
Clarissa tanpa sepengetahuan putri dan suaminya memanggil Eza yang menunggu di luar untuk masuk ke dalam ruangan rawat inap.
Bukan senyuman yang terpancar dari wajah Raisa melainkan kebencian. "Kenapa Mama menyuruhnya masuk?"
"Memangnya kenapa sayang? Eza dari semalam sudah menunggumu di luar," jelas Clarissa.
Eza bergeming.
"Raisa tak ingin bertemu dengannya!" wanita itu melirik Eza yang berdiri dekat pintu.
"Sayang, kamu kenapa?" Clarissa mendekati putrinya.
"Aku curiga penyebab kecelakaan putriku ada hubungannya denganmu!" Devan mengarahkan pandangannya pada kekasih Raisa.
"Sayang, kenapa kau berbicara seperti itu?" tanya Clarissa dengan lembut.
"Karena Raisa tak ingin bertemu dengannya, itu menjadi alasanku," jawab Devan tegas.
"Tolong usir dia dari sini, Ma!" pinta Raisa.
"Apa kau mendengar apa yang diminta putriku?" Devan berbicara dengan nada dingin.
"Sebelum saya pergi, bisakah kami berbicara berdua?" mohon Eza.
"Aku tidak ingin berbicara dengannya," sahut Raisa.
"Apa kata-kata putriku belum cukup jelas, Eza Mandala?" Devan menekankan ucapannya.
__ADS_1
"Raisa dengarkan aku, beri kesempatan untukku menjelaskan semuanya," Eza hendak mendekat namun tatapan tajam Devan membuat langkahnya terhenti.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" Raisa berkata tanpa menatap.
"Raisa ku mohon, ini semua salah paham," tuturnya.
"Sayang, coba dengarkan dahulu penjelasan Eza," ujar Clarissa.
"Raisa tetap tidak mau, Ma." Tolaknya.
"Kau mau pergi dengan kemauan sendiri atau di usir paksa?" tanya Devan dengan nada tinggi.
Clarissa mendekati suaminya dan memegang dadanya. "Van, ingat kondisi kesehatanmu!"
"Baiklah, Tuan. Saya akan pergi," Eza pun berpamitan.
Ia melangkah cepat meninggalkan rumah sakit dengan mata berkaca-kaca.
Setiap pagi selama Raisa di rumah sakit, Eza selalu mengirimkan bunga. Namun, berakhir di tempat sampah.
"Suster, jika pria itu memberikan bunga lagi lebih baik kamu kembalikan atau dibuang saja," titah Raisa pada perawat yang beberapa jam sekali datang mengecek kondisinya.
"Baik, Nona!" perawat pun meninggalkan ruangan.
Tak lama perawat pergi, Clarissa datang seorang diri dengan membawa makanan kesukaan putrinya. Begitu sampai ia melihat ke arah tempat sampah, "Apa dia yang mengirimkannya?"
"Ya, Ma."
__ADS_1
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Eza?" Clarissa duduk di dekat putrinya.
"Dia masih berhubungan dengan wanita itu, Ma." Tangis Raisa kembali meledak.
"Apa kamu sudah mendengarkan penjelasan Eza, kenapa dia bertemu dengan wanita itu?" tanya Clarissa.
Raisa menggelengkan kepalanya.
"Harusnya kamu tanyakan, jadi salah paham begini," nasehat Clarissa.
"Dia pergi saat kami makan malam bersama, Raisa bertanya padanya saat itu juga dia jawab seseorang butuh bantuan ku. Raisa lihat dia memeluk Kirani, Ma. Rasanya sakit, sadar kalau aku hadir diantara mereka," ungkapnya.
"Ya, sayang Mama tahu," ujar Clarissa.
-
-
Sore ini, Raisa sudah diperbolehkan pulang. Ia duduk di kursi roda dan di dorong oleh Devan. Beberapa pelayan juga ikut menjemputnya.
Keluarga besar Devan Artama melarang putrinya dijenguk, itu semua dilakukan agar kesehatannya tak menurun dan kondisi mentalnya tidak terganggu.
Eza mendapatkan kabar kalau Raisa akan pulang dari rumah sakit datang menemuinya. Namun, ia mendapatkan penolakan dari beberapa pengawal pribadi keluarga.
Clarissa menoleh ke arah pemuda yang tak pernah lelah untuk mengejar putrinya.
"Van, apa kita beri kesempatan Eza untuk bicara berdua dengan Raisa?" pinta Clarissa.
__ADS_1
"Dia sudah berani menyakiti putriku, bukankah aku telah memberikan peringatan kepadanya. Tak ada kesempatan kedua untuknya," jelas Devan ketika mereka di dalam mobil.
Eza terus menatap mobil yang perlahan meninggalkan rumah sakit, sementara itu Raisa sama sekali tak ingin melihat wajah kekasihnya itu.