
Eza memandangi bangunan yang tidak terlalu luas dan besar. Ya, kantor cabang Arta Fashion tidak sebesar seperti di tanah air.
Eza pun melihat satu persatu orang yang lalu lalang. Hampir tiga jam, wanita yang ditunggu tak keluar dari gedung tersebut.
Ia pun menunggu di seberangnya kebetulan ada kedai kopi. Ia pun bertanya pada pegawai kedai, "Kalau saya boleh tahu. Karyawan yang ada di gedung itu pulang jam berapa?" Eza menggunakan bahasa Internasional untuk mempermudah pembicaraannya.
"Mereka pulang sejam lagi, Tuan."
"Oh, begitu ya. Terima kasih," Eza pun tersenyum.
Ia sengaja mencari tempat duduk yang menghadap langsung dengan kantor tersebut agar bisa melihat Raisa keluar dan benar saja wanita itu pun keluar dengan berjalan kaki.
Eza pun bergegas mengejarnya.
Raisa berjalan kaki dari kantor ke apartemennya karena memang tidak terlalu jauh. Ia menatap jalanan lurus ke depan.
"Raisa!"
Seketika langkah Raisa terhenti mendengar namanya di panggil. "Aku seperti mengenal suaranya," batinnya.
Ia pun menggelengkan kepalanya dan mengatakan dalam hatinya lagi tidak mungkin dia di sini.
Raisa menarik nafasnya lalu ia hembuskan dan kembali melangkah melanjutkan perjalanannya.
Namun panggilan namanya terdengar lagi, ia pun kembali berhenti dan berbalik. Seketika matanya mendelik dan dadanya berdegup kencang. Pria yang ia sukai berada di depannya.
"Raisa, akhirnya aku bisa bertemu denganmu," Eza tersenyum senang.
"Darimana kau tahu aku di sini?" tanya Raisa gugup.
"Dari Nyonya Clarissa."
"Kenapa bisa?"
"Aku berbicara langsung padanya," jawabnya.
__ADS_1
Raisa tidak bisa berkata-kata lagi.
"Aku merindukanmu!" ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Eza.
"Kau merindukanku?" Raisa bertanya dengan terbata-bata.
"Ya, aku sangat merindukanmu."
Raisa berusaha tertawa, "Kau bercanda?"
"Aku serius, Raisa. Kalau tidak mana mungkin aku sampai di sini."
"Lalu, bagaimana dengan Kirani?"
"Kami sudah putus."
"Kalian putus karena aku?" Raisa merasa bersalah.
"Tidak, Raisa." Eza berjalan mendekati wanita itu.
"Aku memang memilihmu!"
Tubuh Eza semakin dekat, "Aku sudah menyesal telah membuat hubungan kalian berantakan setahun yang lalu. Jadi, tolong jangan akhiri cinta kalian karena aku lagi."
"Aku sudah memang tidak memiliki rasa padanya sejak ia meninggalkanku. Dan kini, ada wanita lain yang telah membuatku jatuh cinta yaitu kau!"
"Tapi, aku tidak menyukaimu!"
Eza meraih tangan Raisa kemudian menariknya ke dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, Za."
"Aku tidak mau melepaskanmu lagi, di sini juga tidak ada Tuan Devan yang akan memarahiku."
Raisa mendorong Eza, "Kau harus bisa menaklukkan hati Papa."
__ADS_1
"Bantu aku untuk menaklukkan hati Tuan Devan," pinta Eza.
"Aku tidak mau!" tolak Raisa
"Kenapa?"
"Kau harus berusaha sendiri untuk menaklukkan hati Papa."
"Baiklah, kapan kau kembali?"
"Aku tidak akan kembali."
Eza menekuk wajahnya, tubuhnya lemas mendengar Raisa mengatakan tidak akan kembali.
"Jika kau mencintaiku, seharusnya bersabar menungguku kembali."
Eza mendongakkan kepalanya, "Aku akan menunggumu kembali. Kalau perlu aku akan pindah dan mencari pekerjaan di sini!"
"Apa kau tidak sedih berjauhan dengan kedua orang tuamu?"
"Rasa sedihku sudah hilang, mereka telah meninggalkan sendiri di dunia ini sepuluh tahun yang lalu," jawab Eza.
"Maaf, aku tidak pernah tahu tentang orang tuamu."
Eza tersenyum tipis, "Tidak apa!"
"Kau ke sini dengan siapa?"
"Dengan Kak Lita beserta keluarganya dan beberapa orang tim," jawabnya.
"Mereka di mana?"
"Di hotel, apa kau ingin bertemu dengan mereka?"
"Boleh," Raisa mengangguk.
__ADS_1
Eza tersenyum, ia raih meriah jemari Raisa dan menggenggamnya. Keduanya pergi ke hotel untuk bertemu rombongan.