Mengejar Cinta Si Tampan

Mengejar Cinta Si Tampan
Mulai Perhatian


__ADS_3

Pengendara motor tersebut menghentikan kendaraannya lalu ia turun menghampiri Devan dan Clarissa.


"Maafkan saya, Nona. Anda tidak apa-apa?" tanya pengendara motor.


"Kenapa kau tidak hati-hati?" tanya Devan marah pada pengendara motor sambil membantu Clarissa berdiri.


"Maafkan saya, Tuan!" jawabnya lagi.


"Saya tidak apa-apa, kau bisa pergi!" ucap Clarissa.


"Terima kasih, Nona. Sekali lagi saya minta maaf, permisi!" pamitnya.


"Kenapa kau malah menyuruhnya pergi?" tanya Devan.


"Dia 'kan sudah minta maaf, lagian aku juga tidak apa-apa. Cuma ..." Clarissa melihat makanannya sudah berserakan.


"Nanti kita beli lagi!" Devan berjalan ke mobilnya.


Di dalam mobil Clarissa meniup telapak tangannya yang memerah.


Devan mengambil tisu basah yang tersedia di dalam mobilnya. Ia meraih tangan Clarissa, mengelap siku dan telapak tangan wanita itu menggunakan tisu basah dengan lembut. Setelah itu ia merekatkan plester luka.


"Terima kasih!" ucap Clarissa tersenyum gugup.


"Kenapa kau menyelamatkanku?" tanya Devan.


"Aku melakukannya tanpa sadar," jawab Clarissa asal.


"Terima kasih!" ucap Devan menghidupkan mesin mobilnya.


Clarissa mendelikkan matanya tak percaya, pria yang ada bersamanya mengucapkan terima kasih.


Devan mengendarai mobilnya menuju apartemen Clarissa di tengah perjalanan ia menghentikan kendaraannya di sebuah restoran cepat saji. "Beli di sini saja mau?" tawar pria itu.


Clarissa mengangguk.


"Tunggulah di sini, biar aku yang beli!" Devan memakai masker, topi dan tak lupa ia menyemprotkan hand sanitizer di tangan.


"Ribet banget, ya!" sindir Clarissa.


Devan tak menggubrisnya, ia turun dari mobilnya dan ikut mengantri membeli makanan.


Sepuluh menit kemudian, Devan membawa 6 kotak makanan siap saji lalu ia berikan pada Clarissa.


"Banyak sekali, kau ingin membuatku gendut!" protes Clarissa.


"Jangan banyak protes, kata Rey kau makan banyak sekali!" ucap Devan.


Perkataan Devan membuat Clarissa teringat makan malam kedua dirinya dan Rey. Ia memakan semua makanan yang di pesan. Lalu ia tersenyum nyengir menatap Presdir Arta Fashion itu. "Aku makan banyak juga karena terpaksa!"


"Terpaksa?"


"Makan malam itu karena undangan dirimu yang telah membohongi ku," jawab Clarissa.


"Jadi, kau melampiaskannya dengan makan yang banyak begitu?" Devan menyalakan mesin mobilnya kembali.


"Ya," jawab Clarissa.


"Kau sangat lucu!" puji Devan menyunggingkan senyumnya.


Apartemen Clarissa

__ADS_1


"Banyak sekali kau membelinya?" tanya Yuna.


"Presdir yang beli ini semua," jawab Clarissa.


"Banyak sekali!" ucap Tina.


"Jangan banyak bicara, kalian duduklah. Kita makan bersama!" Clarissa menarik kursi dan duduk, lalu ia membuka kotak makanan itu dan melahapnya.


"Tunggu!" Tina melihat siku dan telapak tangan Clarissa. "Kenapa bisa begini?" tanyanya memegang tangan temannya.


"Iya, Rissa. Kau habis jatuh?" Yuna juga bertanya.


"Tadi ada motor yang hampir menabrak Presdir, jadi aku spontan narik dia akhirnya ya' begini!" jelas Clarissa.


"Bukankah kau bilang makan siang di restoran bareng Presdir?" tanya Yuna.


"Ya, harusnya. Tapi pelayan restoran sudah menyiapkan makanan khusus untuknya. Jadi aku minta bungkus saja. Eh, tahunya ada motor ngebut di halaman parkir restoran," ungkapnya.


"Jadi makanan dari restoran itu tumpah?" tanya Tina.


"Iya, makanya Presdir menggantinya dengan makanan ini," jawab Clarissa. "Asal kalian tahu siapa yang balut luka ku dan mengantri makan ini?" tanyanya pada kedua temannya.


Kedua menggelengkan kepalanya.


"Semua Presdir yang lakukan!" Clarissa tersenyum bangga.


"Hah!" kedua temannya tidak percaya


"Masa sih' Presdir yang pembersih mau bersihkan lukamu?" tanya Yuna.


"Dan mengantri makanan," sambung Tina.


"Dia sebenarnya suka denganku tapi malu mengakuinya," Clarissa terlalu percaya diri.


Sementara itu Raya, diutus papanya untuk menemui investor di sebuah hotel ternama di kota A. Ia menelepon Clarissa untuk menemaninya.


Clarissa mengiyakan permintaan saudara tirinya itu untuk menemaninya bertemu dengan calon investor tersebut karena Claudia ikut memohon.


Sore harinya, mereka bertemu di lobi hotel tempat yang dijanjikan. "Kau lama sekali!" protes Raya pada saudara tirinya.


"Aku baru saja selesai syuting dan ini ku usahain agar bisa menemanimu!" tutur Clarissa. "Lagian, dia juga belum datang," lanjutnya lagi.


Mereka berdua akhirnya menunggu di restoran hotel, tak lama kemudian calon investor yang akan bekerja sama dengan perusahaan Raya datang.


"Selamat sore, Tuan Hiko!" sapa Raya tersenyum mengulurkan tangannya.


"Sore juga, Nona Raya!" Hiko meraih tangan wanita yang ada di depannya. Setelah itu ia menoleh ke arah Clarissa.


"Sore, Tuan!" sapa Clarissa ramah mengulurkan tangannya juga.


"Anda Clarissa?" Hiko menyambut tangan itu dan menggenggamnya cukup lama.


"Ya," jawab Clarissa.


"Ternyata anda lebih cantik dari pada di layar kaca," ucap Hiko menggoda.


"Terima kasih pujiannya," Clarissa tersenyum tipis.


"Eheem..." suara berdehem Raya membuat Hiko melepaskan genggamannya.


"Silahkan duduk!" ucap Hiko.

__ADS_1


Raya menjelaskan tentang tawaran kerja dengan Hiko, namun pria itu sesekali melirik Clarissa yang juga ikut menyimak pembicaraan saudara tirinya.


Hampir satu jam obrolan yang mereka lakukan dengan cepat Hiko mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Ardian hal itu membuat Raya senang. Mereka akan membangun wahana permainan di Kota C.


"Terima kasih, Tuan Hiko mau berinvestasi di perusahaan kami," ucap Raya dengan senang.


"Sama-sama, Nona!" ujar Hiko.


"Semoga kerja sama kita lancar dan berhasil!" Raya berharap.


"Semoga saja!" Hiko melirik Clarissa. "Saya berharap kita bisa bertemu lagi Nona Clarissa!" ia tersenyum pada wanita itu.


"Ya," Clarissa berusaha memberikan senyum hangatnya.


"Kalau begitu, kami pamit!" ucap Hiko di ikuti asistennya juga.


"Iya, Tuan. Sampai jumpa!" ucap Clarissa.


Setelah Hiko dan asistennya pergi, Raya tersenyum sinis menatap Clarissa. "Ternyata daya tarik yang kau miliki begitu kuat sama seperti Ibumu!" sindirnya.


"Maksudnya apa?" Clarissa menyipitkan matanya.


"Dalam waktu tak sampai sejam, dia sudah setuju ingin berinvestasi di perusahaan papa hanya karena melihatmu," jawab Raya.


"Itu hanya kebetulan saja, mungkin dia berpikir kalau berinvestasi di perusahaan milik Paman Ardian cukup menjanjikan," Clarissa memberikan alasan.


"Semoga saja pikiran dia begitu," Raya tersenyum menyindir.


"Aku mau pulang, kau mau tidur di apartemen ku atau di hotel?" tanya Clarissa.


"Aku di sini saja, apartemen milikmu sempit!" jawab Raya.


"Ya, sudah kalau begitu. Aku permisi!" pamitnya. Ia pun meninggalkan Raya.


Sesampainya di parkiran mobil, Clarissa kembali bertemu dengan Hiko. Pria muda yang ditaksir usianya hampir sama dengan Devan menghampiri dirinya.


"Nona Clarissa!" sapanya.


"Tuan, ada apa?" tanya Clarissa.


"Bolehkah saya kenal lebih dekat dengan anda?"


"Tuan, ingin berkerja sama dengan saya juga?" tanya Clarissa.


"Ya," jawab Hiko asal.


Clarissa mengambil sesuatu dari tas miliknya. "Ini kartu nama saya dan manajer, jika anda ingin bekerja sama bisa menghubungi keduanya!" ia menyodorkan dua kartu.


"Oh, ya!" Hiko menerima dua kartu.


"Kalau begitu saya permisi, Tuan!" Clarissa menundukkan sedikit kepalanya.


"Ya, hati-hati!" ucap Hiko.


Clarissa menjawabnya dengan tersenyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Selamat Menjalankan Ibadah Puasa...


...Dan...

__ADS_1


...Selamat Membaca 🌹...


__ADS_2