
Clarissa sedang bersiap-siap pergi ke rumah keluarga Devan. Ia begitu gugup, dengan tangan berkeringat. Kedua temannya sampai harus menyodorkan tisu dan segelas air putih, agar tetap tenang.
"Rissa, kau hanya bertemu seorang wanita tua yang akan menjadi Nenekmu juga. Bersikaplah santai," ucap Yuna.
"Kau tidak tahu, dia pimpinan tertinggi di Arta Fashion. Aku adalah calon cucu menantu, bagaimana tidak gugup? Dia begitu ketus bertemu dengan ku waktu itu," ungkap Clarissa.
"Duduklah, jangan mondar-mandir!" usul Tina.
"Tarik nafas lalu buang perlahan, semua akan baik-baik saja," ucap Yuna.
Suara bel berbunyi, membuat jantung Clarissa semakin berdetak kencang.
"Itu pasti Presdir!" tebak Tina. "Biar aku yang buka pintunya," ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Apa Clarissa sudah siap?" tanya Devan pada Tina.
"Sudah. Saya akan memanggilnya, Tuan!" jawab Tina. Ia pun memanggil Clarissa.
"Apa itu Presdir?" tanya Yuna.
"Iya!" jawab Tina.
"Semoga Oma tidak galak!" harap Clarissa.
"Rissa!" panggil Yuna membuat temannya itu menoleh.
"Apa?" tanya Clarissa.
"Kau tadi banyak minum air, jadi ku ingatkan sampai sana langsung ke kamar mandi," jawab Yuna mengulum senyumnya.
"Kau ini!" Clarissa mendengus kesal.
Melihat ekspresi temannya itu membuat Yuna dan Tina tergelak.
-
__ADS_1
-
Di kediaman keluarga Artama
Devan menggandeng tangan Clarissa memasuki rumah Fera. Wanita tua yang masih cantik itu telah menunggu kedatangan mereka berdua.
Clarissa tersenyum gugup saat ia duduk di satu meja yang sama dengan Omanya Devan.
"Aku sudah mengetahui semua gerak-gerik dirimu selama Arta Fashion," ucap Fera membuka pembicaraan.
Clarissa hanya diam dan berusaha tersenyum.
"Kau yang lebih dulu mengejar cucuku, jadi ku harap jangan pernah menyakiti hatinya," ucap Fera lagi.
Devan mengenggam tangan Clarissa dan menatapnya. "Aku percaya Clarissa wanita yang baik, Oma!"
Clarissa memaksakan tersenyum. "Terima kasih!" ucapnya lirih.
"Devan mengatakan acara pernikahan kalian akan dilaksanakan tiga bulan lagi, jadi minggu depan lamaran akan dilangsungkan," ujar Fera. "Hotel akan Oma yang pilihkan kau dan Devan hanya tinggal terima beres saja," lanjutnya.
"Ya, Oma!" ucap keduanya.
-
-
"Tidak, aku malah senang."
"Terima kasih, mau menuruti keinginan Oma," ucap Devan.
"Ya, Oma itu pengganti orang tuamu jadi aku harus menghormati keputusannya apa pun itu. Termasuk menjauhi dirimu," ujar Clarissa tersenyum.
"Kau berniat ingin menjauhi aku?"
"Tidak, aku malah selalu ingin bersamamu."
__ADS_1
......................
Seminggu kemudian..
Lamaran dilaksanakan di hotel di Kota A, semua dipersiapkan oleh keluarga Devan. Keluarga Clarissa hanya menerima beres.
Rey datang bersama papanya, karena Siska menolak menghadiri acara tersebut. Orang tua Clarissa, Raya dan kedua adiknya kini duduk berdampingan dengan Clarissa. Kedua temannya duduk di bagian belakang.
Acara berlangsung dari pukul 10 pagi hingga 12 siang dan semua berjalan lancar. Kini para tamu menikmati hidangan yang telah tersedia.
Rey menghampiri Raya yang sedang mengambil minuman di meja prasmanan. "Sebentar lagi kita akan menjadi saudara," ucapnya.
"Ya, walau aku tidak mengharapkannya."
"Kau ke sini dengan siapa?" Rey berbasa-basi.
"Dengan orang tuaku," jawab Raya.
"Aku kira kau dengan kekasihmu," celetuk Rey.
"Kau sendiri dengan siapa?"
"Aku sendiri."
"Kenapa sendiri? Kekasihmu mana?"
"Aku tidak memiliki kekasih," jawab Rey.
"Aku tak percaya Rey Arkana yang terkenal pintar memikat wanita datang ke acara seperti ini seorang diri," ucap Raya.
"Hei, siapa yang bilang aku pintar memikat wanita?"
"Aku tahu semua tentangmu," Raya menenggak minumannya.
"Kau begitu mengidolakan ku, ya?" Rey menarik sudut bibirnya.
__ADS_1
"Itu mungkin hanya perasaanmu saja," jawab Raya. "Aku mau ke sana!" ia menunjuk ke arah Clarissa dan Devan.
"Aku juga ikut!"