Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.27-Devan Murka


__ADS_3

Kabar Eza bertemu dengan Raisa di luar negeri terdengar di telinga pria paruh baya itu, ia mengeraskan rahangnya melihat foto keduanya berpelukan yang dikirim orang kepercayaannya.


Ia menghampiri istrinya yang sedang menikmati waktu bersantai di bangku taman setibanya di rumah. "Apa kau yang memberi tahu keberadaan putri kita?"


"Maksudnya? Aku tidak mengerti, sayang," ujar Clarissa.


"Pemuda itu menemui putri kita, padahal aku tidak memberi tahu kantor cabang milik kita padanya."


"Mungkin hanya kebetulan saja mereka bertemu di sana," Clarissa bersikap tenang.


"Kebetulan, bagaimana? Lokasi mereka berpelukan ini tak jauh dari kantor, itu artinya dia sudah mengetahuinya," ungkap Devan terlihat marah.


"Sayang, mungkin saja Eza sedang liburan dan bertemu di jalan," ujar Clarissa lagi.


"Aku tidak percaya, apa jangan-jangan kau bersengkokol dengan dia?" Devan menatap tajam istrinya.


"Kau menuduhku?" Clarissa tampak cemberut.


"Bukan begitu, sayang." Devan mendekati istrinya.


"Lalu, apa?"


"Aku tidak suka dengan hubungan putri kita dengan pria itu!"


"Biarkan saja, mereka juga tidak memiliki pasangan dan saling mencintai. Kenapa kau tega membiarkan perasaan cinta putrimu tidak terbalas? Rasanya sakit, Van!" Clarissa mengomel.


"Pekerjaan pria itu membuat kehidupan pribadi putri kita jadi incaran media," ujar Devan.


"Tapi, Eza berjanji akan menjaga putri kita," ceplos Clarissa.


"Kau bilang apa tadi? Menjaga? Apa dia bertemu denganmu?" cecar Devan.

__ADS_1


Clarissa terdiam dan menelan saliva.


"Rissa, apa kau bertemu dengannya?" tanya Devan.


Clarissa mengangguk mengiyakan.


"Pantas saja, dia berani menemui putri kita. Jadi, kau yang mengizinkannya," sentaknya.


Mata Clarissa berkaca-kaca, "Maaf!" ucapnya lirih.


Devan melihat mata istrinya berair ada rasa penyesalan karena sudah berkata kasar. Ia meraih tubuh Clarissa dan mendekapnya. "Aku juga minta maaf!"


"Aku kasihan padanya makanya merestui hubungannya," jelas Clarissa.


"Aku menyayangi Raisa, ku tak mau karena berita gosip tentang pria itu membuat putri kita malu," ujar Devan.


"Aku yakin Eza tidak mungkin membuat putri kita terluka, yakinlah!"


"Karena perasaan ku yang mengatakan."


"Kenapa aku belum bisa merestuinya?" tanyanya pada istrinya.


"Pelan-pelan saja, pasti kau bisa menerima Eza menjadi menantu kita," jawab Clarissa.


"Aku akan mencobanya, tapi jika ia berani menyakiti Raisa. Ku tidak akan segan menjauhinya," ancamnya.


Clarissa tersenyum, ia menghapus air di ujung matanya dan mendekap erat tubuh suaminya.


...----------------...


Seminggu setelah obrolannya dengan istrinya, akhirnya Devan menyuruh putrinya pulang. Clarissa yang mendengarnya pun senang.

__ADS_1


Eza tentunya sudah kembali beraktivitas setelah dua hari tiba di tanah air. Ia sengaja pagi-pagi datang ke Arta Fashion untuk menyapa calon mertuanya.


Begitu melihat Devan turun dari mobil, ia pun bergegas menghampirinya. "Selamat pagi, Tuan!"


"Pagi!" jawab Devan ketus.


"Pagi ini anda terlihat bahagia," ucap Eza tersenyum.


Devan berhenti dan berdiri berhadapan dengan modelnya. "Apa kau pikir hidupku tidak bahagia?"


"Bukan begitu, Tuan. Wajah anda terlihat ceria."


"Apa aku terlihat kejam dan tak pernah ceria?"


"Bukan begitu juga, Tuan."


"Sudahlah, tidak perlu menarik hatiku. Aku tahu beberapa hari yang lalu kau menemui putriku."


"Bagaimana Presdir bisa tahu? Apa Nyonya Clarissa yang memberitahunya?" batinnya.


"Aku tahu kau bertemu dengan istriku dan meminta alamat kantor cabang," ujar Devan lagi.


"Maaf, Tuan."


"Ini karena permintaan istriku untuk tidak memarahimu karena bertemu dengan Raisa."


"Sekali lagi, saya minta maaf!"


"Ya, aku memaafkanmu!"


"Terima kasih, Tuan!" Eza tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2