Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Devan Khawatir


__ADS_3

Rumah Sakit Kasih


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Devan pada Yuna.


"Pakaian Clarissa kotor karena jatuh lalu ia mengganti pakaiannya, setengah jam menunggu dia tak kunjung kembali. Saya dan Tina menyusulnya," jawab Yuna gemetaran. "Tina menemukan dia sudah pingsan di toilet," lanjutnya menjelaskan.


"Kenapa kalian tidak menemaninya?" tanya Devan mulai marah.


"Dia menolak di temani, Tuan!" jawab Tina penuh rasa menyesal.


-


Clarissa sudah sadar dan bisa diajak berbicara. Ia kini di ruang rawat inap dan dijaga oleh kedua temannya.


Clarissa melemparkan senyumnya saat melihat kedatangan Devan.


"Presdir ingin tahu kenapa kau pingsan," ucap Yuna.


"Ya ampun, anda begitu perhatian dengan ku!" ujar Clarissa.


"Kau jangan percaya diri, aku begini juga karena kau adalah rekan bisnis ku," tutur Devan.


"Oh, kirain karena kita kekasih," ucap Clarissa tersenyum malu-malu.


Hilman dan kedua teman Clarissa mengulum senyum.


"Katakan sebenarnya?" Devan memasuki kedua tangannya di saku samping celana.


"Saat aku mengganti pakaian, ada orang berteriak minta tolong dari kamar mandi. Aku mendekatinya tapi tidak ada orang di dalamnya. Seseorang memukul pundak lalu ku terjatuh setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi," jelas Clarissa.


"Hilman, kita pulang sekarang!" ucap Devan.


"Hei, kenapa buru-buru?" teriak Clarissa dari atas ranjang rumah sakit.


"Rissa, tutup mulutmu!" Tina menggerakkan tangannya menutup mulut temannya itu.


"Kau ini berisik sekali!" gerutu Yuna.


"Aku baru saja bertemu dengannya," ucap Clarissa.


-


Devan pulang diantar sekretaris pribadinya. "Hilman, periksa CCTV sekitar taman, cari tahu segera pelakunya," perintahnya untuk mengusut kasus ini setelah pengakuan dari Clarissa.


"Baik, Tuan!" ucap Hilman.


"Aku ingin tahu apa alasan pelaku melakukan itu kepada Clarissa," ujar Devan.

__ADS_1


"Apa Tuan begitu khawatir dengan Nona Clarissa?"


tanya Hilman.


"Iya, aku sangat mengkhawatirkannya," jawab Devan tanpa sadar membuat Hilman mengulum senyum. "Ya, aku khawatir karena dia model perusahaan," Devan segera meralat ucapannya.


-


Kediaman Keluarga Artama


"Devan, apa yang terjadi di lokasi syuting?" tanya Oma Fera saat Devan baru sampai.


"Ada seseorang yang melukai Clarissa," jawab Devan.


"Bagaimana kondisi dia?"


"Dia baik-baik saja, hanya luka di keningnya!" jawab Devan kembali.


"Apa Clarissa punya musuh?" tanya Fera.


"Devan juga kurang tahu," jawabnya. "Oma, aku permisi ke kamar!" pamitnya dan Fera mengizinkan.


-


Rey yang mendengar kabar Clarissa pingsan di lokasi syuting datang menjenguknya, ia sengaja pulang dari kantor langsung menemuinya.


"Aku tidak apa-apa, Rey!" jawab Clarissa.


"Syukurlah, aku tadi sangat khawatir ketika mendapatkan kabar," ungkap Rey.


"Sekarang kau tak perlu khawatir, aku baik-baik saja!" ucap Clarissa.


"Di mana Devan?" tanya Rey.


"Dia sudah pulang," jawab Clarissa. "Kau tidak ingin minum?" tawarnya.


"Bolehlah," jawab Rey.


"Kau bisa mengambilnya sendiri," ucap Clarissa menunjuk meja tamu.


"Tidak masalah, aku bisa mengambilnya sendiri!" ujar Rey.


...----------------...


Devan meminta Hilman memberikan laporan tentang kasus pemukulan Clarissa di lokasi syuting.


"Seorang pria menyamar jadi kru, dia memakai masker dan topi," jelas Hilman. "Kamera pemantau juga memperlihatkan plat kendaraannya," lanjutnya menjelaskan.

__ADS_1


"Lapor pihak berwajib sekarang!" perintahnya.


"Baik, Tuan!" Hilman pamit keluar ruangan.


"Semoga saja pelakunya cepat terungkap," harapnya.


Devan membuka layar ponselnya, ia mencari kontak nama Clarissa namun tidak ia temukan. "Aku 'kan tidak pernah memintanya," ucapnya. "Bagaimana aku bisa menanyakan kabarnya?" tanyanya dalam hati.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar.


"Ya, silahkan masuk!" ucap Devan. "Ada apa kau ke ruangan ku?" tanya tanpa basa-basi saat bertemu dengan posisinya.


"Apa kau sudah menemukan pelakunya?" tanya Rey.


"Hilman sedang melaporkan pada pihak berwajib," jawab Devan.


"Oh, semoga saja pelakunya segera tertangkap," harap Rey. "Apa kau tidak ingin menjenguk Clarissa lagi?" tanyanya.


"Tidak, aku lagi sibuk!" jawab Devan.


"Kalau begitu, nanti sore aku akan menjenguknya lagi biar kami semakin dekat," ucap Rey.


"Kau sudah menjenguknya?"


"Sudah!"


"Bagaimana kondisinya?" tanya Devan menatap wajah sepupunya.


"Dia baik dan sehat," jawab Rey. "Memangnya kau tidak menelepon atau mengirimkan pesan kepadanya?" tanya Rey menyelidik.


Devan hanya diam dan bisa menjawabnya.


"Jangan bilang kau tidak menyimpan nomor ponselnya!" Rey mencoba menerka.


Devan membuang wajahnya dengan cepat agar kegugupannya tidak terbaca oleh Rey.


"Kalau begitu aku bisa leluasa dekat dengannya," ucap Rey tersenyum.


"Kau ingin Tante Siska marah padaku dan Clarissa?"


"Dia takkan mungkin marah jika menyangkut kebahagiaan ku," jawab Rey.


"Jangan pernah sentuh milikku!" Devan memperingatkan sepupunya itu.


"Akhirnya kau mengaku juga," Rey tersenyum.


"Ya, karena Clarissa model ku. Jangan sampai masalah Ibumu dan dia merugikan perusahaan milikku," jelas Devan memberi alasan agar tak ketahuan sedang cemburu.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan mengganggunya. Tapi, jika dia menangis karena kau," Rey memperingatkan Devan. "Aku tidak akan segan menghapus air matanya," lanjutnya dengan tersenyum.


__ADS_2