
Seluruh karyawan bersiap menyambut kedatangan Presdir baru di perusahaan tempat mereka bekerja.
Yuno, berdiri paling depan untuk menyambut atasannya itu. Sejak Hilman pensiun dialah menggantikan posisi menjadi sekretaris Presdir. Pekerjaannya ini sudah dijalaninya selama 3 bulan.
Mobil berwarna hitam dan mewah tiba di pintu utama gedung. Seorang penjaga keamanan membuka pintu untuk dua atasannya.
Ya, Devan Artama dan Darren Artama turun bersamaan. Yuno bergegas meraih tas yang dibawa oleh suami Clarissa itu.
"Selamat datang, Presdir baru!" Sapa seluruh karyawan dengan sedikit menunduk.
Darren hanya tersenyum.
"Yuno yang akan menjelaskan semuanya kepadamu," Devan berkata sambil berjalan ke ruangannya.
"Pa, kita di ruangan yang sama?"
"Ya, agar Papa bisa mengawasi kinerjamu," jawabnya.
Sementara itu di lain kota seorang wanita baru saja bangun tidur, ia terburu-buru membersihkan tubuhnya.
Begitu selesai ia berlari ke arah meja makan meraih segelas susu sambil mengunyah roti isi selai strawberry yang tersedia.
"Kau mau kemana?" Tanya Elisa.
"Aku ingin melamar pekerjaan di Arta Fashion," jawabnya.
"Itu sangat jauh dari sini, nanti kamu akan tinggal di mana?"
"Aku akan menyewa kamar, Bu."
"Ibu tidak mengizinkanmu sendirian di sana," Elisa melarang.
__ADS_1
"Bu, Arta Fashion adalah perusahaan besar. Bukankah Ibu sangat mengidolakan artis Clarissa Ayumi?"
"Apa hubungannya dengannya?"
"Clarissa Ayumi itu istri pemilik Arta Fashion, pasti dia akan datang mengunjungi perusahaannya. Aku bisa minta foto dirinya, lalu ku tunjukkan kepada Ibu," jelasnya.
"Kamu benar juga," ujar Elisa.
"Makanya izinkan aku ke sana, ya!" Mohonnya.
"Kalau begitu, pergilah!" Elisa memberi izin.
Gadis itu pun pergi membawa tas ransel, rencananya sementara dia akan menginap di rumah temannya untuk semalam saja.
Perjalanan menuju Kota A membutuhkan waktu sejam menggunakan transportasi kereta api.
Begitu sampai, ia melihat arlojinya menunjukkan pukul 11 siang. Dia berlari cepat agar tidak terlambat.
"Nona, tolong saya beri kesempatan," ucapnya memohon.
"Maaf, seluruh berkas lamaran sudah diterima dan sedang diseleksi. Lain waktu saja Nona kemari jika Arta Fashion kembali membuka lowongan," jelas karyawan resepsionis.
Gadis itu menghela nafasnya, impiannya masuk ke Arta Fashion gagal. Ia berjalan keluar gedung dengan langkah gontai. Ia duduk di pinggir jalan, sembari menghapus air matanya yang menetes.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan kepada Ibu?" Batinnya bertanya.
"Sebaiknya aku pulang dan mengatakan sejujurnya kepada Ibu," ucapnya pada diri sendiri.
Dengan berjalan kaki menuju stasiun kereta api, ia menggenggam sebotol air mineral di tangan kanannya. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, duduk di bangku yang tersedia di trotoar.
Dengan perasaan kesal, marah dan sedih ia melempar botol kosong ke jalanan tanpa ia sadari mengenai mobil salah satu pengguna jalan.
__ADS_1
Mobil itu pun berhenti seketika dan pengemudinya pun turun.
"Hei, Nona. Bisakah anda membuang sampah pada tempatnya?"
Gadis tersebut tak menghiraukan pertanyaan sang pria.
"Hei, aku bicara padamu. Apa kau mendengar ku?"
"Tuan, jangan ganggu aku. Kau tidak tahu, diriku sedang sedih," ia menutup wajahnya sambil menangis.
"Kalau menangis jangan di sini!"
"Anda kalau mengomel, jangan di sini juga!"
"Botol yang kau buang itu mengenai mobilku," ujarnya.
"Tapi tidak ada yang rusak, kan?" Tanya gadis itu polos.
"Kau sudah mengganggu konsentrasi menyetir ku, Nona!"
"Kau sangat cerewet, Tuan. Mobil anda tidak lecet dan tidak rusak, lalu aku harus tanggung jawab apa?" Gadis itu berdiri dari bangkunya.
"Kau harus minta maaf!"
"Ya sudah, aku minta maaf. Sudah sana pergi!" Usirnya. "Kau mengganggu ku saja!" Lanjutnya.
Devan menurunkan kaca jendela mobil lalu memanggil, "Darren!"
"Sebentar, Pa!" Teriaknya. Lalu menatap gadis, "Jangan sampai aku bertemu denganmu!" Menekankan kata-katanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Mampir Ya ...😁