Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
S2-MCST bg.5-Pemilihan Model Arta Fashion


__ADS_3

Raisa menikmati makan malam bersama kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya bernama Darren Artama, yang usianya kini 17 tahun.


"Ma, kami berencana akan mencari brand ambassador yang baru seorang pria. Menurut Mama setuju atau tidak?" tanya Raisa.


"Kalau Mama terserah Papa saja, dia yang berhak memutuskannya," jawab Clarissa.


"Papa mengikuti mana yang terbaik," ujar Devan.


"Raisa ingin ada wajah baru di Arta Fashion yang selama ini selalu di kuasai dengan model wanita," ungkapnya.


"Mama sih' setuju saja," ucap Clarissa.


"Kalau menurutmu, bagaimana?" Raisa menatap adiknya.


"Aku tidak tahu, terserah kakak saja!" Darren mengunyah makanannya.


"Kamu harus bisa mengambil keputusan juga, perusahaan bakal dirimu yang pegang," ujar Raisa.


"Tapi, aku masih kecil Kakak. Tidak mengerti tentang hal itu," jelas Darren.


"Raisa, makanlah dahulu. Jangan bicara saja," perintah Devan lembut.


"Iya, Pa." Raisa mulai makan.


"Kamu begitu semangat mencari model pria, bukan ada artis yang ditaksir, kan?" Clarissa menatap wajah putrinya.


"Ya, tidaklah. Papa tidak mengizinkan Raisa menyukai artis," ungkapnya.


"Kenapa?" tanya Clarissa.


"Tanya saja sama Papa," Raisa melirik ayahnya.


-


Selesai makan malam, Clarissa duduk santai menikmati udara di balkon bersama suaminya.


"Kenapa kau melarang Raisa dekat dengan seorang artis?"


"Aku tidak mau kehidupan pribadi kita jadi konsumsi publik."


"Aku juga mantan artis, kenapa kau mau?"


"Aku belajar dari pengalaman kita," jelasnya.


"Cinta tidak bisa dipaksakan, bagaimana jika memang putrimu sudah memiliki kekasih tanpa sepengetahuan kita?"


"Aku akan meminta Raisa meninggalkannya atau sebaliknya," ucap Devan tegas.


"Tidak seharusnya kita melarang hatinya untuk jatuh cinta kepada siapapun," ujar Clarissa.


"Rissa, keputusan ku tidak bisa diganggu. Aku tahu ini terbaik untuk putri kita," Devan berkata tegas.


Clarissa menghela nafas dan memijit pelipisnya.


Devan meninggalkan istrinya seorang diri di balkon, Raisa datang menghampiri ibunya.


"Ma," sapa Raisa tersenyum.


"Apa yang ingin kamu bicarakan pada Mama?"

__ADS_1


Raisa tersenyum nyengir, menggaruk tengkuknya. "Malu, Ma!"


"Malu? Kenapa harus malu? Cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan, Mama jadi penasaran," goda Clarissa.


"Hmm, yang lebih dahulu mengatakan cinta Papa atau Mama?"


Clarissa tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. "Apa kamu menyukai seorang pria?"


"Mama belum jawab pertanyaan Raisa," protesnya.


"Baiklah, Mama akan menjawabnya."


Raisa menatap wajah ibunya begitu serius.


"Awalnya Mama yang mengejar Papamu, tapi sekarang malah kami saling mencintai," jelas Clarissa.


"Mama kenapa bisa suka dengan Papa?"


"Papa kamu itu berbeda, sulit untuk menjelaskannya," jawab Clarissa tersenyum.


"Dia juga berbeda," gumam Raisa mengulum senyum.


"Siapa yang berbeda?" Clarissa penasaran.


"Tidak ada, Ma." Raisa tampak salah tingkah.


"Mama pikir kamu sudah ada kekasih," tebak Clarissa.


"Belum ada, Ma. Raisa masih mengejar karir," jawabnya.


"Mama mendukung apa yang menjadi keputusan selama itu baik," Clarissa memegang wajah putrinya dengan tangan kanannya sembari tersenyum.


"Ya, sudah Mama mau tidur. Kamu istirahat, jangan terlalu sering begadang," nasehat Clarissa.


"Iya, Ma."


...----------------...


Gedung Arta Fashion


Rapat pemilihan Brand Ambassador kembali digelar. Beberapa direksi mengajukan tiga nama model pria dan menjelaskan tentang prestasinya di dunia hiburan sesuai yang diinginkan Presdir.


"Saya akan menyeleksi lagi nama-nama yang kalian ajukan. Tapi saya ingin mendengar nama yang disarankan oleh Raisa Artama," Devan mengarahkan matanya ke arah putrinya.


"Terima kasih, Presdir." Raisa tersenyum kemudian ia berdiri. "Saya mengajukan satu nama model dan artis pria, dia adalah Eza Mandala,"ujar Raisa.


"Tapi, Nona..." potong salah satu direksi.


"Biarkan dia bicara dahulu," pinta Devan.


Raisa kembali berbicara, "Eza selain model tabloid, dia juga bintang iklan dan video beberapa penyanyi ternama, dia juga menjadi salah satu nominasi pemeran pendukung terbaik di ajang bergengsi dunia perfilman di negeri ini."


"Nona, tapi dia belum pernah meraih satu pun penghargaan," ujar salah satu peserta rapat.


"Memang benar, tapi apa salahnya kita mencoba memakainya?"


"Nona, kita tidak bisa hanya coba-coba. Nama perusahaan kita akan terpengaruh jika salah memilih brand ambassador.


Devan hanya melihat dan mendengar putrinya saling berdebat dengan beberapa orang direksi dan staf.

__ADS_1


"Belum tentu nama besar mampu membawa perubahan untuk iklan yang dibintanginya. Contohnya saja, tidak semua film atau drama yang dibintangi artis ternama laku dipasaran," tutur Raisa.


"Nona, tiga nama yang kami ajukan itu sudah terkenal. Beberapa perusahaan besar pernah bekerjasama dengan mereka."


"Bisa saja, faktor keberuntungan kita kali ini bersama Eza. Tiga tahun belakangan ini, omset penjualan kita menurun sepuluh persen. Kalau dikatakan Celine Nathalia dan Marcelia sangat terkenal, film dan drama yang mereka bintangi meledak dipasaran. Tapi, kenapa ketika kita gaet menjadi brand ambassador malah merosot?"


Peserta rapat saling berpandangan dan berbicara seperti menyetujui penjelasan Raisa.


"Baiklah, saya akan mempertimbangkan nama-nama yang kalian usulkan. Pastikan ketika saya sudah menyetujui salah satu nama segera hubungi manajernya," jelas Devan. "Rapat selesai!" Ia berdiri dan meninggalkan ruangan.


Raisa berjalan di belakang papanya. Ia mempercepat langkahnya.


"Pa, bagaimana usulan nama yang Raisa ajukan?"


"Kenapa kamu begitu menginginkan itu model?"


"Ya, menurut Raisa cocok saja," jawabnya asal.


"Apa kamu yakin dia mau menerima tawaran ini?"


"Ya, kita coba saja."


"Baiklah, Papa akan memikirkannya lagi," ujar Devan.


Raisa tersenyum senang.


......................


Keesokan harinya kebetulan libur kerja, Raisa membuat janji dengan manajer Eza di sebuah kafe.


"Pagi, Nona Raisa!" sapanya.


"Pagi juga!" Raisa tersenyum.


"Ada apa anda ingin bertemu dengan saya?"


"Saya ingin menawarkan Eza kerja sama menjadi brand ambassador di Arta Fashion," jawab Raisa.


"Apa? Anda tidak salah? Arta Fashion salah satu perusahaan ternama di negeri ini," ujar wanita berusia 40-an yang menangani beberapa artis.


"Ya, anda benar. Saya wakil direktur Arta Fashion," jelas Raisa.


"Anda menyebut di telepon, jika nama Nona adalah Raisa Artama. Itu artinya anda adalah putri dari Devan Artama dan Clarissa Ayumi?"


"Ya benar, saya adalah putrinya," Raisa menjawab dengan tersenyum.


"Wah, beruntung sekali Eza mendapatkan tawaran ini," ujar wanita bernama Lita.


"Saya harap Eza tidak terikat kontrak dengan perusahaan yang sama seperti Arta Fashion," tutur Raisa.


"Eza tidak terikat kontrak dengan perusahaan sejenis Arta Fashion," jelasnya.


"Saya harap juga jika memang nama dia terpilih, jadwal di Arta Fashion tidak tabrakan dengan jadwalnya yang lainnya."


"Anda tenang saja, Eza saat ini sedang bekerja sama dengan salah satu band, ia akan menjadi bintang video klipnya," jelas Lita lagi.


"Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih atas waktunya, selanjutnya nanti akan saya kabari. Semoga saja namanya terpilih," Raisa pun berdiri setelah bersalaman ia pun pergi meninggalkan kafe.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Aku Harap Kalian Tidak Bosan....🌹


__ADS_2