Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.1


__ADS_3

Lima tahun kemudian....


Seorang gadis kecil berlari kecil ke arah Clarissa yang sedang menyediakan makan siang buat keluarga kecilnya dan Oma Fera.


"Hai, anak Mama sudah pulang. Apa kamu senang?" Clarissa tersenyum menyapa putrinya.


"Aku tidak mau bermain dengan Rayi lagi, Ma." Raisa mengoceh.


"Kenapa?" tanyanya lembut.


"Oma Siska jahat, dia marah-marah sama aku. Dia bilang kalau aku buat Rayi nangis. Padahal, dia yang salah tidak hati-hati," jawab Raisa polos.


"Rayi terjatuh atau bagaimana? Kenapa dia bisa nangis?"


"Kami main lari-lari terus dia terpeleset, jadinya jatuh. Tante Raya juga dimarahi sama Oma Siska," jelas Raisa.


Clarissa menghela nafas lalu kemudian tersenyum. "Kamu tidak usah lagi main ke sana, biar Rayi saja yang datang kemari. Apa Papa sudah tahu kamu dimarahi Oma Siska?"


"Belum, Ma."


"Kalau begitu, jangan beritahu Papa. Pergilah ke kamar mandi, bersihkan tangan dan kakimu. Kita akan makan siang bersama," perintah Clarissa.


"Baik, Ma."


Raisa berjalan ke kamar mandi sambil bernyanyi.


-


Kini mereka berempat berada di meja makan menikmati makan siang bersama. Raisa begitu lahap memakan ayam goreng.


"Ma, adikku kapan lahir?"


Ketiga orang dewasa saling pandang kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Sebentar lagi, sayang!" Devan menjawab.


"Adiknya laki-laki atau perempuan?" tanya Raisa lagi.


"Kita belum tahu, Nak. Kamu berdoa saja, semoga adiknya sehat," jawab Clarissa. Usia kandungannya sekarang menginjak enam bulan.


"Dan Mama kamu juga," sahut Devan.


"Nanti kalau adik kamu lahir, Raisa harus sayang," nasehat Oma Fera.


"Tentunya, Oma. Aku nanti akan sayang sama adikku, biar aku bisa main dengannya dan tak perlu lagi ke rumah Rayi," ocehnya.


"Memangnya kenapa tidak mau ke rumah Rayi lagi?" tanya Oma Fera.


"Tidak apa-apa, Oma." Sahut Clarissa, ia tak ingin wanita renta itu marah-marah pada Tante Siska karena telah menyakiti hati cicitnya.


"Benar, tidak apa-apa?" tanya Oma Fera lagi.


"Iya, Ma."


-


-


Raya masih terus menangis di kamarnya, Rey yang datang menghampiri istrinya. "Kau kenapa?"


"Mama marahi aku karena membela Raisa, padahal Rayi jatuh bukan karena keponakanku," jawab Raya terisak, sejak melahirkan anak keduanya ia lebih sensitif dan suka menangis.


"Jangan menangis lagi, kasihan Rayendra jika melihat mamanya bersedih seperti ini," Rey menghapus air mata istrinya dengan jemarinya.


"Mamamu kapan sih pulang? Sudah hampir sebulan dia di sini?" Raya menatap suaminya.


"Aku tidak tahu, mungkin kalau dia pulang akan teringat dengan Papa," jelas Rey. Dua bulan yang lalu Papa Rey pergi untuk selama-lamanya.

__ADS_1


"Tapi, makin hari kelakuan Mama Siska buat sakit hati saja," keluhnya.


"Kau yang sabar, ya!" Rey mengusap rambut istrinya dengan lembut.


"Dari awal kita kenal lalu menikah, aku selalu sabar," omel Raya.


"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Rey mengalihkan rasa kesal Raya.


"Tidak ada," jawabnya.


"Bagaimana kalau kita nanti jalan-jalan sore lalu belanja barang yang kau suka?" tawar Rey.


"Boleh juga," Raya mengangguk senang.


"Kalau begitu, jangan bersedih lagi!" Rey menampilkan senyum manisnya.


"Mama ikut atau tidak?" tanya Raya.


"Pastinya dia akan ikut," jawab Rey.


"Yang penting, jangan mengganggu waktu belanjaku," ujar Raya.


"Tidak akan, sayang!" Rey mengecup keningnya.


...****************...


Semoga tidak bosan membacanya 😊


Sambil Menunggu Update Jangan Lupa Mampir Ke Karyaku Yang Berjudul πŸ‘‡


-Calon Istriku Musuhku (end)


-Marsha, milik Bara

__ADS_1


__ADS_2