seragam?"
"Sudah!" jawab ketiganya.
"Kalau begitu, kita pulang sekarang!" ajak Clarissa lalu ia menoleh ke arah Devan. "Sayang, aku duluan. Sampai jumpa," ucapnya dengan wajah bahagia berpamitan.
"Ya, sampai jumpa!" ucap Devan.
__ADS_1