Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Aku Pikir Mimpi


__ADS_3

"Dua gelas saja sudah membuatmu mabuk begini, bagaimana jika lebih?" Gerutu Devan.


"Kau mengomel sangat lucu!" Clarissa tersenyum nyengir.


Devan memapah tubuh Clarissa ke arah ranjang namun langkah wanita itu terhenti.


"Kenapa kamar ini sangat panas sekali?" Clarissa membuka kancing bajunya namun tangannya dicekal Devan.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku cuma ingin mendinginkan tubuhku!"


"Apa kau sudah gila!" Bentak Devan.


"Kenapa kau marah, ini kamarku?" Clarissa mendorong tubuh Devan tapi tak membuat pria itu jatuh.


Devan berusaha memegang kembali tubuh Clarissa dan memapahnya ke ranjang.


Namun, Clarissa malah menarik kerah baju Devan dan mengecup bibirnya.


Devan mendelikkan matanya saat wanita itu berani mengecup bibirnya dengan cepat ia mendorong tubuh Clarissa hingga terjatuh. Devan segera mengelap bibirnya dengan lengan bajunya, "Menjijikkan!"


Clarissa berteriak kesakitan sambil memegang pinggulnya. "Hei, kenapa kau mendorongku? Ini sakit sekali, tapi bibirmu manis sekali!" Ucapnya sambil menarik senyumnya tak lama kemudian ia menjatuhkan tubuhnya dan tertidur di lantai.


Devan yang melihat Clarissa tergeletak mendekatinya. "Rissa!" panggilnya masih dalam posisi diri, ia kemudian jongkok. "Rissa, apa kau sudah tidur?" panggilnya menepuk pipi Clarissa pelan.


Devan mengangkat tubuh Clarissa dan membaringkannya di ranjang.


...----------------...


Clarissa terbangun dengan tubuh terasa berat ia mengucek matanya dan memperhatikan sekelilingnya. Seketika ia terbangun dan duduk, ia membuka selimut ternyata pakaiannya masih sama dengan semalam.


"Siapa yang membawaku ke sini?" tanyanya dalam hati.


Ia mengibaskan selimutnya lalu turun dari ranjang, ia memperhatikan kertas yang di lipat berisi tulisan di atas nakas dan paper bag berwarna cokelat. "Aku sudah membayar tagihan hotel, gantilah pakaianmu dan jangan terlalu banyak minum karena semalam kau sangat merepotkan ku," Clarissa membaca tulisan itu lalu matanya mendelik dan tak percaya saat melihat nama diujung bawah kertas. "Devan!" ucapnya pelan.


Clarissa menggigit kukunya betapa malunya dirinya semalam. "Pasti aku sudah melakukan hal yang aneh!" batinnya.


Ia menelepon Yuna untuk menjemputnya, temannya itu juga kaget saat tahu Clarissa sedang berada di hotel seorang diri. Tidak biasanya temannya itu menginap di hotel tanpa teman-temannya, apalagi ini tidak dalam keadaan di luar kota.


Selesai menelepon, Clarissa membersihkan diri. Sebelumnya ia memeriksa isi paper bag. "Dari mana ia tahu ukuran bagian dalam tubuhku?" tanyanya pada diri sendiri. Pikiran kotor hinggap di kepalanya dengan cepat ia menggelengnya. "Mungkin hanya kebetulan saja!" ucapnya pelan.


Pelayan hotel mengirimkan sarapan pagi untuk dirinya. Ia menikmati makanan tersebut sambil menunggu kedua temannya menjemput.


Pukul 10 pagi, Yuna dan Tina datang menjemput. Mereka membawa pakaian yang dapat dikenakan Clarissa agar mengalihkan pandangan orang lain yang mengejar dirinya.


Pukul 11 pagi Clarissa tiba di apartemennya ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya.


"Rissa, kau belum memberikan penjelasan kepada kami!" ucap Tina.


"Penjelasan apa?" Clarissa berbicara tanpa membuka matanya.


"Kenapa kau bisa di hotel?" tanya Tina.


"Semalam aku sedikit mabuk saat menghadiri pesta ulang tahun Karen," jawab Clarissa lalu bangkit dan duduk di atas ranjang.

__ADS_1


"Jadi siapa yang membawamu ke hotel?" tanya Yuna.


"Devan," jawabnya santai.


"Apa!" keduanya temannya terkejut.


Clarissa membuka tasnya dan menunjukkan tulisan kertas yang ditinggalkan Devan.


"Jadi, kalian satu kamar?" tanya Yuna.


"Ya, tidaklah. Dia hanya mengantarkan ku saja setelah itu dia tidur di kamar lain, begitu kata karyawan hotelnya," tutur Clarissa.


"Bagaimana bisa Presdir ada di tempat itu?" tanya Yuna.


"Aku juga tidak tahu," jawab Clarissa sejenak ia berpikir lalu berkata lagi. "Mungkin saja Hilman karena aku bertemu dengannya semalam," lanjutnya menjelaskan.


"Beruntung kau di tolong Presdir, bagaimana jika pria jahat yang membawamu?" omel Tina.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak minum apapun yang mengandung alkohol," Yuna ikutan menasehatinya.


"Iya, aku minta maaf!" Clarissa menundukkan kepalanya.


"Semoga saja tidak ada wartawan yang melihat kau sedang mabuk," harap Tina.


-


Kediaman Keluarga Artama.


Devan dan Oma Fera menikmati makan siang bersama kebetulan juga hari ini adalah hari libur.


"Bertemu dengan teman," jawabnya sambil menyuapkan makanan ke mulut.


"Teman? Sampai kamu melewati sarapan pagi bersama Oma," sindir Fera. "Teman kamu yang mana?" tanya Fera lagi.


Devan memilih diam tak menjawab.


"Van, kamu dengar Oma?"


Devan meletakkan sendoknya dan mengelap bibirnya dengan lap mulut. "Aku harus memeriksa beberapa laporan yang kemarin tak sempat dikerjakan," ucapnya mendorong kursinya ke belakang lalu berdiri dan meninggalkan Oma Fera.


"Anak itu semakin aneh saja!" batin Fera.


...----------------...


Menjelang kontrak kerja berakhir, Clarissa kembali mendatangi Arta Fashion untuk membahas pemotretan terakhir.


"Pagi, Nona Clarissa. Bagaimana hari anda hari ini?" tanya Hilman menghampirinya saat di lantai bawah.


"Baik," jawab Clarissa terbata karena malu.


"Sebelum rapat, apa anda tidak ingin mengucapkan terima kasih pada Presdir?" tawar Hilman.


"Boleh juga," jawab Clarissa.


Yuna dan Tina memilih menunggu di lobi kantor.

__ADS_1


Hilman pun ke ruangan Devan bersama dengan Clarissa.


Sekretaris Presdir itu meminta izin terlebih dahulu sebelum Clarissa masuk dan Devan menyetujuinya.


Clarissa memasuki ruangan Presdir dengan malu-malu, ia menundukkan sedikit kepalanya dengan posisi berdiri menghadap Devan yang sedang duduk di kursi kerjanya. "Terima kasih sudah menolongku kemarin!" ucapnya.


"Terima kasih tidak cukup, kau harus mengganti semua kerugian waktu dan uangku," ujar Devan.


Clarissa menaikkan kepalanya. "Jadi kau menolongku meminta upah?"


"Siapa yang minta upah? Aku hanya minta kau mengganti kerugian waktu tidur malam, antar kamu ke hotel dan biaya penginapan," jelas Devan.


"Aku pikir kau orang yang baik, masa dengan kekasihnya sendiri perhitungan. Dasar pelit!" ucap Clarissa.


"Siapa bilang kita kekasih?" tanya Devan. "Hanya kau yang menganggap aku kekasih," lanjutnya lagi.


"Baiklah, aku akan menggantinya!"


"Bonus bulan ini kau tidak akan terima," ucap Devan.


Clarissa hanya menghela nafas pasrah.


Devan lalu berdiri dan memutari meja menghampiri Clarissa. "Dan satu lagi, aku terpaksa memotong honor kau kembali," ucapnya menyeringai.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Clarissa. "Bonus juga cukup untuk menggantinya," lanjutnya lagi berucap.


"Apa kau tidak ingat sama sekali tentang kejadian kemarin malam?" tanya Devan sambil melipat kedua tangannya.


Clarissa diam dan berusaha mengingatnya kembali.


"Bagaimana kau ingat?"


Clarissa menggelengkan kepalanya.


"Ternyata kemarin kau sangat mabuk sekali, sampai tidak mengingatnya," ujar Devan.


"Memangnya aku melakukan apa?" Clarissa penasaran apa yang telah ia lakukan saat mabuk.


"Baiklah aku akan katakan," ucap Devan terjeda.


"Cepat katakan!" Ia begitu tak sabar.


"Kau dengan beraninya mencium bibirku!" ucap Devan geram.


Clarissa menutup mulutnya tak percaya, dia seberani itu kepada Devan.


"Apa kau ingat?"


"Aku pikir saat itu mimpi ternyata benar," jawabnya lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like, komen, poin dan vote..


Selamat Membaca 🌹

__ADS_1


__ADS_2