
Eza yang baru saja mengurusi pekerjaannya di Arta Fashion pergi ke kafe sekedar menunggu klien yang akan memakai jasanya sebagai bintang iklan.
Dia datang hanya seorang diri karena pekerjaan ini hanya mempromosikan produk di media sosial, kebetulan juga kliennya ini temannya semasa sekolah.
Begitu sampai mata Eza melihat keakraban Raisa dengan seorang pria, keduanya tampak saling bercanda dan tersenyum. Kehadirannya di kafe itu tidak diketahui wanita itu.
Tak lama kemudian, seseorang yang ditunggu Eza datang.
"Maaf membuatmu menunggu," ucapnya.
"Baru lima menit," ujar Eza.
"Baiklah, aku akan menunjukkan produknya," Wanita itu mengeluarkan beberapa barang.
Setelah menjelaskan produk, keduanya menikmati makan siang bersama sesekali saling bercanda.
Raisa akhirnya menyadari keberadaan Eza di kafe yang sama, ia melihat pria yang ditaksir begitu akrab dengan seorang wanita.
Wajah Raisa berubah cemberut.
"Raisa, kau kenapa?" tanya Rayi.
"Ayo, kita pulang!" ajaknya.
"Kenapa?"
"Dia di sini!" jawab Raisa yang melihat Eza.
Rayi mengikuti arah pandangan Raisa. "Jadi, dia pria yang kau maksud?"
"Iya, ayo cepat!" Raisa meraih tasnya dan pergi.
__ADS_1
Eza mengikuti arah langkah Raisa yang disusul seorang pria dibelakangnya.
Eza pun buru-buru mengakhiri pertemuannya dengan temannya itu lalu menyusul Raisa.
-
-
Raisa turun di gedung Arta Fashion bersama pria yang ada di kafe. Eza yang mengikutinya hanya menunggu di dalam mobil. "Apa dia kekasih Raisa?"
Raisa melihat Rayi mengikutinya bertanya, "Kenapa kau mengikuti ku?"
"Aku ingin bertemu dengan Paman Devan, apa tidak boleh?"
"Boleh, tapi jangan bilang kalau tadi aku menangis," ujarnya.
"Baiklah, tenang saja!" janji Rayi.
Beberapa hari kemudian pemotretan di lakukan kembali, namun kali ini tanpa model wanita. Eza memperagakan pakaian seorang diri. Raisa datang hanya sebentar, sekedar melihat jalannya pemotretan setelah itu dia pergi.
Saat berpapasan dengan Eza, putri Presdir terlihat cuek dan acuh. Sama sekali tidak sapaan yang bagaimana biasa wanita itu lakukan.
Hal itu membuat Eza penasaran dengan perubahan sikap dari model pendampingnya.
*
Peluncuran iklan, Raisa juga hadir tanpa dihadiri papanya. Wanita itu memilih berdiri jauh dari model brand ambassador perusahaannya.
Tepukan meriah saat video iklan di tampilkan di layar besar di sebuah ruangan luas yang memang disediakan untuk acara yang menampung banyak orang.
Kata sambutan hanya diwakilkan oleh dewan direksi yang lainnya. Hal itu menambah rasa curiga dan penasaran Eza semakin besar.
__ADS_1
"Nona Raisa akhir-akhir ini sangat berbeda, lebih banyak diam daripada berbicara," ungkap Lita.
"Biarkan saja, bukankah itu lebih baik?" ucap Eza berbohong.
"Kau tidak penasaran, kenapa dia bisa begitu?" tanya Lita.
"Tidak," jawabnya.
Begitu ditampilkan acara musik, Raisa memilih meninggalkan ruangan tersebut. Eza pun mengikutinya.
Raisa tahu seseorang mengikutinya segera menoleh, setelah tahu ia membuang wajahnya dan berjalan cepat.
Eza mempercepat langkahnya, "Raisa!"
"Panggil Nona Raisa, aku di sini atasanmu!" tanpa menatap.
"Baiklah, Nona Raisa. Anda kenapa?"
Raisa berhenti lalu menatap Eza. "Apa kau perlu tahu urusan atasanmu?"
"Tidak juga."
"Kau di sini bekerja bukan mengurus urusanku!"
"Baiklah, saya minta maaf!" ucap Eza.
Tak ada ucapan lagi yang ingin ia sampaikan, Raisa melanjutkan langkahnya.
Eza mengikuti Raisa sampai ke parkiran, pria yang ada di kafe menyapa Raisa dan membuka pintunya.
"Apa pria itu alasan dia berubah?" batin Eza bertanya.
__ADS_1