
Roland bekerja di salah satu stasiun televisi sebagai seorang kru di acara talk show. Hari ini bintang tamunya adalah Intan Ratu.
Tina, wanita yang saat ini dekat dengannya menyempatkan hadir di acara tersebut karena ia mendengar salah satu bintang tamu di acara talk show itu brand ambassador Arta Fashion.
Dia tak ingin Intan menggoda Roland, karena ia mendengar berita perkelahian Raya dan sang artis beberapa hari yang lalu.
"Hai, kenapa kau di sini? Bintang tamu kali ini bukan Clarissa," Roland terkejut wanita yang ia sukai datang.
"Aku sengaja datang untuk melihatmu kerja," Tina memberikan alasan.
"Sudah dua bulan ini, aku bekerja di sini. Kenapa baru sekarang kau menyempatkan diri untuk datang?" Roland menatap curiga.
"Hemm, memangnya tak boleh datang? Kalau begitu aku pulang saja," Tina membalikkan badannya hendak melangkah.
Roland menahan lengannya, "Kau boleh menungguku!"
Tina menerbitkan senyum tipis.
"Lima menit lagi acara akan dimulai, kau duduklah di sini!" Roland mengambil kursi tak jauh dari pintu studio.
Tina pun duduk tak jauh dari kursi penonton. Ia terus memperhatikan Roland yang sibuk bekerja.
Acara berlangsung selama sejam, Tina sebenarnya sangat bosan harus duduk dan diam. Biasanya ia akan ditemani Yuna untuk mengobrol selama Clarissa menjadi bintang tamu.
Tanpa sengaja Intan berpapasan dengan Tina. "Apa sekarang kau tidak memiliki pekerjaan hingga mau hadir di acara seperti ini seorang diri?"
Tina tak menjawab.
"Oh, apa kau ingin mencari artis atau model yang mau mengangkatmu sebagai asistennya?" Intan kembali menyindir.
Tina mulai terpancing emosi, beruntung tak jadi ia luapkan.
"Ayo, kita makan es krim yang tadi ku janjikan!" Roland menarik tangan Tina dan menjauh dari Intan.
__ADS_1
Cukup jauh dari wanita itu, Tina menghentikan langkahnya. "Lepaskan tanganku!" perintahnya.
Roland pun melepaskannya.
"Harusnya aku tadi memberikan hadiah menarik kepadanya," geram Tina.
"Jangan mempermalukan dirimu, Tina!"
"Dia itu tidak ada jeranya, padahal Tuan Devan sudah memotong honornya. Tapi mulutnya tak bisa dijaga," gerutunya.
"Memang dia seperti itu, jangan cari masalah dengannya," Roland memperingatkan.
"Kau tidak ingin terlibat dalam masalah aku dan dia, kan?"
"Bukan begitu," jawab Roland. "Ku cuma tak mau kehilangan pekerjaan, kau tahu aku baru saja bekerja di sini," lanjutnya menjelaskan.
Tina tampak terdiam dan berpikir lalu ia berkata, "Maaf!"
Roland menghela nafas lega, Tina mau mengerti keadaan dan berpikir dewasa.
"Eh, iya. Ayo kita makan es krim, biar hatimu dingin dan ceria," ajak Roland.
Mereka pergi ke kedai es krim, dua kilometer dari stasiun televisi tempat Roland bekerja.
Sesampainya di sana keduanya memesan dua cup gelas kaca berisi es krim warna warni berbagai rasa. Tina begitu antusias memakannya sampai belepotan dibibirnya.
Roland mengelap bibir Tina dengan tisu membuat wanita itu menghentikan aktivitas memakannya dan memandang tangannya.
"Terima kasih," Tina berucap lirih.
"Ya, sama-sama." Roland kembali melanjutkan memakan es krimnya.
"Kau sering ke sini?"
__ADS_1
"Tidak," jawabnya. "Tempat ini rekomendasi seorang teman saja," lanjutnya.
"Oh."
"Bagaimana kabar orang tuamu?" Roland menatap Tina.
"Baik, mereka semua sehat."
"Syukurlah, kapan aku bisa bertemu dengannya?"
"Hah!"
"Aku ingin bertemu dengan orang tuamu, kapan kita ke rumahmu?"
"Untuk apa kau ke rumahku?" Tina sedikit gugup.
"Hanya sekedar berkenalan dengannya, mana tahu mereka merestui kita," jawab Roland santai.
"Hei, memangnya siapa yang mau denganmu?" Tina memasang wajah angkuh.
"Kau tidak mau denganku?"
"Tidak!"
"Sepertinya aku harus mencari wanita lain," Roland pura-pura membuang wajahnya.
"Jangan!" ceplos Tina tanpa sadar.
"Kenapa? Kau tidak menerimaku, untuk apa aku bertahan dengan wanita yang tak menginginkan ku."
"Jadi, kau sudah menyerah!" Tina memanyunkan wajahnya.
Roland menarik sudut bibirnya. "Bilang saja kau menyukaiku!"
__ADS_1
Tina tersenyum malu-malu.