
Kota selanjutnya yang dikunjungi Clarissa adalah kota kelahirannya dan ayahnya. Di kota ini menyimpan banyak kenangan dirinya dengan ayahnya. Perjalanan yang mereka tempuh selama tiga jam.
Di kota ini Clarissa juga akan melakukan pekerjaan, ia memiliki jadwal bertemu penggemarnya dan syuting video klip dengan band lokal.
Sebelum ke hotel, ia menyempatkan diri berkunjung ke makam ayahnya. Ia menangis di pusara cinta pertamanya itu. Yuna dan Tina yang melihatnya ikut meneteskan air matanya. Setelah dari pemakaman, mereka mencari penginapan dan makan siang.
Sore harinya, mereka menikmati waktu di danau tak jauh dari rumah lama keluarga Clarissa.
"Kau sering ke sini, Rissa?" tanya Yuna.
"Saat masih tinggal di sini hampir sering," jawabnya.
"Kenapa kau begitu menyukai tempat ini?" tanya Tina.
"Banyak kenangan yang aku lewati di sini sebelum pindah ke kota lain," jawabnya lagi.
"Jadi di danau ini tempat di mana kalungmu hilang?" tanya Yuna. Clarissa pernah menceritakan kepada temannya kalau kalung pemberian ayahnya hilang saat ia dan ibunya menolong anak laki-laki.
"Ya, dulu tempat ini tidak seindah dan sebagus sekarang," tuturnya.
"Kira-kira anak laki-laki yang kau ceritakan itu tahu tempat ini atau tidak, ya?" tanya Yuna lagi.
"Entahlah aku juga tidak tahu, sudah lama tak ke sini," jawabnya.
"Kau bilang dia putra dari orang kaya," ucap Tina.
"Ya, aku melihatnya dijemput dengan mobil mewah dan beberapa orang pengawal," ujar Clarissa.
"Pasti dia sangat tampan," celetuk Tina.
Clarissa mengulum senyumnya. "Kejadian itu sangat lama, mungkin saja dia sudah menikah dan memiliki anak," ucapnya.
"Atau dia menjadi pria gendut," sambung Yuna.
"Sudahlah, kenapa kita jadi membahas dia?" Clarissa mengakhiri obrolan tak berguna itu. "Mending kita kembali ke hotel, besok pagi aku harus bertemu dengan penggemar," lanjutnya lagi.
"Benar juga yang kau bilang, kita berlibur sambil bekerja," ujar Yuna.
...----------------...
Seminggu kemudian...
Hilman kembali memberikan laporan penjualan kepada Devan.
"Tuan, penjualan kita semakin menurun." Jelas Hilman.
Devan memperhatikan berkas laporan yang menurun. "Cari model wanita segera untuk menggantikannya. Perintahkan fotografer untuk melakukan pemotretan lagi," titahnya.
"Bagaimana jika penjualan semakin menurun, Tuan?"
"Kita belum mencoba tapi sudah pesimis," jawab Devan.
"Baik, Tuan. Saya segera melaksanakannya," ucap Hilman.
-
__ADS_1
Oma Fera pagi ini berkunjung ke Arta Fashion. Karena ia mendapatkan laporan kalau semakin menurun. Tanpa mengetuk pintu ia memasuki ruangan kerja cucunya.
Devan yang terkejut dengan kedatangan Oma Fera bergegas berdiri. "Oma!" sapanya.
"Ini sudah hampir dua minggu. Kenapa tidak ada kemajuan sama sekali?" tanya Oma Fera.
"Devan lagi berusaha mencari solusinya," jawabnya. Ia menarik kursi untuk Oma Fera duduk.
"Apa solusinya?"
"Devan lagi membuat iklan dan mengganti model wanitanya," jawabnya.
"Apa kamu jamin jika penjualan akan naik dalam waktu dua minggu ke depan?" tanya Oma Fera.
"Devan tidak bisa menjamin, Oma!"
Suara ketukan pintu terdengar, Hilman kembali masuk dan memberikan laporan.
"Maaf, Nyonya, Tuan!" Hilman sedikit menunduk.
"Ada apa lagi?" tanya Devan sambil melirik Oma Fera.
"Kami belum bisa menemukan model wanita yang cocok untuk produk kita," jawab Hilman.
"Kalian cari model saja tidak bisa," bentak Devan.
"Maaf, Tuan. Ada pun model yang cocok tapi ia tak bisa melakukan pemotretan secara mendadak karena juga ada pekerjaan yang lainnya," jelas Hilman lagi.
"Kalian bisa kerja atau tidak!" hardik Devan membuat sekretarisnya itu menunduk.
"Devan cukup!" ucap Oma Fera menenangkan. Ia lalu mengarahkan tatapannya pada Hilman. "Panggil Clarissa kembali ke sini!" perintahnya pada sekertaris cucunya itu.
"Baik, Nyonya!" Hilman pun pamit.
"Oma, kenapa memanggil dia lagi?" Devan tidak senang jika ia harus menjilat ludahnya sendiri.
"Kamu mau penjualan menurun, perusahaan kita empat bulan ini semakin terkenal karena wanita itu membawa keberuntungan," jawab Oma Fera. "Sekarang Oma tanya sekali lagi padamu, apa alasan memutuskan kontrak dengannya?" Fera menatap mata cucunya, ia yakin Devan menyembunyikan sesuatu.
Devan terlihat gugup dan bingung.
"Oma yakin kamu punya masalah pribadi dengan Clarissa," tebaknya.
"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa, Oma." Devan berusaha menyakinkan Fera.
"Video itu sudah Oma lihat walau tidak memiliki suara," ucap Fera. "Apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya lagi.
"Tidak ada apa-apa, Oma!" jawabnya.
"Menurut laporan kamu pernah menggendong Clarissa tapi tubuhmu tidak menimbulkan reaksi apapun," tutur Fera.
"Ya, aku pernah menggendongnya karena saat itu ia pingsan dan terjatuh di lokasi syuting," jelasnya.
"Devan disekitar kalian banyak orang. Kenapa malah kamu yang harus melakukannya?" tanya Fera.
Pertanyaan Oma Fera memojokkan dirinya, tak mungkin ia mengatakan kalau Clarissa mengatakan cinta padanya. "Oma, pasti haus. Mau minum apa?"
__ADS_1
"Oma tidak haus," jawab Fera.
"Devan akan suruh Hilman membuatkan teh," tawarnya.
"Tidak usah Devan, Oma mau pulang. Jangan lupa bawa wanita itu ke perusahaan kita lagi," Fera berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan cucunya.
Pintu sudah tertutup, Devan menghempaskan tubuhnya di kursi dan menghela nafasnya. "Huh!" ia lalu mengambil tisu dan mengelap keringatnya.
Sementara itu di kota lain, Clarissa dan kedua temannya sedang berenang di kolam fasilitas hotel.
Ponsel Yuna berdering, ia pun keluar dari kolam dan mengangkatnya.
"Saya tidak bisa memberikan keputusannya, bagaimana besok saja kita bertemu!" ucap Yuna. Tak sampai dua menit mengobrol ia pun menutup panggilan.
"Siapa?" tanya Tina saat Yuna kembali bergabung dengan mereka di kolam.
"Hilman," jawabnya.
"Mau apa lagi sekretaris itu?" tanya Tina.
"Mereka meminta Clarissa kembali lagi ke Arta Fashion," jawab Yuna.
Clarissa tak langsung mengiyakan.
"Apa kau mau kembali lagi?" tanya Yuna pada sekretarisnya itu.
"Aku tidak bisa," jawab Clarissa.
"Baiklah, besok aku akan katakan pada sekretaris itu!" ujar Yuna.
"Aku besok ikut bertemu dengan dia," usul Tina. "Kau ikut kami?" tanyanya pada Clarissa.
"Aku di sini saja, lagian belum ada pekerjaan," jawabnya.
"Baiklah, aku akan menyewa dua orang pengawal pribadi dan sopir untukmu selama kami di sana!" ujar Yuna.
...----------------...
Keesokannya, di siang hari. Yuna dan Tina menemui Hilman di restoran tak jauh dari apartemen Clarissa.
"Di mana Nona Clarissa?" tanya Hilman sesampainya keduanya.
"Dia tidak ikut," jawab Yuna.
"Apa Nona Clarissa mau kembali lagi?" tanyanya.
"Tidak!" jawab keduanya.
"Nona Yuna, tolong saya. Bujuk Nona Clarissa untuk kembali," pinta Hilman dengan wajah mengiba.
"Kami tidak bisa membujuknya, dia sudah terlanjur sakit hati," ujar Tina.
"Nona, tolonglah. Nasib saya ada di tangan Nona Clarissa," mohon Hilman.
"Nasib anda itu di tangan Tuhan bukan Clarissa!" ucap Yuna.
__ADS_1
"Presdir akan memotong gaji saya kalau tidak bisa membawa Nona Clarissa!" Hilman menunjukkan wajah sedihnya.
"Kami tidak peduli!" ucap keduanya serentak.