
"Devan....!" Teriak Clarissa kesal.
"Ada apa?" Yuna tampak panik begitu juga dengan Tina.
"Lihatlah dia memberikan aku bunga kaktus," ucap Clarissa jengkel.
Tina dan Yuna tertawa bersama melihat hadiah dari Presdir kepada Clarissa.
"Menyebalkan sekali dia!" Clarissa mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kakinya.
"Memang Presdir pria yang aneh," ucap Tina.
"Letakkan saja bunga itu di sana!" Yuna menunjuk balkon apartemen.
Clarissa pun meletakkan bunga di tempat itu. "Kalau sudah besar, aku balikkan kau kepada pemiliknya," ia berbicara pada tanamannya.
"Jangan lupa di siram," ledek Tina.
"Biar cinta kalian tumbuh lagi," sahut Yuna mengejek.
Clarissa berdecak kesal ia pun pergi ke kamarnya.
......................
Jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi, Clarissa dan kedua temannya bersiap akan pergi ke lokasi syuting di daerah pantai tak jauh dari Kota A.
Sebelum berangkat ketiganya sarapan bersama. Baru akan menyantap ikan panggang, Bel pintu berbunyi, membuat mereka saling memandang.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya Clarissa.
"Biar aku saja yang buka," tawar Tina. Ia pun bangkit dari kursinya dan membuka pintu tak lama ia kembali bergabung di meja makan lalu menyerahkan kotak sedang pada Clarissa.
"Untukku?" Yang di beri malah bertanya.
"Ya, dari Presdir," jawab Tina.
"Cepat buka!" Yuna begitu penasaran.
__ADS_1
Clarissa membuka kotak tersebut dengan hati-hati lalu mengintipnya seketika wajahnya menjadi cemberut.
"Pasti sesuatu yang aneh," tebak Tina.
Clarissa mengangkat pot bunga dari kotak tersebut dan menunjukkan kepada kedua temannya tak lama mereka tertawa.
Ya, pagi ini Devan mengirimkan bunga sukulen green rose dalam pot kecil.
"Sepertinya Presdir ingin kau merawat tanaman," ucap Tina membuat Yuna mengulum senyum.
"Mau itu orang apa, sih?" tanya Clarissa kesal.
"Mungkin Presdir ingin memberikan sesuatu kepadamu yang sedikit unik dan berbeda," tebak Tina.
"Bisa jadi," sahut Yuna.
Clarissa berjalan ke balkon lalu meletakkan bunga itu di samping bunga kaktus yang datang kemarin sore.
-
"Apa kau sudah tahu jadwal Clarissa hari ini pergi ke mana?" tanya Devan.
"Nona Clarissa akan pergi ke pantai, ada syuting iklan di sana," jelas Hilman.
"Kita ke sana sekarang," perintahnya.
"Sekarang, Tuan? Mau apa kita ke sana?" Hilman bertanya heran.
"Aku ingin melihat Clarissa bekerja," jawab Devan santai.
"Jadi pekerjaan kita ini, bagaimana?"
"Biarkan saja, hari ini tidak ada rapat 'kan?" Devan balik bertanya.
"Tidak, Tuan."
"Ayo, kita ke sana!" ajak Devan bergegas menuju parkiran, ia menyerahkan kunci pada sekretarisnya itu.
__ADS_1
"Tuan, ini jam sibuk kantor. Bagaimana jika Nyonya besar datang?" Hilman bertanya sambil melihat kaca spion dalam mobil.
"Katakan padanya kita ada urusan pekerjaan di luar," Devan memberikan alasan.
"Baiklah, Tuan." Hilman hanya bisa menuruti perintah atasannya itu.
Hampir dua jam perjalanan, keduanya tiba di pantai. Informasi tentang jadwal Clarissa mereka dapat dari sopir pribadi sang artis.
Devan mengedarkan pandangannya mencari kerumunan orang yang melakukan syuting, sebelum mendekatinya ia tak lupa memakai masker, topi, jaket dan menyemprotkan hand sanitizer di telapak tangannya.
Deva melihat dari jarak jauh Clarissa yang mengikuti arahan sutradara, wanita itu berdiri di dekat pinggiran pantai. Ombak menyapu Clarissa hingga ia terjatuh dengan reflek Devan ingin mendekat namun tangan Hilman menariknya.
"Jangan buat gaduh, Tuan. Jika tak ingin Nona Clarissa marah pada anda!" Hilman berbicara pelan dan Devan mengikuti ucapan sekretarisnya itu.
Clarissa berdiri di bantu para kru, ia kembali melakukan aktingnya karena gaun yang cukup panjang membuatnya sedikit kewalahan beruntung ia berhasil mengatasinya.
Istirahat syuting, Tina berbisik pada Clarissa. "Presdir di sini!"
Dengan cepat Clarissa mengedarkan pandangannya, "Di mana dia?"
Tina menunjuk orang yang dimaksud.
"Untuk apa mereka ke sini?" Clarissa bertanya tapi matanya fokus pada pria yang gagal menjadi suaminya.
"Tentunya untuk melihat kau," celetuk Tina.
Hilman yang tahu, Clarissa dan Tina melihatnya lantas berkata. "Nona Clarissa tahu anda di sini!"
Devan mengikuti pandangannya menatap Clarissa dari jarak jauh dan wanita itu tersenyum.
"Apa kita hampiri saja, Tuan?" usul Hilman.
"Tidak, kita pulang saja!"
"Tapi kita sudah di sini, kenapa tidak di hampiri?"
"Aku sudah puas dan senang melihatnya baik- baik saja walau dari jarak jauh," Devan berlalu menuju mobilnya.
__ADS_1