Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Malam ini Yuna merayakan pertambahan usianya di restoran cukup terkemuka di Kota A. Ia mengundang beberapa sahabat dan teman terdekat dalam acara makan malam bersama.


Vino juga hadir, pria itu diundang Clarissa. Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Yuna juga datang. Sedangkan, Tina datang seorang diri. Sekretaris Presdir datang bersama kekasihnya.


Sementara itu Clarissa masih membujuk Devan agar mau datang. Karena pria itu sulit sekali bersosialisasi dan tak mau hubungan mereka diketahui oleh orang banyak.


Akhirnya tempat jam 7 malam, Devan menjemput Clarissa di apartemennya. "Terima kasih sudah mau menemaniku!" ucapnya.


"Nanti di sana kau yang harus melayaniku," pinta Devan.


"Baiklah!"


-


Sesampainya di sana, Yuna menyambut keduanya. "Terima kasih Presdir mau hadir di acara saya!"


"Ya," Devan tersenyum.


"Saya sudah siapkan khusus untuk kalian berdua!" ujar Yuna. Ia mengarahkan ke meja yang sudah sesuai kebutuhan Devan.


Clarissa menarik kursi untuk Devan dan ia duduk di samping kekasihnya itu. Tak lupa ia menyemprotkan hand sanitizer ke tangan Devan. Makanan juga dihidangkan di meja makan, tak lupa Clarissa memotong daging kecil-kecil karena kali kedua ia melakukan ini.


"Terima kasih," ucap Devan dan kekasihnya itu membalasnya dengan tersenyum.


Lain tempat di restoran yang sama, Hilman dan kekasihnya sedang menikmati sajian hidangan di satu meja dengan Tina dan Vino.


"Sepertinya mereka cocok," celetuk kekasih Hilman.


Vino ikut mengarahkan pandangannya ke Clarissa. "Ya, sangat cocok!" sahutnya.


"Sepertinya kau harus menyarankan Presdir untuk segera menikah dengannya," usul kekasih Hilman lagi.


"Nanti aku usahain," ujar Hilman.


-


Selesai makan, Vino menghampiri Yuna yang sedang menyapa para tamu undangan. "Boleh aku bicara?"


Yuna mengangguk pelan, mereka mengobrol sedikit menjauh dari para tamu. "Ada apa?"


"Aku ingin memberikan ini kepadamu!" Vino menyodorkan kotak kecil berwarna merah dan Yuna menerimanya. "Bukalah!" ia menyuruhnya.


Yuna membukanya perlahan dan ia tak menyangka melihat isinya. "Cincin!" gumamnya.


"Dari awal kepulangan, aku ingin memberikanmu ini. Tapi kau selalu menghindariku," ungkap Vino.


"Maaf!" cuma kata itu yang terucap dari bibir Yuna. Karena ia ingin marah dan kecewa tapi tak bisa.


"Aku tahu kau masih marah, apalagi ku pergi tanpa memberitahumu," jelas Vino. "Dan aku juga baru sadar dan tahu kalau kau menyukaiku," lanjutnya.


Yuna mengernyitkan keningnya. "Pasti mereka yang berbicara," dalam hatinya.


"Yuna, maukah memaafkan ku dan memberikan aku kesempatan lagi?"

__ADS_1


"Bagaimana ini? Kenapa aku deg-degan? Tolong, aku tidak kuat menjawabnya," jerit hati Yuna.


"Baiklah, kalau kau memang belum siap menjawabnya. Semoga harimu selalu bahagia," Vino pun berlalu.


"Kan, dia jadi pergi. Bagaimana ini?" tanyanya dalam hati.


...----------------...


Kediaman Artama


"Semalam kamu ke mana?" tanya Oma Fera sambil menikmati sarapan pagi.


"Hanya sekedar makan di acara ulang tahun teman," jawab Devan.


"Sejak kapan kamu menyukai acara seperti itu?" Oma Fera penasaran.


"Oma, aku harus berangkat ke kantor. Jangan lupa minum vitaminnya dan jangan melakukan pekerjaan apapun!" ucap Devan beranjak berdiri dan melangkah.


"Van, kamu belum jawab pertanyaan Oma," ujarnya. "Media hari ini mengatakan kamu pergi bersama Clarissa, apa itu benar?" pertanyaan Oma membuat Devan menghentikan langkahnya.


"Clarissa adalah model di perusahaan kita, tentunya aku selalu ada disekitarnya," Devan terpaksa berbohong.


"Oma harap, kalian tidak memiliki hubungan lebih," ucap Fera.


"Devan, berangkat dulu Oma!" Ia pun berlalu.


-


-


Hilman memberikan laporan penjualan selama sepekan ini. Ia meletakkan berkas tersebut di atas meja sambil memperhatikan Presdir yang sibuk membalas pesan dan sesekali tersenyum.


"Ada apa lagi?" Devan mendongakkan kepalanya dan menatap sekretarisnya itu.


"Tuan, penjualan semakin meningkat sebanyak tiga kali lipat. Mungkin berita kedekatan anda dan Nona Clarissa mempengaruhi penjualan kita juga," ucap Hilman.


"Maksudnya?"


"Berita kedekatan kalian itu, membawa dampak positif. Bukankah itu bagus, Tuan?"


"Ya."


"Apa lagi jika kalian menikah? Saya pastikan penjualan kita pasti menjadi paling banyak yang diburu. Ibarat kata, anda dan Nona Clarissa itu pasangan paling ditunggu," jelas Hilman.


"Aku belum sempat berpikir ke arah sana," ucap Devan.


"Tuan, mau jika Nona Clarissa di ambil pria lain?"


Devan menggelengkan kepalanya.


"Wanita itu butuh kepastian, Tuan!" ujar Hilman.


"Kekasihmu seperti itu juga?"

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya belum berani melamarnya, karena anda belum menikah," jawab Hilman.


"Jika aku tak menikah, kau tak menikah juga?"


"Tetap menikah, Tuan. Saya ingin ketika menua ada yang menemani saya," jawab Hilman.


Devan sejenak terdiam dan berpikir.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" pamitnya. "Semoga saja Presdir paham dengan ucapanku," batinnya.


Setelah Hilman keluar dari ruangannya, ia lantas berucap. "Ada benarnya juga yang dikatakannya, tapi bagaimana dengan restu Oma?"


-


Sementara itu, di lain tempat Clarissa baru saja selesai syuting salah satu drama di kawasan wisata di kota A. Ia didapuk sebagai bintang pendukung dan hanya tampil beberapa episode saja.


Kebetulan lokasi syuting drama, merupakan milik Hiko Andreas. Mengetahui Clarissa bermain di drama ini, pria itu menyempatkan datang hanya untuk melihat aktingnya.


"Rissa, Tuan Hiko ingin berjumpa denganmu!" ucap Tina.


Clarissa mengetahui jika lokasi syutingnya kali ini merupakan milik Hiko, ia pun menemuinya di sebuah gedung kantor yang sengaja di bangun di area wisata untuk tempat bekerja beberapa staf perusahaan.


"Ada apa Tuan memanggilku?" tanya Clarissa.


"Duduklah dulu, Rissa!"


Clarissa pun duduk di kursi di depan meja kerja Hiko kini keduanya saling berhadapan.


"Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Hiko.


"Ya, hampir dua bulan," sahut Clarissa.


"Apa benar kau memiliki hubungan dengan Presdir Arta Fashion?"


"Tuan, menyuruh saya ke sini hanya untuk menanyakan itu saja?" tanya Clarissa dan Hiko mengiyakan. "Kami memang mempunyai hubungan spesial, karena saya adalah model produknya," jelasnya tersenyum.


"Aku berharap kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya," Hiko lalu berdiri memutari meja lalu mendekati Clarissa. Ia meraih kedua tangan Clarissa namun segera ditarik wanita itu.


"Saya harus pergi," Clarissa berdiri.


"Aku menyukaimu Clarissa!" ucap Hiko.


"Maaf, saya tidak bisa menerima anda."


"Apa pria itu yang membuatmu tidak bisa menerimaku?"


"Permisi!" Clarissa pun berlalu.


Hiko mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Aku ada pekerjaan untukmu," ucapnya lalu menutup ponselnya dan tersenyum.


Sesampainya di mobil kedua temannya menanyakan pada Clarissa ada apa Hiko memanggilnya. Namun, ia menjawab sekedar menanyakan kabar saja.


Mobil meninggalkan lokasi syuting menuju apartemen miliknya dengan kecepatan sedang. Namun, entah dari mana sebuah mobil tiba-tiba menabrak mobil yang ditumpangi Clarissa.

__ADS_1


Mobil yang membawa empat penumpang tersebut terseret sepanjang seratus meter dan menabrak beton pembatas jalan. Clarissa yang duduk di sebelah kiri penumpang seketika pingsan.


__ADS_2