Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.35-Menemani Raisa Berobat


__ADS_3

Akhirnya, mereka tiba di kota salah satu negara tujuan pengobatan. Darren sudah menunggu keluarganya di bandara. Karena ketika mendengar kabar kecelakaan kakaknya ia hendak kembali namun Clarissa melarangnya.


Begitu sampai, orang tua dan anak itu saling berpelukan melepaskan rindu. Begitu juga antara kakak dan adik yang tidak bisa menahan air mata kesedihan.


Darren dan Devan berjalan lebih dahulu, Clarissa mendorong kursi roda milik Raisa sambil melihat ke kanan dan kiri mencari seseorang.


Eza yang dirinya sudah merasa aman mendekati Clarissa dan mengambil alih pegangan kursi roda Raisa. Ketiganya saling tersenyum ketika bertemu.


Clarissa pun meninggalkan Raisa bersama Eza dibelakang, ia lalu mendekati suami dan putranya.


Devan memperhatikan istrinya dan keberadaan putrinya, "Di mana Raisa?"


Clarissa merangkul lengan suaminya dan memeluknya. "Kamu jangan khawatir, sayang!"


Devan melihat ke arah belakang, putrinya didorong pemuda yang ia benci. "Kenapa dia ada di sini?"


Clarissa tetap merangkul lengan suaminya, "Aku yang mengizinkannya."


"Kenapa kau mengajaknya?" Devan tampak kesal.


"Biarkan dia menebus kesalahannya dan berjuang untuk putri kita," jawab Clarissa.


"Kenapa kau selalu memancing amarahku, Rissa?" Devan menekankan kata-katanya.


"Pa, Ma, jangan buat keributan di sini. Bicarakan di rumah saja," ujar Darren pelan.


"Kau dengarkan sayang, apa kata putra tercintaku ini?" Clarissa tersenyum pada Darren.


Darren melihat wajah Eza memar. Ia berbisik pada Clarissa, "Apa Papa yang melakukannya, Ma?"


"Ya, kalau kamu begitu pada wanita. Papa akan menghajar dirimu juga," jawab Clarissa pelan.


"Aku tidak mungkin seperti itu, Ma."


"Baguslah," ujar Clarissa tersenyum.


Eza membantu Raisa masuk ke dalam mobil dengan menggendongnya. Devan tak suka dengan perlakuan pemuda itu pada Raisa. Namun, ia tidak mencari keributan.


Eza mengikuti mobil yang ditumpangi keluarga Devan Artama.


Mereka memilih menginap di hotel yang sama, Eza datang bersama satu asisten pribadinya.


...----------------...


Walaupun tanpa izin papa kekasihnya ikut ke rumah sakit, namun Eza tetap mengikuti. Ia ingin tahu bagaimana kondisi kesehatan Raisa sebenarnya.


Eza dan Darren menunggu di luar ruangan. Tanpa obrolan sama sekali.


Hampir sejam, Raisa belum juga keluar dari ruangan konsultasi. Eza tampak tak sabar, ia terus mondar-mandir dihadapan calon adik iparnya.


"Apa Kak Eza bisa duduk?" sindirnya.


Eza pun akhirnya menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu pasien.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, jadi tenanglah," ujar Darren santai.


"Ini bocah kakaknya lumpuh masih bisa tenang saja," batinnya.


Tak lama kemudian, Raisa dan keluarganya keluar dari ruangan. Disusul seorang dokter pria yang masih muda, gagah dan tampan. Ditaksir usianya 30 tahun.


Eza sedikit risih melihat Dokter itu berbicara pada Raisa.


"Kalau begitu kami permisi, Dok!" pamit Clarissa.


Mereka berlima pun meninggalkan rumah sakit bersama-sama.


-


Begitu sampai hotel, Eza mendorong kursi roda kekasihnya. Devan ingin mencegahnya namun Clarissa lebih dahulu menarik tangan suaminya.


Eza membawa kekasihnya di taman hotel. Mereka mengobrol sebelum terapi dilakukan. "Dokternya sangat tampan," sindirnya.


"Ya, dia juga ramah dan baik hati. Papa menyukainya," ujar Raisa melirik kekasihnya.


"Wah, itu kabar bagus. Tapi kamu harus sehat dan sembuh biar ku izinkan bersamanya," Eza menatap Raisa.


"Izin? Kenapa harus kamu yang memberikan ku izin?"


"Karena saat ini kamu menjadi tanggung jawabku."


"Za..." Raisa menatap kekasihnya yang duduk dihadapannya.


"Karena aku, kamu menjadi lumpuh. Ku berharap kamu sehat dan kembali bisa beraktivitas normal," harapan Eza.


"Aku tidak bisa menemanimu sampai sembuh di sini, maaf. Ku harus kembali ke tanah air, ada pekerjaan yang harus diselesaikan," ungkap Eza. "Tapi, jika kamu ingin ku tetap di sini. Aku bisa membatalkan kontraknya," lanjutnya lagi.


"Tidak, Za. Kembalilah dan kejar karirmu yang masih cerah. Ku sudah tahu kabar mengenai apartemen milikmu," tutur Raisa.


"Saat kamu mengalami kecelakaan dan aku tak bisa bertemu denganmu seketika semua hancur. Karir yang ku bangun menjadi sia-sia. Aku merasa bersalah apa yang terjadi padamu, harusnya ku bukan pergi." Air mata Eza berkaca-kaca.


Raisa menghapus air mata Eza yang mulai menetes. "Mari kita ulang dari awal, jangan bersedih seperti ini. Aku jadi ingin menangis juga," ujarnya.


Eza menangkup wajah Raisa, "Jika ada waktu, aku akan kembali ke sini. Ku juga tidak akan menerima pekerjaan dalam waktu dekat ini. Ku mencintaimu!"


Raisa tersenyum tipis kemudian mengangguk.


...----------------...


Keesokan harinya...


Sebelum keberangkatan kembali ke tanah air. Eza menemani kekasihnya melakukan terapi. Ada rasa cemburu melihat kekasihnya disentuh tangannya oleh dokter muda itu.


Tapi, ia harus menepis rasa cemburunya demi kesembuhan Raisa. Ia telah berjanji akan bertanggung jawab.


"Pesawat kita akan terbang empat jam lagi, apa anda tetap di sini saja," bisik asisten Eza.


Eza melihat jam di tangannya lalu ia mendekati Darren meminta izin untuk pulang ke tanah air dan mohon disampaikan kepada Raisa yang sedang menjalankan terapi.

__ADS_1


Eza tidak berpamitan langsung kepada Raisa karena tak ingin mengganggu konsentrasinya dalam pengobatan.


-


Beberapa jam kemudian, Raisa mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Eza.


"Dia sudah pulang, Kak!" ujar Darren.


Raisa menatap adiknya, "Pulang? Kenapa tidak pamit padaku?"


"Dia tak ingin mengganggu terapi Kak Raisa," jawab Darren.


Ada perasaan sedih ditinggal Eza pulang, namun hal itu membuat Devan berada tidak terlalu jauh dari kedua anaknya tersenyum senang mendengarnya.


Clarissa menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" bisik Devan.


"Apa kau tidak kasihan dengan putrimu?"


"Kasihan, tapi pria itu harus bertanggung jawab pada pekerjaan yang sudah ia tanda tangan."


"Ya kau benar, kalau tidak pria itu akan menjual harta benda berharganya agar tak dikatakan 'tidak profesional'. Bukan begitu, Tuan Devan?" sindir Clarissa.


"Ternyata kau cukup pintar istriku yang cantik!" Devan tersenyum mengejek.


"Awas saja kau, ya!" geramnya.


"Ayo, kita pulang. Aku sudah lapar dan ingin menghajarmu di kamar," Devan menggenggam tangan istrinya dan menariknya.


"Anak-anak, ayo kita pulang!" Clarissa berteriak memanggil.


Darren membantu mendorong kursi roda Raisa menuju mobil. "Apa Kak Raisa sangat mencintai Kak Eza?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Kisah cinta kalian ribet, ya."


"Ya, kamu berharap saja kalau jatuh cinta tak sesulit hubungan kami yang harus berjuang mendapatkan restu dari Papa," ujar Raisa.


"Kenapa aku jadi takut jatuh cinta?"


"Kamu belum pernah merasakan, coba deh jatuh cinta," usul Raisa.


"Ah, tidak. Membuang waktu dan tenaga saja," ujar Darren.


"Jadi kamu ingin sendirian seumur hidup?" tanya Raisa.


"Memangnya kenapa kalau sendirian?"


"Kamu memang cukup aneh, Darren!" Raisa geleng-geleng kepala.


"Apa yang aneh?"

__ADS_1


"Jalan pikiranmu itu yang aneh, aku doakan semoga kamu benar-benar jatuh cinta biar tahu rasanya patah hati," jawab Raisa tertawa.


"Kita lihat saja, sepertinya aku tidak akan jatuh cinta pada seorang gadis sampai harus mengejarnya. Karena aku bukan Kak Raisa yang mengejar cintanya Kak Eza."


__ADS_2