Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Penjelasan Claudia


__ADS_3

Pagi ini Claudia mengajak Devan bertemu di sebuah kafe dekat Arta Fashion dan pria itu menyetujuinya.


"Ada sesuatu yang ingin Tante jelaskan kepadamu," ucap Claudia menatap pria muda yang terlihat angkuh dan dingin.


"Ayah Clarissa terpaksa melakukan itu karena terjerat hutang dengan seorang wanita. Ya, dia yang selalu menawarkan pinjaman. Kebetulan saat itu usaha jual beli mobil yang kami rintis mengalami penurunan dan perlu bantuan." Claudia mulai berbicara.


"Ditambah lagi, kami harus ditipu. Dua mobil dibawa kabur orang tak bertanggung jawab. Martha, Ibunya Nikita mantan kekasih Papamu yang menawarkan pinjaman itu. Kami pikir dia baik, ternyata dia memanfaatkan ayah Clarissa untuk memberi pelajaran kepada kedua orang tuamu dengan menculik dirimu."


Claudia menarik nafas perlahan lalu membuangnya, tangannya mengelap sudut matanya yang mulai basah. "Ayah Clarissa, Martha dan Marissa adalah teman sekolah dasar. Tante tidak terlalu mengenal kedua orang tuamu. Ide penculikan itu juga dari Martha, kami di desak untuk membayar utang beserta bunganya."


"Tante menolak ide wanita itu, tapi ayah Clarissa bersikeras. Dia menyuruh kami pergi dari rumah dan menjauh, agar istri dan anaknya tidak terseret dalam kasus penculikan itu."


"Kenapa Tante tidak langsung menyerahkan aku pada orang tuaku?" Devan mulai bertanya.


"Tante tak mau kedua orang tuamu salah paham. Saat kamu mengatakan putra Vandi dan Marissa, Tante bergegas ke rumah kalian dan mengatakan kepada penjaga keamanan."


"Kenapa Tante meninggalkan aku pingsan seorang diri di Danau Pelangi?"


Claudia mencoba menahan air matanya. "Karena Tante yakin orang tuamu akan datang, saat Clarissa mengatakan kamu terjatuh karena di dorong seseorang. Tante kembali melihatmu dari jarak jauh, dan saat itu Tante bersyukur kamu ditemukan oleh orang tuamu."

__ADS_1


"Kedua orang tuamu memaafkan ayah Clarissa karena mereka tahu jika dia melakukan itu karena terpaksa dan desakan dari Martha."


"Dan hal itu tidak diberi tahu kepada keluarga besar kamu."


Suara ponsel menghentikan obrolan mereka. Claudia menjawab panggilan tersebut. "Sebentar lagi, Ibu akan ke sana!" lalu menutup teleponnya.


Claudia kembali menatap Devan. "Clarissa melarang untuk datang bertemu denganmu. Tante kira semua ini harus di jelaskan."


"Karena kesalahan yang kami lakukan, Clarissa harus menanggung semuanya. Dia putri kami yang hebat, dia gadis pekerja keras, periang dan kuat. Beberapa tahun ia bekerja keras untuk membayar utang ayahnya. Kami terpaksa berutang dengan orang lain agar bisa menutupi utang kepada Martha."


"Tapi kenapa Tante bercerai dengan Paman di saat susah begitu?"


"Ayah Clarissa yang meninggalkan Tante setelah kejadian itu karena dia menganggap dirinya tak bisa bertanggung jawab dan bukan suami yang baik. Hingga akhirnya saat Clarissa berusia 11 tahun, Tante menikah dengan Papanya Raya."


Sementara itu Devan yang mendengarnya, matanya tampak berkaca-kaca ia berusaha agar air matanya tak tumpah.


"Tante harus ke bandara, hari ini Clarissa akan ke Jepang. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya, sekali lagi maafkan kesalahan kami yang lalu." Claudia bangkit dari tempat duduknya dan berlalu.


"Ke Jepang?" batin Devan bertanya. Ia mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan kafe.

__ADS_1


-


Setengah jam kemudian, Claudia sampai di bandara. Sesampainya di sana, ia memeluk putrinya.


"Ibu dari mana saja?" tanya Clarissa.


"Ada urusan sebentar dengan teman," jawabnya berbohong dan melepaskan pelukannya.


"Ibu, aku berangkat. Jaga kesehatanmu, karena aku cuma punya dirimu," ucap Clarissa dengan wajah sendunya.


"Ya, sesampainya di sana jangan lupa kabarin Ibu," ujar Claudia.


"Tentunya, Bu!" Clarissa memeluk tubuh Claudia lagi.


"Tolong, jaga putriku ini!" pintanya pada Yuna dan Tina.


"Baik, Tante. Tenang saja!" ucap Yuna.


"Kalau begitu kami pergi, Tante!" Tina memeluk Claudia begitu juga dengan Yuna. Ketiganya berjalan menuju pesawat.

__ADS_1


Claudia menatap kejauhan sambil melambaikan tangannya kepada Clarissa yang membalikkan badannya.


Sepasang bola mata menatap nanar punggung Clarissa, ingin memeluknya namun tak bisa. Semua sudah terlambat.


__ADS_2