
"Aku tidak akan rela jika kau dimiliki wanita manapun, Za!" Kirani berbicara lantang.
"Ciih, sombong sekali dirimu. Memang apa hakmu mengatur hati Eza?" Lita tersenyum sinis.
"Eza tetap akan jadi milikku!" Kirani berkata tegas.
"Rani, aku minta maaf. Hubungan kita memang tidak bisa dilanjutkan lagi," ujar Eza.
Kirani mendengus kesal, ia pun pergi dan berlalu.
Eza meremas wajahnya, hatinya benar-benar bingung. Di satu sisi dia merasa bersalah dengan Kirani, di lain sisi hatinya telah terpaut nama Raisa.
...----------------...
Pemotretan bulan kesepuluh, Eza tampil sendirian tanpa model pendamping. Ya, dua bulan lalu sejak kepergian Raisa. Arta Fashion tidak mencari penggantinya.
Jikapun ada, pemotretan akan dilakukan terpisah tanpa berpasangan dengan Eza. Entah apa alasannya, selama Arta Fashion berdiri model wanita dan pria berfoto tanpa saling bertemu.
Selama Eza menjadi model Arta Fashion, Devan Artama hadir melihatnya. Ayah Raisa itu pernah datang ketika putrinya menjadi model pendamping.
Pandangan Devan terfokus pada pria yang sudah membuat putrinya jatuh hati. "Apa yang dilihat Raisa padanya?" batinnya.
Selesai pemotretan, Eza menghampiri Presdir yang berjalan ke ruang kerjanya. "Tuan!" panggilnya.
Devan menoleh dan menatap dengan wajah dingin.
"Maaf!" ujarnya. "Saya ingin tahu kabar Nona Raisa," lanjutnya.
"Mengapa kau ingin tahu kabar putriku?" Devan memasukkan kedua tangannya di kantong celana.
"Saya merasa bersalah padanya," jawabnya.
"Baguslah, jika kau sadar. Aku melihatmu ketika pemotretan dan mempertahankanmu di sini juga karena putriku."
__ADS_1
"Sampaikan rasa terima kasih saya padanya, Tuan."
"Ya, aku akan sampaikan," Devan hendak pergi namun di tahan Eza lagi.
"Tuan, maaf. Apa alasan anda membenci saya?" Eza memberanikan diri.
"Karena putriku jatuh cinta padamu!" jawab Devan.
"Memangnya kenapa Tuan jika dia mencintai saya? Itu adalah haknya," ujar Eza dengan berani.
"Karena aku tidak ingin kehidupan putriku terusik."
"Bukankah istri anda juga seorang artis?"
"Aku belajar darinya, jadi cukup pembicaraan kita hari ini," ujar Devan.
"Tuan, saya mencintai putri anda!" Eza berkata lantang.
Beruntung tidak ada karyawan yang lewat atau berlalu lalang. Karena peraturan dibuat, jika Presdir sedang berbicara para karyawan dilarang melintas atau mendengar obrolannya. Sanksi akan ditegakkan apabila ada yang melanggarnya. Devan melakukan itu untuk menjaga ketenangan keluarganya.
"Tidak ada alasan saya, mengapa mencintai putri anda!"
"Kau cukup berani mengatakannya, apa kau sangat mencintai putriku?"
"Saya sangat mencintainya, Tuan."
"Kalau begitu lupakan dia, jika kau sangat mencintainya!" Devan pun berlalu.
Eza terdiam dan mencoba menahan nafas. Rasanya sesak bila cinta tak terbalas.
-
-
__ADS_1
Begitu sampai rumah, Devan terus ngedumel. Clarissa mendekati suaminya dan menanyakan apa yang terjadi.
"Kenapa? Apa ada masalah di kantor?"
"Tidak."
"Lalu kenapa wajahmu terlihat seperti sebal?"
"Ada sedikit masalah dengan seseorang."
"Bolehkah aku tahu?"
"Anak itu sudah berani mengakui menyukai putri kita," jawabnya.
Clarissa tertawa kecil, "Biarkanlah!"
"Kau ini malah membelanya," protes Devan.
"Sayang, memangnya kenapa kalau mereka saling mencintai?"
"Tapi aku tidak suka, Rissa!"
"Tapi aku salut dengan pria itu, dia berani mengatakan menyukai putri kita langsung kepada ayahnya," puji Clarissa.
"Kau menyindirku karena tidak berani mengungkapkan perasaan, begitu menurutmu?"
"Sayang, aku tidak menyindirmu. Tapi, aku kagum dengan keberaniannya," jawab Clarissa.
"Entah apa yang dilihat putri kita dari pria itu?" Devan terus menggerutu.
"Memangnya apa yang kau lihat dariku?" Clarissa balik bertanya.
"Kenapa kau malah menanyakan itu padaku?" Devan mulai kesal.
__ADS_1
"Sayang, kita juga tidak tahu alasan Raisa menyukai Eza. Cobalah beri mereka kesempatan," usul Clarissa.
Devan menarik nafas lalu ia buang dan menatap wajah istrinya yang memohon. "Nanti ku pikirkan lagi!"